Marriage Contrack

Marriage Contrack
Pengumuman..



Langsung aja ya.....


Author mau kasih tau ni kalau ada novel seru, aku Up di lapakku F-I-Z-Z-O, jika berkenan silahkan di baca !! Dengan Judul "Takdirku Mencintaimu"


Jangan lupa komen dan kasih like juga add favorit, inysa Allah up nya tiap hari..


🔥🔥🔥🔥


BLURB...


~Karena kesalahan satu malam yang tak sengaja mereka lakukan, sehingga membuat perempuan bernama lengkap Ameera Pricilla yang kerap di panggil Sisil harus merelahkan pekerjaannya.


~ Sisil mengetahui kehamilannya, namun bukannya mencari siapa laki-laki itu ia justru memilih pulang kampung.


🔥🔥🔥🔥🔥


Cuplikan Bab 01.


Ini berkas yang Anda minta Tuan Dafa" ucap Nathan Asisten pribadi Dafa.


"Letakkan di meja !" Titah Dafa tanpa melihat kearah Nathan.


Nathan menurut, ia letakkan sebuah map berwarna biru muda keatas meja kerja Dafa, setelah itu ia kembali keluar. Namun sebelum membuka pintu Dafa memanggil membuat langkah kaki Nathan berhenti.


"Tunggu dulu !" Ucap Dafa.


"Iya Tuan, ada apa ?" Tanya Nathan.


"Kapan acara kantor di laksanakan ?" Tanya Dafa tanpa ekspresi.


"Besok malam Tuan" jawab Nathan.


"Baiklah, atur semuanya !"


"Baik Tuan"


Nathan keluar dari ruangan Dafa, ruangan bagi siapa saja yang memasuki akan langsung terkena hawa dingin.


Di manapun Dafa terkenal sebagai Ceo yang dingin dan Arogant. Itulah kenapa banyak orang yang takut dengan Dafa.


Dulu sikap Dafa tidak seperti ini, ia ramah dan murah senyum tapi karena sakit hati kepada sang kekasih dimana ia di tinggalkan di hari pernikahan dengan alasan yang tak masuk akal, membuat Dafa berubah drastis.


Iya kesalahan kekasihnya benar-benar tak masuk akal.


"Aku belum ingin menikah Dafa, aku masih ingin mengejar mimpiku sebagai penari balet terkenal"


Dafa yang saat itu sudah siap melafalkan ijab kabul langsung emosi, kekasihnya dengan tega meninggalkan dirinya dan hanya menulis secarik kertas yang bagi Dafa tak masuk akal.


Dan saat ini Dafa tak percaya yang namanya Cinta, apalagi perempuan. Bahkan Dafa menganggap semua perempuan munafik.


Saat jam makan siang, Nathan kembali keruangan Dafa, ia tidak ingin kena amarah karena telat mengajak sang majikan makan siang.


"Tuan sudah waktunya makan siang !" Ucap Nathan sopan.


"Tunggu 5 menit lagi"


Nathan menurut, ia berdiri untuk menunggu Dafa selesai mengerjakan pekerjaan nya.


"Mau makan di restoran mana Tuan ?" Tanya Nathan lagi.


"Seperti biasa, saya tidak suka berburu kuliner" jawab Dafa dingin.


"Baik Tuan"


Restoran yang Dafa maksud adalah Restoran cepat saji. Tempat favorit Dafa dan sang Nenek yang kini tinggal di rumah. Sementara kedua orang tua Dafa menetap di London untuk meneruskan perusahaan disana.


Semua karyawan langsung tunduk saat melihat Dafa dan Nathan lewat, kedua pria Arogant itu sangat di takuti karena jika melakukan kesalahan tidak ada kata ampun lagi.


Nathan membukakan pintu mobil untuk Dafa, sebuah mobil paling mewa keluaran terbaru.


Di dalam perjalanan Dafa tak bicara sedikitpun, karena begitulah sikapnya jika tidak ada hal yang penting Dafa lebih baik diam.


"Silahkan Tuan !" Ucap Nathan sembari membukakan pintu untuk Dafa.


"Hmmm"


☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Ameera Pricillah sering di panggil Sisil, cewek lugu sehingga membuat dirinya sering di manfaatkan oleh teman-teman nya.


Seperti saat ini, disaat semua orang makan siang ia malah di suruh mengerjakan laporan yang bukan tugasnya. .


"Lo belum makan siang ?" Tanya Aldo teman kerjanya.


Sisil menggeleng, jari jemarinya masih sibuk mengetik di layar komputer .


"Kenapa ?" Tanya Aldo lagi.


"Oh"


Di kantor ini hanya Aldo yang dekat dengan Sisil tanpa pernah memanfaatkan keluguan Sisil.


Sisil sebenarnya sadar kalau dirinya seriang di manfaatkan teman-temannya, tapi Sisil tak berani menolak ia hanya ingin bekerja dengan nyaman dan mendapatkan uang, setelah itu dapat mengirim uangnya untuk Ibu dan adiknya di kampung.


Dalam hal ini Sisil sangat beruntung karena bisa bekerja walau hanya lulusan SMA.


"Udah kelar belum Sil ?" Tanya Zahra


"Dikit lagi Kak" jawab Sisil.


Zahra memanjangan kan kepalanya untuk melihat sampai mana Sisil nengetik. Tinggal 3 baris lagi membuat Zahra tersenyum senang.


"Udah, lo kembali ke meja biar gue yang nyelesain" seloroh Zahra.


Sisil berdiri "Baik kak" jawan Sisil patuh.


Namun saat akan kemeja Zahra memanggil "Eh tunggu"


"Iya kak, ada apa lagi ?"


"Besok malam Lo ya yang pergi mewakili kantor kita, nemenin Kak Aldo" ujar Zahra.


"Tapi bukan kah itu tugas Qiana ?" Tanya Sisil.


"Qiana ada halangan, gak papalah Lo sekali-kali lagian cari pengalaman juga kan"


Sisil tampak berpikir, memang selama ini ia belum perna mewakili kantor untuk pergi ke suatu acara, dan besok malam ia di tugaskan.


"Baik kak" akhirnya Sisil menyetujui membuat Zahra tersenyum senang.


"Gitu dong"


Setelah Sisil kembali kemeja kerjanya, Qiana mendekati Zahra.


"Gimana ?" Tanya Qiana.


"Beres" jawab Zahra


"Wah, thanks ya Ra, Lo udah bantuin gue. Gue malas tau gak pergi keacara begituan"


"Sama-sama"


Malam harinya setelah melaksanakan sholat maghrib, Sisil menerima telepon dari ibunya.


"Iya Bu ada apa ?" Tanya Sisil setelah menggeser menu hijau di layar ponsel yang sudah retak tapi masih layak di pakai.


"Kamu ada uang gak Nak ? Obat ibu habis ? Kemaren udah pakai uang modal di warung kalau pakai itu lagi buat belanja besok bagaimana ?" Suara Leni ibu Sisil.


Sisil berpikir sebentar, lalu menatap dompet lusuh tempat ia menyimpan uang selama ini.


Di buka dompet itu dan menampakan uang sejumlah 1 juta rupiah, tapi itu untuk bayar kosan yang ia tempati.


"Sisil ada uang Bu, tapi Kosan Sisil belum di bayar"


"Minta keringanan Kak sama Ibu Kos nya, lagian Kakak selama ini gak pernah telat kan bayarnya, masa cuman sekali ini saja gak di kasih" sahut Nisa adik perempuan Sisil, sepertinya ibu menelpon di lodspeker sehingga Nisa bisa dengar.


Sisil berpikir sebentar, betul juga selama ini ia tidak pernah telat bayar angusaran, mungkin sekali ini ia di kasih toleransi.


"Baiklah, Kakak akan segera kirim uangnya" jawab Sisil.


"Makasih ya Nak, maaf Ibu selalu merepotkan" kembali suara Ibu yang terdengar.


"Sudah menjadi tugas Sisil Bu"


Begitula kehidupan Sisil, bekerja untuk menafkahi ibu dan adiknya, semenjak Sang Ayah meninggal dan Ibu sakit-sakitan Sisil lah yang menjadi kepala keluarga.


Memikul beban yang begitu besar tentu sangat berat untuk Sisil, tapi ia bersyukur karena bisa mengirim uang untuk ibu dan adiknya dari gaji yang ia terima.


Setelah panggilan terputus Sisil langsung pergi ke indomaret untuk mengirim uang untuk membeli obat ibunya di kampung.


Tak ada yang di beli Sisil, karena sekarang uang yang di pegangnya tinggal 150 ribu, itupun harus cukup 2 minggu lagi.


Hingga Sisil baru ingat kalau besok ia akan pergi ke acara kantor.


"Ya Allah, uang segini apa cukup untuk pergi ke acara kantor besok" batin Sisil lirih.


Langkahnya gontai dengan dadanya yang terasa sesak, bingung dan juga tidak tau harus bagaimana.


"Nak Sisil" panggil seseorang.


Sisil menoleh dan mendapati ibu Kos sedang berjalan kearahnya, ia yakin kalau ibu kosnya akan menanyakan masalah uang kontrakan yang memang sudah waktunya Sisil bayar.


.....