Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bqb 26



Tentu saja sikap Arsen membuat Rena merasa heran, terkadang laki-laki itu begitu ramah namun bisa juga dalam hitungan detik Arsen akan berubah menjadi sosok yang dingin.


Malam ini setelah berdebat masalah kiriman paket, Rena kembali tidur sekamar dengan Arsen. Walau Rena ingin menemani Elvan namun Arsen melarang dengan alasan kalau ingin membuat Elvan jadi anak mandiri.


"Ingat jangan jalan lagi kalau tidur" cetus Arsen.


"Memangnya aku apaan, perasaan aku gak pernah tidur sambil ngigo"


Arsen justru terkekeh, sekarang ia punya kebiasaan baru yaitu mengerjai Rena. Tak peduli kalau istrinya itu akan kesal, karena bagi Arsen melihat kekesalan Rena adalah sebuah kebahagiaan tersendiri dalam hidupnya.


"Hei kau sudah tidur ?" tanya Arsen saat tak mendengar suara Rena lagi.


"Belum" jawab Rena singkat.


Arsen menguba posisi tidurnya, ia menghadap kearah Rena yang saat ini sedang membelakangi dirinya.


"Kenapa hijabnya gak di lepas"


"Tidak apa-apa Mas" jawab Rena padahal ia sendiri bilang kalau dirinya terkadang kedingingan akibat suhu AC yang begitu besar Arsen gunakan.


"Lepas hijabmu !"pinta Arsen.


"Gak mau" tolak Rena.


"Hei ini perintah, kau mau membantah suamimu ya ?"


Rena bangun, ia menoleh kearah Arsen. Sesaat mata keduanya saling pandang. Tak ada yang berniat untuk mengalihkan tatapan masing-masing, keduanya begitu betah di posisi semula.


Entah kenapa setiap Arsen mengatakan kata 'Suami' selalu membuat Rena merinding, mungkinkah sekarang keduanya sudah menjalin hubungan rumah tangga dengan normal, tanpa adanya kontrak seperti perjanjian yang mereka lakukan.


"Aku tau kalau aku tampan, jadi kau jangan menatapku seperti itu terus" ucap Arsen tiba-tiba membuat Rena langsung tersadar.


Rena langsung mengalihkan tatapannya, tanpa menjawab apa-apa, Rena langsung melepaskan hijabnya lalu kembali ke posisi semula.


"Aku tidur duluan ya Mas, aku sudah mengantuk ?" ucap Rena.


"Apa kau sudah sholat Isya ?"


Rasanya baru kali ini Rena mendengar kalau suaminya menanyakan tentang Sholat.... Ah rasanya bahagia sekali, tak terasa senyum simpul terbit di bibir manis Rena.


"Sudah Mas, makanya aku mau tidur soalnya aku mau sholat tajahud"


"Iya tidurlah"


Arsen masih berada di posisi semula, ia menatap punggung yang naik turun itu dengan teratur, hingga beberapa saat kemudian terdengar dengkuran halus yang menandakan kalau Rena sudah tidur pulas.


"Cepat juga ya dia tidur" gumam Arsen.


Sesekali Arsen tersenyum, lalu mulai beranjak untuk menyelimuti tubuh Rena. Entah dorongan dari mana Arsen justru mencium kening Rena dengan penuh kasih sayang. Andai saja Rena sadar pasti wanita itu akan sangat terkejut dengan kelakuan Arsen.


"Rena aku sendiri tidak tau apa perasaan ku, yang jelas aku begitu nyaman berada di dekatmu, tingkahmu yang menggemaskan membuatku selalu bahagia, kau wanita yang baik, namun Maaf Rena aku tak percaya yang namanya cinta". batin Arsen yang menatap wajah polos Rena.


Arsen kembali ketempat tidurnya, ia sama sekali belum mengantuk. Namun Arsen langsung mematikan lampu kamar dan menghidupkan lampu tidur supaya Rena bisa tidur dengan nyaman.


Jam terus berputar, namun ternyata Arsen tak kunjung terlelap. Entah apa yang sedang di pikirkan pria itu sekarang, tapi yang jelas ada hal yang mengganjal di hatinya.


Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara teriakan Rena.


"Mas Rizal kamu mau kemana, tolong jangan tinggalkan aku Mas !! aku butuh kamu dan selamanya aku butuh kamu. Mas Rizal......" teriak Rena dengan mata terpejam.


Mendengar hal itu Arsen kaget, ia mendekati Rena.


"Rena sadar hei.... !! kau sedang bermimpi ya !!!" Arsen menepuk pipi Rena berulang kali.


"Mas Rizal jangan tinggalin aku !!!" kembali Rena mengatakan hal serupa.


"Rizal ? siapa dia ? kenapa Rena sampai memimpikan laki-laki itu" batin Arsen.


"Aku harus mencari tau siapa Rizal"


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Keesokan paginya, usai melaksanakan sholat subuh Rena sudah berkutat di dapur membantu Marni dan Leni memasak untuk sarapan.


Sementara Elvan belum bangun, kata Marni semalam Elvan tidur dengan lelap. Memang Rena meminta Marni yang menemani Elvan tidur saat ia di minta menemani Arsen.


Matahari pagi mulai menampakan sinarnya, tak berapa lama Arsen turun dan sudah siap dengan pakaian kerjanya.


"Pagi Mas" sapa Rena sembari tersenyum.


"Hemmmm" jawab laki-laki itu cuek.


"Mas Arsen kenapa lagi sih ? perasaan ssmalam sikapnya hangat kenapa pagi ini udah berubah lagi ??" batin Rena.


"Mas Arsen mau sarapan sekarang ?" tanya Rena dengan lembut.


"Tidak, saya mau makan di kantor saja"


Setelah mengatakan itu Arsen langsung meninggalkan Rena sendiri.


"Loh nyonya, tuannya gak sarapan ?" tanya Leni yang sedang menghidangkan sop ayam buatan Rena.


"Tidak bu, katanya dia sarapan di kantor" jawab Rena lirih.


"Yaa, padahal nyonya udah masak yang enak untuk tuan"


Kepala Rena menunduk, memang kenyataannya begitu, kalau dirinya sengaja memasak yang banyak untuk Arsen, ia ingin menyiapkan sarapan yang lezat untuk suaminya itu. Rena bahagia akan sikap Arsen semalam.


Namun kenyataannya Arsen justru bersikap dingin pada Rena sangat berbeda dengan sikapnya semalam.


"Mungkin aku terlalu berharap kalau Mas Arsen akan berubah, harusnya aku tetap sadar kalau Mas Arsen adalah pria dingin yang tak punya perasaan"


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Di kantor Arsen....


Sedang terjadi keributan disana, karena Talia memaksa untuk masuk keruangan Arsen walau banyak karyawan yang melarangnya.


"Hei kalian gak tau ya siapa saya ? saya ini teman dekatnya Mas Arsen, dan sebentar lagi saya akan menjadi istri sahnya Arsen" teriak Talia dengan lantang.


Beberapa karyawan ada yang sudah ketakutan karena mereka pikir itu semua benar, namun tidak dengan Jasmin yang terus melarang Talia masuk.


"Maafkan saya bu, tapi Tuan Arsen tak memerintahkan siapa pun masuk keruanganhya kecuali atas izin Tuan Arsen" jelas Jasmin yang merasa muak dengan sikap Talia.


"Kau ini Hanya sekretaris kan, mau kamu saya pecat"


Jasmin justru tersenyum mengejek "Yang boleh memecat saya hanya Tuan Arsen sendiri, jadi saya tidak takut dengan ancaman anda. Lagian Tuan Arsen tak memberi tahu apapun kalau ada tamu"


Talia geram, ia menggepalkan kedua tangannya, namun saat akan menjambak rambut Jasmin, tiba-tiba Robert dan Arsen tiba.


"Ada apa ini ?" tanya Robert dengan suara keras.


Sontak saja membuat seluruh karyawan ketakutan begitupun dengan Jasmin, akan tetapi tidak dengan Talia melihat kehadiran Arse, Talia justru langsung mendekat dan bergelayut manja di lengan Arsen.


"Sen lihat mereka, dari tadi aku mau masuk keruangan kamu tapi di larang" ucap Talia dengan nada manjanya.


"Apa sih Talia, lepaskan tangamu !! dan pergi dari sini !!" balas Arsen membuat Jasmin tersenyum mengejek ke arah Talia.


-----


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...