Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 10



"Astaghfirullah, kenapa tuan selalu berpikiran negatif pada saya ?"


Arsen hanya melirik Rena, kemudian pergi melangkah meninggalkan Rena yang masih menikmati semangkok seblak itu.


Namun saat menaiki anak tangga Arsen menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah Rena "Kalau kau sudah selesai jangan lupa mematikan lampunya !" pinta Arsen.


"Iya Tuan" balas Rena kemudian.


Tak berapa lama seblak di mangkok itu sudah habis tak tersisah, Rena beranjak kemudian mencuci bekas makannya barulah ia akan kembali istirahat. Namun sebelum itu Rena mematikan lampu sesuai yang di katakan Arsen.


Di dalam kamar Rena tersenyum melihat sang anak tidur dengan sangat pulas, mulai mlama ini tempat tidur mereka sangat berbeda, tak ada lagi kasur dengan tekstur yang keras seperti di rumahnya, atau bunyi kipas angin yang sudah berapa kali di servis. Karena semuanya sudah berganti dengan kemewahan. Bahkan kamar mandi saja ada di dalam kamar itu.


"Mama harap semua ini bisa membuat El bahagia" gumam Rena sembari mencium kening Elvan dengan penuh kasih sayang.


Rena melirik jam di atas meja nakasnya, sudah menunjukan pukul 11:30 malam, dan dirinya belum tertidur sedikitpun, entahlah rasa kantuk itu tak juga datang padahal Rena sudah sangat ingin memejamkan mata supaya esok tak kesiangan bangun.


Ternyata bukan hanya Rena yang tak bisa tidur, laki-laki yang sudah menyandang status sebagai suami itu juga tak bisa tidur, entahlah apa yang sedang ia pikirkan yang jelas pikirannya tak tenang malam itu.


"Aiiisssttt, kenapa malam ini aku susah sekali tidur sih"


"Biasanya juga sudah lelap banget"


"Apa aku minta kirimin email kerjaan saja ya supaya cepat ngantuk, biasanya kan kalau ada kerjaan aku akan cepat sekali tertidur"


Akhirnya Arsen memutuskan menghubungi Robert, tak peduli kalaupun asistennya itu akan marah-marah karena ia menghubunginya malam-malam begini.


"Halo Tuan ada apa ?" tanya Robert di seberang sana, terdengar sangat malas dan suara serak seseorang yang baru saja tertidur.


"Kau kirimkan pekerjaan apapun padaku malam ini !" pinta Arsen.


"Kenapa Tuan meminta pekerjaan malam-malam begini ? apa tidak akan mengganggu kegiatan malam pertama Tuan ?"


"Hei, kau singkirkan pikiran kotor mu itu ya ! kau lupa kalau aku dan dia hanya menikah kontrak"


"Maafkan saya Tuan, baik akan saya kirimkan !"


"Saya tunggu !"


Tuuuuutttt.


Setelah panggilan terputus Arsen malah kesal karena ucapan Robert tadi.


Apa katanya tadi malam pertama ?


Ciihh bahkan itu semua tak ada di pikiran Arsen sedikitpun, ia menganggap Rena hanya istri di atas kertas tak ada sedikitpun niatan Arsen untuk membuka hatinya untuk Rena.


Tak berapa lama ponsel Arsen kembali berbunyi, dengan cepat Arsen membuka ponselnya. Sebuah email masuk dari Robert.


"Mending aku kerja, dari pada mikirin ucapan Robert"


Di rumah ini memang belum ada ruangan khusus untuk tempat kerjanya, Besok Arsen akan menyuruh seseorang untuk memindahkan peralatan kerjanya.


Benar saja baru sekejap ia berkutat dengan pekerjaan, matanya sudah begitu berat, Arsen menutup laptopnya kemudian tidur dengan lelap.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Pagi kembali datang, selesai melaksanakan sholat subuh Rena langsung bangun, ia akan menyiapkan sarapan untuk suaminya tak peduli kalau nanti Arsen tak mau memakannya.


Saat sedang memasak tiba-tiba Elvan bangun, dan menghampiri sang Mama di dapur.


"Ma" panggil Elvan.


"Iya nak" Rena menoleh "Udah bangun ternyata, El sudah pipis belum ?" tanya Rena lagi, ia berjalan mendekati Elvan.


"Belum Ma, temenin"


Rena tersenyum, ia menganggukan kepalanya kemudian langsung menggendong Elvan untuk membawanya ke kamar mandi.


Setelah selesai Rena kembali ke dapur, ia mendudukan Elvan di kursi dekat dengannya memasak. Hingga tak berapa lama Arsen turun dan sudah rapih dengan pakaian kerjanya. Melihat kehadiran Arsen buru-buru Elvan turun dari kursi dan berlari mendekati Arsen.


"Papa.." panggil Elvan, senyum kecil terbit di bibir mungilnya.


"Jangan panggil aku Papa ! aku bukan Papamu" bentak Arsen kemudian.


Mendengar bentakan Arsen, Rena langsung mendekat.


"Maafkan El tuan, dia belum mengerti"


"Ini semua salahmu, kalau saja kau tak memperkenalkan aku sebagai Papanya, dia tak akan memanggilku seperti itu" sorot mata tajam itu membuat Rena ketakutan, begitupun dengan Elvan.


"Pagi-pagi sudah bikin aku naik darah saja" Arsen kembali melangkah meninggalkan Rena dan Elvan. Tak ada rasa bersalah sedikitpun dalam diri Arsen setelah membentak Elvan.


Rena menatap punggung sang suami dengan air mata menetes, kedua tangannya terus memeluk Elvan dengan erat, ia tau anaknya itu sedang ketakutan.


"Mama" panggil Elvan.


"Iya Nak"


"Tenapa Papa tidak mau aku panggil Papa ? tenapa malah cama El ?"


Detik itu juga pertahanan Rena runtuh, ia memang salah harusnya ia tak perlu memperkenalkan Arsen sebagai Papa baru pada Elvan, namun dulu Rena tak berpikiran sejauh ini, ia kira Arsen tak akan mempermasalahkan semua ini.


"Tata (kata) Mama dia Papa nya El" ucap Elvan lagi yang kembali mengingat bagaimana Rena mengatakan kalau Arsen adalah Papanya sekarang.


"Maafkan Mama nak, Maafkan Mam" hanya itu yang dapat Rena ucapkan, ia kehabisan kata-kata untuk menjelaskan semuanya, haruskah ia menyuruh Elvan memanggil Arsen dengan sebutan Tuan ?.


"Ayo kita ke dapur lagi, tadi katanya El lapar Mama sudah masak yang enak untuk El".


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Sementara itu di perjalanan ke kantor emosi Arsen memuncak, hanya karena sebuah panggilan dari seorang anak kecil yang tak tau apa-apa.


"Yang boleh memanggilku seperti itu hanya anak-anak ku kelak, sementara dia siapa ? berani-beraninya dia memanggilku seperti itu"


"Ciiih, bikin emosi saja, punya hubungan darah aja enggak"


Mobil melaju dengan cepat, pagi ini ia sudah seperti mendapatkan masalah.


"Awas aja kalau sampai Rena tak menguba panggilannya, akan ku buat perhitungan"


"Enak saja memanggilku Papa padahal anakku bukan"


Setelah sampai di kantor, Arsen langsung memasuki ruangan nya, ia membanting tas kerjanya dengan keras membuat Robert kebingungan.


"Ada apa Tuan ? apa terjadi sesuatu ?" tanya Robert.


"Kau urus perempuan itu, enak saja dia menyuruh anaknya memanggilku Papa"


Perempuan yang di maksud oleh Arsen tentu saja sudah di pahami oleh Robert karena itu pasti adalah Rena.


"Baik Tuan akan saya lakukan"


"Awas aja kalau sampai anaknya itu masih memanggilku dengan sebutan Papa, akan ku buat perhitungan"


"Itu tidak akan terjadi lagi Tuan, akan saya pastikan semua itu"


"Oh ya sekalian kau bawa uang dan berikan pada Rena, karena tadi aku lupa memberikannya"


"Baik Tuan"


Arsen mendudukan diri di kursi kebesarannya.


---


...LIKE DAN KOMEN...


...DI PENCET FAVORIT JANGAN LUPA !...