
Suara adzan subuh telah berkumandang, membuat Arsen membuka matanya secara perlahan. Ia menoleh kesamping dimana sang istri masih terlelap dalam tidurnya.
Telapak tangannya membelai pipi sang istri, membuat perempuan itu menggeliat.
"Ada apa mas ? aku masih mengatuk" ucap Rena dengan suara seraknya.
"Bangun sayang, udah Adzan kita sholat dulu. Nanti lanjut lagi tidurnya"
Walau masih sangat mengantuk, Rena langsung membuka matanya. Ia tidak ingin melalaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.
"Gendong kekamar mandinya" pinta Rena manja.
"Berat sayang... Berat badan kamu kan bertambah terus"
"Masa gak kuat sih, cemen amat"
"Ya sudah sini" Arsen langsung menuruti keinginan sang istri, walau rasanya pinggangnya akan patah karena menggendong Rena. Tapi ia tahan dari pada sang istri marah-marah.
"Hehe. Makasih mas" balas Rena.. Kedua tangannya melingkar di leher sang suami...
Arsen hanya diam saja, setelah sampai dikamar mandi ia mendudukan sang istri di atas closed.
"Kamu duluan aja mas wudhu nya, aku mau pipis dulu"
"Iya sayang"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Waktu sudah menunjukan pukul 07 pagi, Jasmin sudah bersiap untuk berangkat kesebuah desa yang di perintahkan oleh Arsen. Walau sebenarnya ia sangat malas harus pergi berdua bersama Robert.
Din--Diiiinnnn
Suara klakson mobil begitu nyaring terdengar, Jasmin langsung keluar dari rumahnya, lalu mengerutkan dahi saat melihat mobil Robert sudah ada di depan rumahnya.
"Ayo cepat !!" perintah laki-laki itu.
Jasmin mencibir "Kenapa harus di jemput sih, aku bisa kok bawa mobil sendiri kesana"
"Jangan banyak bicara, ayo masuk !"
"His, kamu betul-betul menyebalkan ya" kembali Jasmin mencibir. Tapi tetap saja ia menuruti perintah pria itu.
Robert tersenyum, ia segera melajukan mobilnya. Pagi ini keadaan jalan belum terlalu padat jadi Robert bisa mempercepat laju mobilnya.
Selama perjalanan kedesa Jasmin lebih banyak diam. Ia memikirkan ucapan sang mama semalam. Kedua orang tuanya sudah begitu menginginkan dirinya menikah, lalu kemana ia harus mencari seorang pria yang mau menjadi suaminya.
"Kamu kenapa ?" tanya Robert karena heran melihat perempuan di sebelahnya lebih banyak diam.
"Tidak apa-apa"
"Biasanya kalau perempuan sudah mengatakan tidak apa-apa, pasti ada sesuatu. Cerita saja sama aku, siapa tau kan aku bisa bantu"
Jasmin hanya melirik sinis kearah Robert, bagaimana caranya laki-laki itu akan membantunya. Ini bukan perkara muda.
"Ayo cerita ! aku siap mendengarnya" kembali Robert mengeluarkan suara
"Aku bingung" balas Jasmin, sepertinya ia memang harus berbagi masalah dengan orang lain.
"Bingung kenapa ?"
"Kedua orang tuaku menginginkan aku untuk menikah, tapi bagaimana caranya sedangkan aku belum memiliki pasangan..." jelas Jasmin lirih.
"Ya kamu tinggal cari pasangan saja"
"Memangnya mudah cari pasangan ?.. Lagian siapa yang mau dengan ku ?.."
Robert melirik kearah Jasmin sejenak kemudian kembali fokus kejalanan.
"Aku yang akan membantumu" ucap Robert membuat Jasmin terkejut.
"Bagaimana caranya ?"
"Aku yang akan menjadi kekasihmu"
"Hah... Apa ?? aku gak salah dengar kan ??"
"Tidak"
"Tapi ini perkara besar Robert, aku tidak mau melibatkan kamu dalam masalah ini."
"Kenapa ? apa kamu ragu jika menjadi istriku ?.. Pekerjaan ku memang hanya Asisten tapi percayalah aku sudah memiliki tabungan yang banyak, dan kehidupan mu bersama anak-anak nantinya akan terjamin"
Mendadak wajah Jasmin menjadi panas, apakah pria disampingnya itu sedang mengungkapkan perasaannya ?. Atau dirinya hanya bercanda ?
Entahlah...
Yang jelas Jasmin merasa berbunga-bunga sekarang.
"Bagaimana apa kamu mau menjadi istriku ?." ulang Robert.
"Kamu melamarku ?"
"Ya bisa di bilang begitu"
"Masa gak ada romantis-romantisnya"
"Memangnya cara yang romantis itu seperti apa ?.. Aku kan tidak tau caranya"
Robert menatap jalanan, saat berada dijalanan yang sepi laki-laki itu menghentikan mobilnya, membuat Jasmin bingung.
"Kenapa berhenti ?" tanya Jasmin.
Robert menatap kearah Jasmin, ia menggenggam tangan Jasmin dengan erat.
"Aku tau aku hanyalah laki-laki biasa, laki-laki yang jauh dari kata sempurna..Tapi izinkan aku membahagiakan kamu, membimbingmu menjadi istri yang baik... Kamu maukan menikah denganku ?". ucap Robert dengan sungguh-sungguh..
Mata Jasmin berkaca-kaca, ia tak menyangka kalau Robert bisa seromantis ini. Dengan pelan ia menganggukan kepalanya.
"Kamu menerimaku ?" tanya Robert memastikan.
"I--ya" jawab Jasmin malu-malu.
"Yes.... Terima kasih.. Aku akan segera melamarmu didepan orang tuamu langsung"
Jasmin hanya menganggukan kepalanya, rasa bahagia dan legah menjadi satu. Ia tak menyangka kalau jodohnya akan datang secepat ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kamu mau kemana Talia ?" tanya Dian saat melihat Talia sudah berpakaian rapih.
"Aku mau kemakam Paman Willi dulu Tante. Bisakah aku meminta tolong untuk menjaga Ara sebentar"
"Oh.. Bisa kok. Tapi kamu jangan lama-lama ya, kan anak kamu ASI"
Talia menganggukan kepalanya, ia langsung melangkah keluar setelah menitipkan putri kecilnya pada Dian.
Talia sudah memesan taksi online untuk mengantarnya kemakam Willi. Walau disana masih ada mobil kosong tapi Talia tak berani memakainya. Talia tetap sadar diri kalau dirinya hanya menumpang di rumah Arsen.
"Ke Makam xxxxx ya pak" ucapnya pada sang sopir.
"Baik mbak"
Mobil sudah melaju dengan cepat, Talia menatap keluar jendela, hari ini ia akan mengunjungi makam Willi. Sudah sangat lama ia tak kesana.
Tidak berapa lama mobil sudah berhenti tepat di pemakaman yang tadi ia katakan. Setelah membayar ongkos, Talia langsung keluar dari mobil.
Sebelum memasuki makam, Talia mengenakan kaca mata hitamnya. Ia juga membenarkan hijab pasmina yang kini ia kenakan.
"Assalamualaikum mas" ucap Talia setelah berada disamping malam Willi, kali ini ia memanggil Willi dengan sebutan mas bukan lagi paman. Karena walau bagaimana pun Willi adalah ayah kandung dari anaknya.
"Anak kita sudah lahir mas, dia cantik sekali"
"Apakah kamu senang mendengarnya"
"Aku bingung mas, bagaimana caranya menjelaskan padanya suatu hari nanti kalau Ayahnya telah tiada. Apalagi kita tidak pernah terikat oleh tali pernikahan"
Air mata Talia menetes, ia membuka kaca mata hitamnya untuk menghapus lelehan air mata itu. Mungkin saat ini anaknya tak tau apa-apa, tapi suatu hari nanti...
Talia tidak ingin karena ulahnya bersama Willi. Anaknya akan menjadi imbasnya.
"Kau tau mas, sekarang aku tinggal bersama Arsen dan Rena. Lucu kan padahal aku sudah jahat banget sama dia, tapi mereka tetap mau nerima aku"
"Bahkan mereka memperlakukan ku dengan baik, menerima anak kita dan memberinya kasih sayang"
Kembali jarinya menghapus air matanya, ia mengingat bagaimana ia dan Willi dulu berniat jahat pada Arsen dan Rena.
"Aku pulang dulu ya mas, maaf aku belum bisa kirim doa sama kamu, karena aku belum selesai masa nifas"
Talia berdiri dari duduknya, ia meninggalkan makam Willi dengan menahan rasa sesak didadanya.