
"Apa yang terjadi selama aku pergi?" tanya Gerald pada para pelayannya yang sedang berbaris dengan kepala tertunduk.
"Tidak ada yang terjadi, Tuan," jawab kepala pelayan.
"Benarkah?" Gerald menatap sinis pada mantan pelayan wardrobe nya.
Kedua pelayan itu terdiam, karena mereka juga tidak tahu apa-apa.
"Benar, Tuan."
"Kalian boleh pergi."
Mereka membungkuk sopan pada sang pemilik rumah dan kembali mengerjakan tugasnya masing-masing.
Jika tidak ada yang terjadi, kenapa istrinya bisa berubah drastis seperti itu? Gerald bukan tidak senang dengan perubahan sikap Valerie yang sekarang. Hanya saja ia heran, istrinya adalah tipe wanita keras kepala yang sulit untuk ditaklukan dan kini dia tiba-tiba berubah menjadi wanita yang seolah mencintainya.
Dibalik perubahan sikapnya, pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Valerie. Begitulah pemikiran Gerald saat ini, dia jadi ingat jika hari ini istrinya akan bertemu dengan client pria.
"Apa jangan-jangan?" mode cemburu Gerald mulai on, dia bergegas berganti baju dan mengajak sopirnya untuk menyusul Valerie.
🌸🌸🌸🌸
Krusty resto.
Valerie menghampiri salah satu meja, dan menyapanya dengan sopan.
"Selamat pagi, Pak Sean."
"Selamat pagi, mbak Valerie ya … silahkan duduk," ujar pria yang memiliki paras bule. Ia juga menarikan kursi untuk Valerie.
"Terimakasih." Valerie tersenyum dan mendaratkan bokongnya di atas kursi.
Setelah perkenalan, Valerie mulai membicarakan soal pekerjaan di antara mereka. Pembawaan Sean yang humble dan santai membuat Valerie merasa nyaman dalam berkomunikasi bersama pria muda yang bisa ia tebak seumuran dengannya atau mungkin di bawah Valerie.
Permasalahan pekerjaan telah usai, desain dan jenis bahan kain yang akan digunakan telah ditentukan, pembayaran di awal juga sudah dilakukan oleh Sean. Valerie pun hendak berpamitan pada clientnya.
Namun, Sean mencegahnya karena sudah memesankan makanan untuk Valerie. Karena tak ingin disangka tidak sopan, Valerie pun terpaksa menerima niat baik Sean padanya.
Sembari makan keduanya pun berbincang mengenai pekerjaan masing-masing, saat sedang asik mengobrol. Manik mata Sean tak sengaja melihat bulu kecil di kepala Valerie sehingga tangannya refleks untuk menyentuh kepala wanita anggun yang ada di hadapannya.
Valerie yang kaget langsung memundurkan kepalanya.
"Maaf, mbak. Saya hanya ingin mengambil ini." Sean memperlihatkan bulu ayam halus itu pada Valerie yang entah dari mana bulu itu datang.
"Terimakasih," ucap Valerie gugup, ia pun melanjutkan makannya.
Sean mengangguk, dan meminum jus mangganya kembali.
Di seberang meja yang sedang ditempati oleh Valerie dan terhalang oleh penghalang kaca. seorang pria terlihat bersembunyi di balik buku menu restoran yang berwarna maroon.
Pria itu terus memperhatikan Valerie dan rekan kerjanya yang sedang mengobrol, sesekali ia terdengar mengumpat karena kesal dengan sikap pria yang ada di samping istrinya.
"Dasar, kurang ajar. Berani sekali dia menatap istriku seperti itu!" gumamnya sebal. "Sekarang mau apa lagi pria brengsek itu? Aish, pria itu benar-benar akan kupatahkan tanganmu karena berani menyentuh istriku. Dasar pria buaya, alasan pesan seragam padahal mau merayu. Awas saja kau!" Gerald hendak menghampiri istrinya akan tetapi, seorang wanita cantik nan seksi tiba-tiba menghampiri dan menyapanya dengan begitu genit.
"Ya ampun, ini kan Tuan Gerald pemilik Sunshine group itu kan? Astaga aku tidak menyangka kita akan bertemu disini. Ternyata aslinya lebih tampan daripada yang di media ya," cerocos wanita itu yang begitu antusias.
"Pergi dari sini," ketus Gerald tanpa menatap wanita tersebut, padahal wanita itu terlihat begitu menarik dengan body bohay serta pakaian minim yang memamerkan belahan dada serta p*aha yang berisi.
Wanita itu tak menghiraukan ucapan Gerald, karena baginya ini adalah sebuah kesempatan langka bisa bertemu dengan pria tampan kaya raya pujaan para kaum hawa.
"Anda, sangat menantang sekali Tuan. Aku menyukainya," goda wanita itu yang sengaja menggigit bawah bibirnya.
Gerald hanya mendelik.
"Ah Tuan, karena kita sudah bertemu disini bagaimana kalau kita ngobrol dulu? biar saya traktir," tawar si wanita tersenyum.
"Aku tidak miskin!"
Wanita itu langsung mati kutu, oleh jawaban Gerald.
"Ha ha ha, humor anda sangat bagus sekali Tuan," kekehnya untuk menutupi rasa canggung.
Ia terus menatap wajah tampan Gerald, menelan ludahnya secara kasar dan karena tidak tahan dengan kharismatik sang CEO, tangan wanita itu melayang dengan sendirinya dan menyentuh dada Gerald.
Brak…
Wanita itu jatuh tersungkur, di bawah meja.
Mendengar keributan di sebelah, Valerie bangkit dari duduknya dan melihat sosok suaminya sedang berdiri tegak di depan kerumunan orang-orang dengan wajah datar.
Merasa ada yang tidak beres ia langsung menghampiri suaminya bersama Sean.
"Shǎguā?"
Gerald menoleh pada Valerie yang sedang berdiri di samping pria tadi. Ia langsung menarik kasar tangan Valerie ke sampingnya dan menggenggam tangan sang istri erat.
Valerie menatap wanita yang sedang duduk di lantai lalu menatap suaminya heran. Siapa wanita itu? Dan kenapa suaminya bisa ada di sini? apa hubungan diantara mereka? Begitulah kira-kira yang terlihat dari raut wajah Valerie yang bingung.
"Aw, sakit sekali … tanganku sepertinya patah. Anda harus bertanggung jawab padaku Tuan," lirih wanita itu sembari terisak merasakan sakit di tangannya yang membentur lantai.
Gerald tak bergeming, ia tidak akan termakan modus yang sering digunakan oleh wanita-wanita yang ingin mendekatinya.
"Nona, jangan berbicara sembarangan pada Tuan Gerald," tegur manajer restoran tersebut.
"Aku tidak berbicara sembarangan, Tuan Gerald yang sudah mendorongku."
"Tidak mungkin Tuan Gerald melakukan itu, jika anda tidak menggodanya."
"Aku tidak menggodanya, aku hanya ingin minta tanda tangan karena aku sangat mengaguminya tapi dia malah mendorongku tanpa sebab," dalih wanita itu memasang wajah melas.
Gerald tersenyum kecut dengan dalih si wanita.
"Apa yang terjadi?" bisik Valerie pada Gerald.
Gerald tak menjawab.
"Tuan, anda harus membawa saya ke rumah sakit. Karena anda, tangan saya jadi seperti ini," pintanya penuh harap.
Valerie menggoyangkan lengan suaminya. Gerald menatap Valerie sebagai tanda bertanya.
"Minta maaf padanya, dan bantu dia ke rumah sakit," ucap Valerie.
"Aku tidak mau," tolak Gerald tegas.
"Shǎguā!" panggil Valerie dengan penekanan.
"Baby!" Gerald mengikuti nada bicara istrinya.
Melihat kedua orang yang sedang beradu argumen, manajer restoran itu pun meminta maaf pada Gerald dan ia juga mengatakan jika dirinya yang akan mengantarkan wanita tadi ke rumah sakit.
"Kau dengar? Masalah selesai … ayo pulang," Gerald menarik tangan istrinya.
Saat akan lewat, Sean yang khawatir pada Valerie langsung menghadang jalan Gerald.
"Maaf, Tuan kami belum selesai berbicara," kata Sean.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, menyingkirlah," dengus Gerald kesal.
"Tuan–,"
"Pak Sean, dia suami saya … saya akan menghubungi anda nanti," tutur Valerie yang merasa tidak enak dengan clientnya itu.
"Suami," gumam sean pelan.
Karena Sean tidak mau menyingkir, Gerald pun menyenggol bahu Sean dan melewatinya begitu saja.
Sementara itu sang wanita yang masih berakting, menghentikan kepura-puraannya ketika melihat Gerald pergi sembari menarik tangan seorang wanita.
.
.
.
Bersambung.