Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 50



Sinar matahari mulai datang, menelusup melewati kaca jendela yang sudah terbuka sejak subuh tadi. Rena masih terduduk diatas sajadanya, air mata masih membasahi pipi mulusnya. Entah sampai kapan wanita itu akan seperti itu, mungkin sampai sang suami menampakan batang hidungnya lagi.


Tadi, sekitar jam 03 pagi Robert mengantarkan mobil sang suami, tak ada tanda-tanda kalau suaminya mengalami kecelakaan. Lalu dimana Arsen sekarang ataukah laki-laki itu di culik.


Entahlah... !!


Rena hanya bisa pasra, ia berharap yang maha kuasa selalu melindungi Arsen dimanapun dia berada.


Tok--Tok--Tok.


"Mama, El macuk ya"


Suara pintu di ketok berbarengan dengan suara Elvan. Bocah menggemaskan itu mendorong pintu menggunakan tubuh mungilnya.


"Mama belum celecai cholatnya ?" tanya Elvan lagi.


Rena meraih tubuh putranya, menge cup kedua pipi Elvan dengan gemas "Sebentar lagi Mama selesai sayang"


"Papa temana Ma ?" mata Elvan menelusuri setiap sudut kamar, mencari sosok Arsen. Biasanya laki-laki itu akan langsung menampakan dirinya kala Elvan mencari.


Tapi sekarang tidak ada, semua sudut kosong dan membuat Elvan heran.


"Mama, dimana Papa ?" tanya Elvan lagi.


Rena menggeleng, ia memeluk tubuh Elvan dengan erat "El doakan Papa baik-baik saja ya nak ! sampai sekarang Papa belum pulang"


Dengan polosnya Elvan mengangguk, ia belum paham semua ini.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Awwwwwww" Rintih Arsen yang baru saja membuka matanya.


"Kau sudah bangun sayang ?" tanya Talia yang sedang duduk di meja riasanya, ia menghentikan memoles wajanya menggunakan make up.


Arsen menoleh, ia terperanjat kaget saat melihat kehadiran Talia disana. Ia berusaha mengingat kejadian semalam namun sayang tak ada satupun yang Arsen ingat.


Talia berdiri lalu berjalan mendekati Arsen "Permainanmu semalam sangat menyenangkan sayang, apa pagi ini kamu menginginkan nya lagi" ucap Talia sembari mengelus rahang Arsen.


"Lepaskan aku wanita sialan ! apa yang telah kau lakukan padaku ?"..


"Kenapa kamu marah padaku ? seharusnya aku yang marah padamu karena kau sudah menodai aku"


Mata Arsen menyalang dengan sempurna. Ia baru menyadari kalau dirinya tak mengenakan pakaian, Arsen kembali menatap Talia dengan tajam.


"Anj*ng, wanita murahan. Mana mungkin aku melakukan itu. Kau jangan menuduhku Sialan" bentak Arsen dengan kata-kata kotornya


Talia justu tertawa mendengar semuanya, ia kembali mengelus pipi Arsen walau Arsen kembali menepis tangannya.


"Pergi kau dari sini !"


"Jangan kasar gitu dong sayang, semalam saja kau terus memacu bokongmu karena nikmat"


Menjijikan !!.


Kata-kata Talia benar-benar menjijikan membuat Arsen ingin mencekik wanita itu hidup-hidup. Arsen mengambil celana pendeknya di lantai kemudian segera memakaianya.


Setelah itu ia menuju kamar mandi, ia menatap pantulan dirinya di cermin.


"Tidak, aku tidak mungkin melakukan itu."


"Ya Allah kenapa ini terjadi, bagaimana dengan istriku. Sayang maafkan Mas"


Arsen mengusap wajahnya dengan kasar, saat air mata hendak menetes di pipinya. Ia segera mengenakan pakaian yang lengkap kemudian kembali kekamar.


"Dengar kau wanita sialan ! awas kalau kau menyakiti istriku karena kejadian ini"


"Awwww. Aku takut Arsen.. Hahahaha" balas Talia sambil tertawa.


"Dasar Gila" maki Arsen kemudian meninggalkan tempat itu.


Setelah kepergian Arsen, Talia kembali tertawa. Semalam memang tak terjadi apa-apa dengan keduanya, Talia melepasi pakaian Arsen saat subuh tadi.


"Kau tak akan mengingat kejadian semalam Arsen karena aku sudah menyuntikan obat supaya kau melupakan kejadian dimana kau di kroyok"


"Kau memang pintar Talia. Dan sampai ketemu bulan depan saat aku akan pura-pura menangis karena hamil"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Arsen melangkahkan kaki keluar dari hotel dengan cepat, ia merabah kantong celananya untuk mencari sesuatu.


"Sialan, dimana ponselku"


"Ya Allah Rena pasti khawatir karena aku tak pulang semalaman"


"Maafkan aku sayang"


Arsen menghentikan sebuah taksi yang tak sengaja lewat. Didalam perjalanan pulang perasaan Arsen tak karuan, ia khawatier dengan istrinya.


"Pak tunggu sebentar ya, saya mau ambil uang dulu kedalam" ucap Arsen pada sopir taksi, ia terpaksa memalukan dirinya sendiri karena memang tak ada apa-apa di saku celanannya.


"Iya Mas, tidak apa-apa" jawab sopir taksi itu.


Arsen masuk kedalam rumah, ia mengabaikan panggilan dari Satpam yang bertanya dia dari mana. Karena pikirannya hanya Rena dan Rena.


Saat akan memasuki pintu rumah, Robert keluar.


"Kebetulan kau ada disini, tolong bayari dulu ongkos taksi ku"perintah Arsen langsung.


"Baik Tuan" walau banyak yang ingin Robert tanyakan, tapi ia menjalakan tugas dari Arsen dulu.


"Sayang" panggil Arsen saat kakinya mencapai pintu.


Rena yang saat itu duduk di sofa langsung berdiri dengan cepat.


"Mas Arsen"


"Sayang"


Keduanya saling berpelukan dengan erat, Rena kembali menangis didada suaminya.


"Kamu dari mana Mas ? kenapa baru pulang ?"


"Maafkan aku sayang, aku tidak tahu apa yang telah terjadi"


Rena melepaskan pelukannya, ia menatap wajah sang suami dengan lekat "Maksud Mas ?"


"Panjang cerinya sayang, nanti Mas ceritakan"


Rena mengangguk "Aku panik Mas apalagi saat Robert menemukan mobil Mas di pinggir jalan, bahkan ponsel dan dompet Mas ada disana"


"Di pinggir jalan ?" ulang Arsen "Bagaimana bisa perasaan mobil itu masih ada di kantor"


Robert yang baru saja kembali setelah membayar ongkos taksi, langsung menyahut ia mendengar apa yang barusan Arsen katakan


"Benar Tuan, aku menemukan mobil tuan di pinggir jalan. Dan memang tuan sudah pulang semalam"


Arsen menoleh, terdapat raut kebingungan diwajahnya. Ia sama sekali tak ingat apapun "Aaahhhh, kenapa aku tak ingat"


Rena dan Robert saling pandang, sepertinya ada yang aneh dengan Arsen. Apalagi melihat Arsen penuh kebingungan seperti ini.


"Coba tuan ingat-ingat lagi, soalnya kita semalam sudah pulang dari kantor tepat jam 10 malam"


"Tidak Robert aku tak ingat saat itu, yang aku ingat kita masih di kantor. "


"Terus tadi tuan ada dimana saat bangun ?"


"Di Ho----" Arsen langsung menghentikan ucapanya saat akan mengatakan hal itu, ia tak mungkin mengatakan kalau dirinya di hotel bersama Talia.


Arsen masih ingin mencari tau semuanya.


"Dimana Mas ?" tanya Rena


"Di pinggir jalan sayang, Mas bangun ada di pinggir jalan" ucap Arsen berulang.


"Astaghfirullah, kok bisa Mas. Siapa yang melakukan itu ?"


Arsen menggeleng ia sama sekali tak tau kenapa dirinya bisa ada disana.


"Tuan sepertinya ada sesuatu yang telah terjadi sehingga tuan seperti ini" ucap Robert.


"Benar Robert nanti ada hal penting yang ingin aku jelaskan padamu"


"Baik Tuan akan saya tunggu"


"Tunggu saya di ruang kerja saja, sekarang saya mau mandi dulu"


Robert mengangguk, ia yakin telah terjadi sesuatu pada Arsen.


"Aku akan mencari tau siapa yang telah melakukan ini pada Tuan Arsen" batin Robert.


-----------


Curhatan Author...


**Jadi gini banyak yang komen akan pada mogok baca kalau ada konflik seperti ini. Itu terserah kalian, mau lanjut silahkan kalau mau mogok juga tidak apa-apa.


Walau aku nyesek bacanya. Tapi aku jelaskan kalau aku punya alur, dari pertama novel ini aku buat aku sudah merangkai setiap alur dan konfliknya.


Kalau cerita ini gak ada konflik, pasti gak bakalan seru iya kan ? kalian juga pasti bakalan bosan bacanya makanya aku menghadirkan konflik.


Setiap novel punya konflik masing-masing. Dan novel ini akhir bulan juga End jadi konflik yang ini adalah puncaknya. Nanti bagi yang baca dari awal sampai akhir kalian bakalan paham sama tujuan dari novel ini di buat.


Jadi aku menghargai kok setiap keputusan kalian. Bahkan ada yang sudah membatalkan Favoritnya. Dari yang '421' sekarang tinggal '418'. Tapi aku akan tetap semangat, dan untuk kalian yang sudah membaca novel ini aku ucapkan terima kasih**...