Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 87



"Maka dari itu bayi Talia akan saya bawa keluar negeri.." ucap Mawar...


"Aku tidak setuju" ucap Rena membuat Mawar menatapnya dengan tajam.


"Siapa kamu ? sampai melarangku membawa cucuku sendiri"


"Bukan maksud ku melarang ibu membawa Ara, tapi sebelum meninggal mbak Talia sudah menitipkan Ara padaku, dan itu sama saja sebuah amanat yang harus aku jaga" jelas Rena panjang lebar.


"Alah itu hanya alasan kamu aja kan ? supaya aku tak membawa cucuku. Pokoknya aku akan membawanya keluar negeri"


Mawar tetap dengan pendiriannya untuk membawa baby Ara keluar negeri, tinggal bersama dirinya. Akan tetapi Rena tak menginzinkan karena menurut Rena baby Ara sudah di titipkan kepadanya. Dan itu berarti ia harus menjaga baby Ara dengan baik.


Namun ia juga merasa berdosa jika melarang Mawar membawa baby Ara, walau bagaimanapun Mawar adalah nenek kandungnya.


"Arsen kau jelaskan pada istrimu ini siapa yang pantas merawat Ara" pinta Mawar


"Tanpa di jelaskan istriku mengerti tante, Ara memang di titipkan oleh Talia pada kami"


"Ciihh, kalian berdua sama saja"


Mawar tak akan pergi dari rumah itu sebelum Arsen mengizinkan dirinya membawa baby Ara, ia harus mendapatkan bayi mungil itu.


Sebagai seorang ibu tentu ia merasa kehilangan saat di kabarkan kalau Talia telah tiada, bohong kalau dirinya tidak merasa sedih saat mendengar hal itu.


Talia adalah putri satu-satunya, dan sekarang Talia telah tiada.


Sementara Arsen mengajak sang istri kekamar, ia harus berdiskusi pada Rena tentang Baby Ara.


"Sayang..." panggil Arsen dengan lembut.


"Hmmmm"


"Sebaiknya kita izinkan tante Mawar membawa Ara, walau bagaimanapun dia neneknya Ara"


Rena menatap wajah sang suami dengan seksama "Kamu lupa mas dengan pesan mbak Talia, dia menyuruh kita merawat Ara mas"


"Tidak sayang, mas tidak lupa. Tapi mas yakin Talia juga tidak akan keberatan jika anaknya di rawat oleh mamanya"


"Aku tetap gak setuju mas, pokoknya Ara harus tetap bersama kita"


Arsen menarik napas panjang "Kamu jangan egois dong.. Kalau kita tak memberikan Ara tante Mawar tidak akan pergi dari rumah ini"


"Ya sudah biarkan tante Mawar tinggal bersama kita"


"Kamu pikir rumah ini penampungan apa ? sampai harus membiarkan siapa saja tinggal disini" bentak Arsen.


Rena terhenyak saat di bentak sang suami, apa salah dengan ucapannya, ia hanya ingin baby Ara tetap tinggal bersamanya. Rena sudah terlanjur sayang dengan bayi berjenis perempuan itu.


"Bukan begitu mas, aku cuma ingin Ara tetap tinggal bersama kita"


"Iya aku tau maksudmu, tapi coba kamu pikirkan, kamu baru saja pulang dari rumah sakit. Dan ingat kata dokter kamu tidak boleh kelelahan. Tolong pikirkan semua itu Rena, jangan memikirkan egomu saja"


"Siapa yang memikirkan egoku sih mas, apa aku salah mempertahankan sesuatu yang aku suka. Aku sudah sayang banget sama Ara, dan aku tidak rela jika Ara di bawa orang lain"


"Dia bukan orang lain, dia nenek kandungnya Ara"


"Pokoknya apapun alasannya aku tetap tidak setuju kalau Ara di bawa sama tante Mawar" balas Rena membuat Arsen geram. Istrinya tak mengerti berada di posisinya.


"Lagian apa susahnya sih mengizinkan tante Mawar tinggal bersama kita juga, kamu juga gak akan jatuh miskin karena hal ini" sambung Rena lagi.


"Terserah kamu... !" balas Arsen kemudian meninggalkan kamar.


Bruuuggggg.


Rena terperanjat saat mendengar suara pintu yang di tutup dengan kencang, ia meneteskan air mata karena bertengkar dengan sang suami.


\=\=\=\=\=\=\=


Arsen menuruni anak tangga dengan perasaan marah yang hebat, ia tak mengerti bagaimana caranya menjelaskan dengan Rena.


"Pergi Bu" jawab Arsen dengan nada kesal.


Dahi Dian mengerut "Kemana ?"


"Kekantor bu, dan untuk beberapa hari kedepan aku akan menginap di kantor"


"Loh kenapa ? apa kamu bertengkar dengan Rena ?"


"Tidak apa-apa bu, supaya Rena mengerti dengan kondisi suaminya. Aku juga ingin Ara tetap tinggal bersama kita, tapi Tante Mawar juga berhak atas Ara bu, dan Rena tidak mengizinkan hal itu"


Dian mengelus punggung anaknya, ia mengerti perasaan putranya itu.


"Lagian aku melakukan ini juga untuk kebaikan Rena, selama ini saat ia sibuk mengurus Ara, ia mengabaikan Elvan dan juga kehamilannya sendiri" sambung Arsen lagi.


"Tenanglah, nanti coba ibu yang bicara sama Rena"


"Makasih bu, tolong titip Rena dan Elvan selama aku tidak ada di rumah"


"Iya nak, kamu hati-hati ya!!"


Arsen mengangguk, sebelum pergi ia mencium punggung tangan sang ibu. Kemudian berlalu dari sana, di teras rumah ia berpapasan dengan Mawar yang sedang menggendong Ara.


"Bagaimana Arsen apakah istri kamu sudah mengizinkan tante membawa Ara ?"


"Sabar tante, istriku butuh waktu.. Apalagi dia sudah sayang banget sama Ara"


"Iya tante tau, tapi kan dia akan punya anak juga. Nanti malah gak keurus. Kalau sampai Ara terbengkalai dia juga pasti akan disalahkan Talia. Mengurus bayi itu bukan perkara muda"


Arsen hanya diam saja, benar memang apa yang dikatakan oleh Mawar. Ia dapat melihat bagaimana Rena mengurus Ara selama ini, bahkan ia kerap ikut begadang saat Ara tidak mau tidur malam hari.


"Tunggu seminggu ya Tante"


"Baiklah"


"Tinggalah disini selama seminggu ini"


"Iya.."


"Terima kasih atas pengertianya ya tante"


Mawar hanya menganggukan kepala, sebenarnya ia bisa saja membawa Ara sejak tadi, hanya saja ia menghargai Arsen dan kakek Raymond.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dari rumah Arsen langsung menuju rumah sang kakek, ia ingin mengatakan kalau Mawar datang dan hendak membawa baby Ara.


Mendengar hal itu kakek Raymond hanya menyerahkan semua keputusan pada Arsen, karena dalam hal ini Arsen lah yang berhak memutuskan semuanya.


"Kakek sudah tua Arsen, bagaimana kakek bisa merawat Ara, kalau memang mamanya Talia ingin membawa Ara biarkan saja, kita cukup mengiriminya uang setiap bulan untuk biaya kehidupan Ara"


"Iya kek, aku juga sepemikiran dengan kakek.. Tapi ada satu masalanya kek"


"Apa itu ?"


"Rena tidak setuju"


Arsen menundukan kepalanya, ia teringat dengan pertengkarannya tadi bersama sang istri, harusnya ia tak perlu membentak Rena apalagi saat ini Rena sedang mengandung.


Tapi Arsen hanyalah manusia biasa, ia mempunyai emosi. Mendengar sang istri yang selalu membantahnya Arsen tak bisa menahan emosinya.


"Mungkin karena Rena udah terlanjur sayang sama Ara, kamu harus mengerti hal itu Sen".


"Tapi aku juga butuh pengertian kek, aku juga ingin Ara tetap tinggal bersama ku dan Rena, aku juga sayang sama Ara. Hanya saja kondisinya gak memungkinkan untuk kami tetap merawat Ara"


"Iya kakek paham, kalian juga kan sebentar lagi akan memiliki anak juga, belum lagi Elvan yang akan kalian daftarkan sekolah, pastinya akan sangat sibuk"


Semua orang mengerti dengan kondisinya, lalu kenapa Rena tak mengerti.. ???