Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 23



Di Perjalanan Pulang....


Sedari tadi senyum Arsen tak pernah lepas, ia bahagia karena akhirnya apa yang selama ini ia impikan sudah tercapai. Perusahaan yang Ayahnya bangun sudah SAH menjadi miliknya.


Masalah Paman Willi, ia tak peduli. Toh memang dari dulu ia dan sang paman tak sedekat bagaikan keluarga, Bahkan sering keduanya saling melempar tatapan tajam.


"Ternyata kau jago juga ya bermain piano, belajar dari mana ?" Oh Arsen baru ingat masalah permainan piano Rena.


Wanita cantik itu seketika menoleh, akan tetapi tak berapa lama kembali menatap lurus kedepan.


"Dulu pernah belajar Mas, aku gak jago kok cuman bisa saja"


"Hemmmm, apalagi keahlianmu selain bermain piano ?"


"Tidak ada Mas"


Saat ini Arsen baru menyadari kalau cara bicara Rena sedikit berbeda, bahkan tatapan mata Rena seperti ada sebuah kesedihan yang mendalam, akan tetapi Arsen tak bertanya ia terlalu gengsi untuk menyakan apa yang di rasakan istrinya itu...


Tak berapa lama Arsen dan Rena tiba di rumahnya, suasana rumah sudah sepi, mungkin sudah pada tidur. Wajar karena saat ini sudah tengah malam hampir lewat.


Namun saat memasuki rumah, Rena melihat Marni masih berada di dapur, membuat Rena mendekat hanya untuk menanyakan keadaan Elvan saat di tinggalkan.


"Bagaimana Elvan bu, apa dia nakal saat aku tinggal ?"


Marni balas menatap Rena dengan senyuman "Den Elvan begitu baik Nyonya, dia sama sekali tak pernah menyusahkan siapapun"


Ah mendengar itu membuat Rena begitu merindukan sosok Elvan, baru saja beberapa jam ia meninggalkan Elvan rasa rindunya sudah begitu besar.


"Makasih Bu, kalau begitu aku mau lihat El dulu" Balas Rena kemudian.


"Silahkan Nyonya, den Elvan ada di kamarnya"


Dengan langkah yang cepat Rena langsung memasuki salah satu kamarnya, senyumnya semakin mengembang saat melihat Elvan terlelap di atas kasur. Rena duduk di samping ranjang, jari jemarinya mengelus kepala Elvan dengan lembut, bahkan sesekali ia mencium kening dan kedua pipi Elvan.


"Sehat terus ya nak, Mama janji akan melakukan apa saja untuk kebahagiaan Elvan"


Sementara itu Arsen masih berdiri di dekat dapur, ia mendengar semua pembicaraan antara Rena dan juga Marni.


"Tuan mau apa ?" tanya Marni saat melihat majikannya itu tak beranjak sedikitpun.


"Oh tidak ada, saya hanya menunggu Rena saja" jawab Arsen ambigu.


"Kalau begitu saya mau pamit Tuan hendak istirahat"


"Silahkan"


Marni meninggalkan Arsen sendiri.


Hingga setelah 30 menit, Arsen belum juga beranjak. Ia masih betah di tempatnya semula menatap salah satu kamar yang sedari tadi pintunya tertutup. Kakinya mulai kesemutan hingga membuat Arsen mendekati kamar tersebut.


Ceklek..


Perlahan Arsen mendorong pintu kamar itu, ia langsung menggerutu kesal karena Rena sudah tertidur di samping Elvan.


"Berani dia tidur dan meninggalkan aku sendiri, dia tak tau kalau kakiku sampai pegal begini" gerutunya kesal.


"Rena bangun" Arsen sedikit menggoyangkan kaki Rena agar perempuan itu membuka matanya.


"Ada apa Mas ?" tanya Rena dengan suara serak.


"Bangun ! dan pindah kekamar ku"


"Tapi aku ngantuk Mas, biarkan aku tidur disini"


"Berani kau membantahku" suara barinton Arsen langsung membuat Rena terbangun.


Dengan langkah gontai Rena berjalan meninggalkan kamar dimana Elvan berada, kemudian memasuki kamar Arsen.


"Pijitin kakiku !" pinta Arsen tanpa memperdulikan kalau istrinya itu begitu mengantuk "Gara-gara kamu aku sampai berdiri lama tadi"


Kening Rena mengkerut, salahnya dimana ? kok bisa Arsen menyalahkan dirinya... Ah sudahlah yang penting Rena lekas memijiti kaki Arsen supaya laki-laki itu tertidur dan diam. Ia sudah begitu mengantuk sekarang.


Dengan gerakan lembut, Rena memijiti kaki Arsen.


"Kau tak bertanya apa salahmu ?" lagi-lagi Arsen mengeluarkan suara.


"Diamlah Mas, katanya mau di pijitin"


"Kau berani menyuruhku diam ? ternyata selama ini aku sudah terlalu baik ya dengan mu sampai kau selalu menjawab ku"


Kan salah lagi ???


Rena itu dimata Arsen selalu serba salah, diam salah, apalagi menjawab. Terkadang semua itu membuat Rena bingung harus bersikap bagaimana.


"Maaf Mas" iya hanya itu yang bisa Rena katakan. 'Maaf' untuk hal yang tak tau dirinya salah apa..Hidup bersama 1 bulan lebih bersama Arsen membuat Rena begitu hapal dengan sikap laki-laki itu.


Dan benar saja, mendengar kata 'Maaf' yang Rena ucapkan langsung membuat Arsen terdiam. Rena bernafas legah, setidaknya ia bisa memijiti kaki Arsen dengan tenang walau matanya tak bisa di ajak kompromi.


Detik berganti menit, tak terasa sudah cukup lama Rena melakukan tugasnya, suara dengkuran halus sudah terdengar yang menandakan kalau Arsen sudah tertidur dengan pulas.


"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa tidur juga"


Mata Rena melirik kearah jam dinding. Sudah pukul 01:30 dini hari, pantas saja matanya sudah begitu berat dan ingin segera terpejam. Selama ini Rena tak pernah bergadang, ia tidur setelah melaksanakan sholat isya dan bangun sebelum subuh mendatang.


Rena merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sudah di sediakan. Beruntung sebelum Arsen masuk kekamar Elvan tadi ia sudah berganti pakaian dan mencuci wajahnya, jadi sekarang ia bisa tidur dengan lelap.


Namun saat akan memejamkan matanya, Rena melihat kaos kaki Arsen masih terpasang di kedua kakinya, bahkan pakaianpun tak di ganti oleh Arsen. Tapi bodoh amat lah. Rena sudah begitu mengantuk untuk malam ini saja ia membiarkan Arsen tidur seperti itu.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Sebelum Adzan subuh berkumandan Rena sudah membuka matanya, akan tetapi ada yang aneh perutnya terasa ada yang menimpah. Dan sekarang ia tidur di tempat yang berbeda.


Rena melirik kesamping, ia terkejut saat melihat wajah Arsen begitu dekat dengannya.


Tapi tunggu dulu !!!


Kenapa Arsen bisa tidur di sampingnya ?


"Mas" Rena membangunkan Arsen.


"Ada apa ?" tanya Arsen dengan suara serak khas bangun tidur.


"Kenapa Mas bisa tidur di sampingku ?"


"Mana ada, yang ada kamu yang tidur disampingku, kau tak bisa membedakan ya mana kasurmu dan mana kasurku" jawab Arsen dengan cetus.


"Iya aku tau, maksudku kenapa aku bisa ada disini ?"


"Mana aku tau, kamu nya aja tiba-tiba tidur disini, makanya kalau tidur jangan sambil jalan" Arsen langsung memutar tubuhnya sehingga membelakangi Rena.


Sementara Rena terlihat kebingungan "Perasaan aku gak pernah tidur sambil berjalan, dan aku begitu ingat kalau semalam aku tidur dibawa setelah selesai memijiti Mas Arsen. Tapi kok aku bisa tidur disini sih ?" beribu pertanyaan terlintas di pikiran Rena. Kenapa bisa ia tidur satu ranjang dengan Arsen.


 


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...