My Dandelion'S

My Dandelion'S
rekaman cctv



Rate 18+


Kantor sunshine group, Gerald dan Rendi tengah mengecek rekaman cctv milik apartemen Cempaka.


Wajah keduanya terlihat begitu serius. Akan tetapi, saat Rendi melihat sebuah rekaman di bagian lobby. Rendi langsung menatap bosnya sambil menutup mulut dengan tangannya.


Gerald melirik Rendi sekilas, tanpa berkata apa pun.


"Tuan, apa itu benar-benar anda?" tanya Rendi, yang tak menyangka jika bosnya sangat berani melakukan hal itu di hadapan umum.


Gerald tak menanggapi pertanyaan sekretarisnya, ia hanya terfokus pada layar laptop di hadapannya.


"Pantas saja, anda begitu tertarik pada wanita yang sudah bersuami. Rupanya dia telah mencuri ci*uman pertama anda," ujar Rendy sambil terkekeh.


Pletak…


Gerald memukul kepala Rendi, agar pria itu berhenti berbicara omong kosong.


"Astaga, Tuan. Aku hanya bercanda," sangkal Rendi mengusap kepalanya yang sakit.


"Fokus pada pekerjaan, jika kau tidak menemukan sesuatu gaji mu akan aku potong," ancam Gerald. Pria itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju jendela sambil menyesap kopinya yang mulai dingin.


Sambil menatap gedung-gedung yang ada di seberang jalan, Gerald tiba-tiba saja teringat akan kejadian tempo hari di apartemen Cempaka. 


Bayangan ketika Valerie mencium bibirnya tergambar dengan jelas, bahkan kehangatan bibir ranum itu seolah masih terasa oleh Gerald.


"Kau harus jadi milikku, Nona Valerie. Bagaimanapun caranya aku harus bisa membuatmu berpisah dengan suamimu itu," gumam batin Gerald, pria dengan postur tubuh tegap itu menyunggingkan sudut bibirnya.


"Tuan, aku menemukan sesuatu," teriak Rendi memanggil bosnya yang sedang asik membayangkan wajah cantik Valerie. 


Karena Gerald tak kunjung menjawab, Rendi kembali berteriak membuat pria itu terkejut dan menyemburkan kopi yang ada dalam mulutnya.


Melihat bosnya yang terkejut, Rendi hanya menatapnya beberapa saat tanpa ekspresi kemudian ia kembali fokus pada laptopnya.


Sementara Gerald yang terlihat kesal setelah di kejutkan, membuka jasnya dan melemparkannya ke arah Rendi.


"Hehehe maaf, Tuan," ucap Rendi gugup.


"Maaf-maaf, sudah berani kau ya berteriak padaku."


"Tuan, sebaiknya simpan dulu amarah mu. Dan lihat apa yang aku temukan," ujar Rendi. Menunjukkan rekaman cctv yang berhasil Rendi temukan secara utuh.


Disana terlihat Valerie sedang memunguti pakaian, memasukannya ke dalam mesin cuci serta beberapa bungkus deterjen berukuran besar.


Lalu Valerie menyalakan kompor tanpa mematikannya … Gerald juga melihat saat Valerie menyaksikan suaminya beradegan panas bersama wanita lain. 


Awalnya Gerald mengira jika akan terjadi keributan saling menjambak dan memukul diantara ketiganya. Tapi, perkiraan Gerald salah. Jangankan adegan kekerasan, nada tinggi saat berbicara saja nyaris tak dapat di dengar oleh telinga Gerald dan Rendi. 


Kedua pria itu terlihat kagum dengan apa yang di lakukan oleh Valerie, meskipun dalam keadaan emosi. Wanita itu masih terlihat tenang dan santai. 


Bahkan di akhir video, keduanya begitu terpukau saat melihat Valerie mengenakan kacamata hitam dan melenggang pergi meninggalkan kamar persis seperti adegan dalam drama. 



"Wah, Nona Valerie benar-benar keren. Jika aku jadi Nona Valerie aku akan menghabisi suami dan selingkuhannya detik itu juga," ujar Rendi ikut gemas pada suami Valerie yang terpergok selingkuh. 


"Wanita itu benar-benar menakjubkan … pindahkan rekaman itu ke ponselmu dan ayo datangi butik Valerie," titah Gerald pada sekertarisnya.


Rendi mengangguk, dan mengerjakan tugasnya. Setelah semuanya selesai, mereka pun bergegas menuju butik milik Valerie.


"Tapi, Tuan. Baju anda." Rendi menujuk kemeja Gerald yang kotor terkena air kopi. 


"Biarkan saja, bukankah ini bisa di jadikan alasan kenapa kita datang kesana," jawab Gerald yang menambahkan ampas kopi ke bajunya.


"Anda sangat cerdas, Tuan," pungkas Rendi sambil tertawa. 


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, Gerald dan Rendi akhirnya sampai di depan butik milik Valerie.


Sebuah keberuntungan bagi Gerald, karena begitu Gerald turun ia sudah melihat Valerie sedang berada di depan butik. Wanita itu tampak mengantar seorang tamu wanita menuju mobilnya.


"Hai, Baby," sapa Gerald pada wanita yang sedang melambaikan tangannya, kearah mobil berwarna putih.


"Kau lagi!" pekik Valerie, raut wajahnya yang cerah kini berubah menjadi masam setelah melihat pria yang dianggapnya sebagai hama pengganggu. 


Valerie terkekeh, lalu mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar. "Tidak!" jawab Valerie singkat, ia pun pergi meninggalkan Gerald begitu saja. 


"Hey, tunggu!" Gerald mengejar Valerie sampai ke dalam butik.


"Apa lagi?" Valerie terlihat sangat kesal pada Gerald yang terus mengikutinya.


"Baby, apa kau tidak lihat kemejaku kotor?" 


"Terus, hubungannya denganku apa?" ketus Valerie sebal.


"Aku, mau kau membersihkannya," titah Gerald dengan santai. 


"Apa?" pekik Valerie, tak mengerti dengan apa yang ada di pikiran pria itu.


"Baby, apa perkataan ku kurang jelas? Aku minta kau membersihkan kemeja ku ini." Gerald mengulangi ucapannya kembali.


"Tuan, sepertinya anda salah alamat … ini butik tempat merancang busana bukan laundry. Jika anda ingin mencuci baju, sebaiknya anda pergi ke toko sebelah," jawab Valerie, sambil menunjuk ruko laundry di samping butiknya.


"Tadinya aku ingin pergi kesana tapi, laundry nya tutup," bisik Gerald. Sambil tersenyum memamerkan deretan giginya.


"Anda jangan berbohong, Tuan. Saya baru saja dari sana laundry itu buka kok."


"Hem, kalau kau tidak percaya. Cek saja sendiri." Gerald berjalan menuju sofa dan menjatuhkan dirinya di sofa tersebut. 


Valerie memutar bola matanya ke sembarang arah, ia pun pergi ke luar untuk membuktikan jika laundry itu tidak tutup.


Dan beberapa menit kemudian, Valerie kembali sambil menekuk wajahnya. Ia merasa aneh belum setengah jam dirinya mengantar pakaian kotor ke laundry, sekarang kenapa mendadak tempat itu tutup. 


Ia jadi curiga, jika laundry itu tutup pasti karena ulah Gerald yang memintanya untuk tutup lebih cepat agar dia bisa mengerjai dirinya.


"Benarkan, apa yang aku bilang jika laundry itu tutup," seru Gerald tersenyum penuh kemenangan.


Pria itu melonggarkan dasinya lalu, membuka kancing kemejanya di hadapan Valerie tanpa ada rasa malu.


Valerie yang kaget saat melihat Gerald membuka baju, spontan langsung membalikan badannya kebelakang.


"Yak, apa yang kau lakukan?" 


"Baby, bukankah tadi aku menyuruhmu untuk membersihkan bajuku … jadi aku membuka baju ini agar kau lebih mudah mencucinya," jelas Gerald membuka kancing bagian tangannya.


"Astaga, dasar pria gila! Tapi, aku tidak mau mencuci baju mu," tolak Valerie. Ia sudah terlihat begitu geram dengan sikap Gerald yang menyebalkan. 


"Kau yakin tidak mau mencuci bajuku?" 


"Aku sangat-sangat yakin, dan cepatlah pergi dari sini, Tuan." 


"Baiklah. Tapi, kau jangan menyesal jika besok ada polisi yang akan menangkap mu atas tuduhan kau telah membakar apartemen itu."


"Aku tidak takut, lagi pula di cctv itu tidak ada bukti jika aku yang melakukannya," elak Valerie dengan suara yang lantang.


"Benarkah? Lalu, jika bukan kau siapa wanita yang sedang menyalakan kompor ini." Gerald membuka ponselnya dan kembali memutar rekaman cctv apartemen Cempaka.


Valerie mundur beberapa langkah, tanpa menoleh ia mengulurkan tangannya pada Gerald untuk melihat rekaman tersebut.


Ketika melihat video itu, manik mata Valerie seketika membulat dengan sempurna. "Ya ampun, bagaimana bisa dia memiliki rekaman cctv ini … aku harus menghapusnya."


"Percuma saja kau menghapusnya, Baby. Aku menyimpan banyak salinan rekaman itu," sahut Gerald, sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.


"Hais, dasar pria menyebalkan." Valerie mengetatkan giginya kesal. Entah dosa apa yang telah ia lakukan, sehingga dirinya bisa bertemu dengan pria tidak waras seperti Gerald. 


 


.


.


.


Bersambung.