
Rena masih berada di posisi semula, masih menatap setumpuk paper bag yang jumlahnya entah berapa.
"Mama ayo" ajak Elvan membuat kesadaran Rena terjaga.
"Iya sayang, maafkan Mama"
Keduanya mendekati kiriman itu, satu persatu Rena buka dan isinya mainan anak-anak serta pakaian Syar'i untuk Rena. Dan paper bag terakhir yang Rena buka adalah sebuah handphone...
"Ini dari siapa ?" batin Rena penuh dengan tanda tanya.
Mungkinkah semua ini dari Arsen ?, tapi untuk apa laki-laki itu mengirimi Rena barang semewah ini.
Ah rasanya tak mungkin jika ini dari Arsen.. Di lubuk hati Rena saja begitu ragu jika laki-laki dengan sikap dingin seperti kulkas itu akan memberikan dirinya barang seperti ini.
Lalu jika bukan dari Arsen, dari siapa ?.. Semua ini membuat kepala Rena terasa mau pecah.
"Cie, nyonya dapat kiriman dari Tuan ya ?" tanya Marni tiba-tiba mendekat.
Rena meneggakan tubuhnya "Entahlah bu ini dari siapa, soalnya gak ada nama pengirimnya"
"Loh kok gitu, apa sudah di cek semuanya"
"Sudah bu, tak ada satupun yang ada tulisan nama pengirimnya"
"Tapi saya yakin Nyonya kalau ini dari Tuan, siapa lagi coba yang akan mengirim barang mewah ini kalau bukan Tuan Arsn"
Hati Rena masih ragu untuk percaya kalau semua barang ini dari Arsen, akan tetapi kalau bukan dari Arsen, Rena tak ada nama lain yang bisa di tebak.
"Nanti akan aku tanya sama Mas Arsen bu, sekarang tolong bantu saya membawanya kekamar"
"Baik Nyonya"
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Di Perusahaan....
Mungkin jika ada yang melihat banyak orang yang akan mengatakan kalau Arsen gila, karena bagaimana tidak sedari tadi laki-laki itu terus tersenyum, padahal tak ada yang sedang melucu di dekatnya.
Bahkan yang lebih parah lagi saat di ruang Meetiing, Arsen tak bisa fokus, ia kerap sekali salah saat di tanya. Dan semua itu membuat Robert harus turun tangan menjelaskan.
"Apa aku perlu membawa Tuan Arsen kerumah sakit" gumam Robert yang bergidik ngeri dengan kelakuan Arsen.
"Kenapa aku menjadi takut ya"
"Atau ruangan ini ada penghuninya ?"
Tiba-tiba saja otak cerdas Robert menjadi bodoh, ia berpikir akan memanggil seorang dukun untuk mengusir para makhluk halus yang bersemayam di ruangan Arsen.
"Tuan" panggil Robert.
"Ada apa ?" tenyata Arsen masih bisa menjawab panggilan Robert.
"Saya mau izin keluar sebentar, kalau ada apa-apa langsung hubungi saya"
Seketika Arsen menoleh "Kau mau kemana ?" tanya Arsen
"S-saya mau mencari seorang dukun Tuan"
Kening Arsen mengernyit akan ucapan Asistennya itu " Dukun ? untuk apa ?"
"Seperti nya di ruangan ini banyak setan nya tuan, karena sedari tadi Tuan selalu tersenyum membuat saya takut, makanya saya mau mencari dukun untuk mengusirnya Tuan"
Pluuukkk.
Arsen langsung melempar sebuah polpen kearah Robert, ia benar-benar tak percaya kalau Asistennya itu mempercayai yang namanya Dukun. Apalagi ia menyangka kalau dirinya sedang kerasukan.
"Jadi kau mengira kalau aku kerasukan ?" tanya Arsen dengan tatapan tajamnya.
Dengan amat bodoh dan polos Robert justru menganggukan kepalanya berulang kali, membuat Arsen naik pitam.
"Sialan kau !!!, sana keluar dari ruangan saya !!" bentak Arsen kemudian.
"Tapi saya tidak ingin meninggalkan Tuan sendiri"
"Maafkan saya Tuan, saya hanya takut tuan kenapa-napa"
"Sana-sana keluar, saya ingin sendiri"
Walau ragu Robert tetap meninggalkan ruangan Arsen, dari pada ia mendapat amukan dari laki-laki itu.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
"Kakek tidak bisakah kakek menguba keputusan kakek ?" Talia mendekati Kakek Raymond yang sedang duduk di pinggir kolam renang.
"Maksudmu keputusan yang mana ?" tanya Kakek Raymond bingung, apalagi saat melihat kedatangan Talia yang langsung masuk kerumahnya tanpa mengucapkan salam.
"Ya keputusan Kakek mengenai pewaris perusahaan"
"Memangnya apa yang harus aku rubah, semuanya sudah jelas kalau pemilik perusahaan itu adalah Arsenio Raymond cucuku" balas Kakek Raymond dengan tegas.
"Tapikan Arsen hanya seorang Cucu sementara Paman Willi adalah anak kakek. Jadi harusnya Kakek menyerahkan perusahaan itu pada Paman Willi bukan pada Arsen"
Kakek Raymond menoleh lalu memberikan tatapan tajam pada gadis cantik itu, dulu saat Talia masih kecil dan dekat dengan Arsen, Kakek Raymond begitu menyayangi Talia, namun setelah Talia dewasa dan suka bermain laki-laki membuat Kakek Raymond jijik.
"Kau ini siapa sampai mengatur keputusanku, perusahaan itu memang aku yang bangun tapi yang mengembangkan adalah anakky Daniel, jadi otomatis perusahaan nya akan jatuh ketangan Arsen. Untuk Willi itu salahnya sendiri jika tak mendapatkan apa-apa, dulu aku sudah memberikan dia modal tapi Willi malah memilih jalan lain" setelah mengatakan itu Kakek Raymond berdiri dan meninggalkan Talia.
Namun baru beberapa langkah laki-laki paruh baya itu berhenti lalu menoleh sesaat "Tolong jangan terlalu sering datang kerumah ini, karena saya tak suka ada orang lain yang datang kesini kalau bukan Arsen dan istrinya"
Mendengar hal itu membuat Talia begitu kesal, dulu ia begitu di sayangi oleh Kakek Raymond namun sekarang malah sebaliknya.
"Sialan, beraninya Kakek mengatakan itu padaku, awas aja akan aku balas semuanya" batin Talia.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Sore hari Rena sengaja menunggu kepulangan Arsen, ia ingin menanyakan apakah suaminya itu yang membelikan dirinya barang mewah, Karena jika memang itu bukan Arsen. Rena berencana akan mengembalikan semuanya ke toko masing-masing.
"Mana sih Mas Arsen kok belum pulang juga" gumam Rena
Panjang umur itulah yang sering di katakan seseorang jika orang tersebut muncul saat kita memikirkan dirinya. Rena langsung mendekati sang suami yang baru saja masuk kedalam rumah.
"Kenapa kau lari-lari ?" tanya Arsen dingin.
"Hmmmm, ada yang mau aku tanyakan Mas ?"
"Tentang ??"
"Tadi aku menerima paket banyak banget, apa itu dari Mas Arsen ?"
Arsen menatap wajah istrinya "Paket apaan, saya gak pernah ngirimin kamu apa-apa. Jangan Ge'er deh" balas Arsen lalu meninggalkan istrinya.
Dengan langkah cepat Rena menyusul "Ya kalau bukan Mas Arsen yang kirim, aku akan mengembalikan barang itu"
Mendengar hal itu sontak saja Arsen menghentikan langkahnya "Memangnya kalau itu dari saya akan kamu apakan ?" tanya Arsen penuh ingin tahu.
"Akan aku simpan dan aku jaga dengan baik Mas" jawab Rena jujur.
Arsen tersenyum namun sayangnya Rena tak bisa melihat itu "Terus jika itu bukan dari saya kenapa kamu tak mau menerimanya ?"
"Iiiihhh, Mas Arsen banyak tanya.. Aku pengen tau itu barang dari Mas Arsen apa bukan " cetus Rena kesal. Karena saat ia bertanya Arsen justru balik bertanya.
"Bukan itu bukan dari saya"
"Ya sudah kalau gitu aku akan mengembalikan semua berang itu"
"Kalau kau sampai berani melakukannya akan ku kurung kau dikamar"
"Hah" Rena melongo mendengar ucapan sang suami.
--------
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...
HAYO SIAPA YANG KESAL DENGAN SIKAP ARSEN ???