
Kabar tentang kehamilan Talia sampai di telinga kakek Raymond. Pria paruh baya itu begitu terkejut mendengar semuanya dari Robert, dengan langkah tergesa-gesa Kakek Raymond keluar rumah untuk segera tiba di rumah Arsen.
Dalam perjalanan kakek Raymond merasa tak tenang, ia berharap memang Arsen tak melakukan hal bodoh seperti itu.
"Kalau sampai beneran itu ulah Arsen, akan ku beri dia pelajaran setimpal" gumam Kakek Raymond yang duduk di kursi belakang. Sementara sang sopir fokus menatap jalanan.
Tak berapa lama kakek Raymond tiba di kediaman Arsen. Beruntung Arsen dan Talia sudah pulang dari rumah sakit.
Dan disinilah mereka berada, di ruang tamu dengan keadaan mencekam. Kakek Raymond duduk di single sofa menatap Arsen dan Talia bergantian.
"Benar kau sedang mengandung ?" tanya Kakek Raymond dengan tegas.
"Iya kek, dan ini anak nya Arsen" balas Talia.
"Berhenti berbohong Talia, aku tak pernah menyentuhmu, bagaimana bisa itu adalah anakku" bantah Arsen dengan cepat, ia tidak ingin masalah ini bertambah runyam karena kebohongan Talia.
"Diam !" bentak Kakek Raymond.
"Dimana Rena dan Elvan ?" tanya Kakek Raymond sembari menatap Arsen.
"Mereka pulang kerumah lama Rena kek"
"Lalu kau biarkan mereka pergi begitu saja ? laki-laki macam apa kau ini"
"Aku sudah mencegahnya kek, tapi Rena tetap keras kepala untuk pergi. Dia bahkan memintaku untuk menceraikan nya"
"Lalu apa jawabanmu ?"
"Aku tidak mau kek, sampai kapanpun Rena akan tetap menjadi istriku"
Kakek Raymond menarik napas panjang "Terus bagaimana dengan kehamilan Talia ? jika memang itu hasil perbuatanmu itu berarti kau harus bertanggung jawab"
"Sudah ku katakan kek, itu bukan anakku kek"
Wajah Arsen kembali tertunduk, entah bagaimana caranya meyakinkan semua orang supaya percaya dengannya.
Melihat keterpurukan Arsen, kakek Raymond yakin kalau cucunya itu tidak pernah melakukan apa-apa. Ia melirik kearah Talia, menatap wanita itu dengan tajam.
"Pasti ada yang tidak beres". batin kakek Raymond.
"Berikan alamat rumah Rena" ucap kakek Raymond.
"Untuk apa kek ?"
"Berikan saja, dan jangan banyak tanya ini urusan kakek"
Dengan lesu Arsen memberikan alamat rumah Rena. Baru beberapa jam ia tak bertemu rasa rindunya terhadap sang istri sudah menggebu..Lalu bagaimana bisa ia akan menceraikan Rena, bahkan membayangkannya saja Arsen tak mau.
"Kakek setuju kan kalau Arsen menikah dengan ku ? aku sedang mengandung anaknya kek" Talia berucap, ia menatap kakek Raymond dengan intens. Harapanya begitu besar terhadap pria paruh baya itu. Karena apapun ucapan kakek Raymond pasti akan di turuti oleh Arsen.
"Setuju, kalau memang itu adalah anaknya Arsen" balas kakek Raymond dengan santai.
"Lalu kapan Kakek akan menyuruh Arsen menikahiku ? aku tidak mau mengandung tanpa suami kek"
"Minta saja sama Arsen, kapan dia akan menikahimu"
"Hei wanita murahan, aku tidak akan pernah menikahimu" bentak Arsen dengan amarah memuncak. Ia yakin Talia sedang memanfaatkan sang kakek supaya menyetujui keinginannya.
"Kau tidak bisa menunda-nunda Arsen, kandunganku semakin hari akan semakin membesar, bagaimana tanggapan orang di luar sana kalau aku hamil tapi statusku masih single"
Arsen memiringkan sudut bibirnya, ia ingin menjawab 'Memangnya gue peduli'. tapi Arsen tahan karena disana ada kakek Raymond.
"Pokoknya malam ini kamu harus menikahiku ! secara sirih pun tidak apa-apa" ucap Talia.
"Tidak mau" bantah Arsen.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam harinya usai melaksanakan sholat isya, Rena menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, pikirannya berkelana entah kemana. Rasa sesak didadanya semakin terasa...
Sesekali wanita itu menyusut air matanya yang masiymh menetes dengan deras. Sementara Elvan sudah tertidur pulas di sampingnya.
"Ya Allah kenapa begini, haruskah aku ikhlas menerima perpisahan ini"
Tak berapa lama terdengar suara pintu di gedor dengan keras. Di susul dengan suara Arsen yang memanggil namanya.
"Mas Arsen" gumam Rena.
Rena enggan beranjak, bukan tak ingin bertemu dengan sang suami tapi saat melihat wajah Arsen, perasaan Rena semakin sakit.
Tiiiiing...
Sebuah pesan baru saja Rena terima. Segera wanita itu melirik siapa yang mengiriminya pesan.
[Sayang buka pintunya !]
[Untuk apa Mas datang lagi kesini ?]
[Mas merindukan mu sayang, tolong buka pintunya. Mas tidak bisa tidur jika tidak ada kamu]
[Tidak usah menggombal, mas harus terbiasa tanpa aku karena sebentar lagi kita bukan suami istri]
[Please sayang, jangan bicara seperti itu lagi. Sampai kapanpun mas tidak akan menceraikan kamu]
[Jangan egois Mas, tolong pikirkan mbak Talia, dia akan sangat terluka kalau kamu tidak mau bertanggung jawab]
[Hentikan semua ini sayang, aku tau kamu terluka didalam sana. Percayalah sama Mas kalau ini bukan perbuatan Mas]
Rena tak lagi membalas pesan itu, baginya semua nya tak akan selesai jika dirinya terus membalas pesan dari sang suami.
Rena membaringkan tubuhnya di samping Elvan. Ia sama sekali tak berniat untuk membukakan pintu.
"Mas Arsen pasti tidak akan betah berdiri disana". batin Rena.
Sekuat tenaga Rena berusaha memejamkan matanya, tapi tetap tidak bisa. Apalagi bayangan tentang video berdurasi pendek dimana ada sang suami disana terus melintas di pikirannya. Rena mendesah berat, napasnya tertahan di kerongkongan.
"Astaghfirullah"
"Kuatkan hambamu ini ya Allah"
"Hamba yakin di balik semua ini, pasti ada hikmanya"
...--------...
Di luar rumah Arsen masih saja berdiri dengan menyandarkan tubuhnya di pintu. Walaupun Rena tak akan membuka pintu tapi Arsen akan tetap berdiri disana sampai pagi.
Tak berapa lama ponse mewahnya berbunyi.
"Ada apa kau menghubungiku ?"
"Kamu dimana Arsen ?"
"Di rumah Rena, ada apa ?"
"Kau lupa ya kalau malam ini aku ingin kau menikahiku"
Suara lengkingan Talia semakin membuat Arsen kesal. Wanita itu masih saja memaksa untuk di nikahi padahal Arsen sudah bersih keras menolaknya.
"Sampai kapanpun aku tak akan menikahimu" ucap Arsen dan langsung memutuskan sambunga telepon.
Tidak berapa lama Talia kembali menghubunginya, tapi Arsen hiraukan. Bahkan kali ini ia sengaja menonaktifkan ponselnya supaya Talia tak bisa menghubunginya lagi.
Tok---Tok--Tok..
"Sayang buka pintunya ? mas mohon"
Malam semakin larut tak ada tanda-tanda kalau Rena akan membuka pintunya. Rasa dingin sudah ia rasakan. Apalagi ada banyak nyamuk yang mulai mengigit badannya.
"Sayang...." kembali Arsen memanggil.
Ternyata di balik jendela ada Rena yang sedang mengintip, wanita itu merasa kasihan melihat sang suami yang kedinginan di luar sana.
Tak ada pilihan lain, Rena akhirnya membuka pintu, bukan karena ingin membiarkan Arsen masuk tapi menyuruh laki-laki itu pulang.
"Kenapa kamu begitu egois mas, kamu menyiksa dirimu sendiri kalau begini" ucap Rena sembari menatap sang suami.
...-----...
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...