
Akhirnya setelah menunggu sekian lama, seluruh bukti sudah terkumpul. Arsen sudah tak sabar untuk membuat Talia pergi dari kehidupannya.
Saat ini kakek Raymond sedang berada di rumah Arsen, mereka semua berkumpul di ruang tamu, membuat Talia heran untuk apa pria paruh baya itu mengumpulkan mereka semua.
"Apa kakek Raymond akan menentukan pernikahan ku dengan Arsen ya ?... Aaahhh kalau memang begitu aku akan sangat bahagia". batin Talia tersenyum sendiri.
"Eheeeemmmmm" Kakek Raymond berdeham membuat semua pasang mata menatap kearahnya.
"Talia, kakek mau nanya sama kamu. Dan tolong jawab dengan jujur" sambung kakek Raymond lagi.
"Baik kek" jawab Talia dengan semangat.
"Apa benar kamu hamil ?"
"Iya, kan Arsen sudah dengar sendiri dari dokter"
"Berapa usia kandunganmu ?"
Kali ini pertanyaan kakek Raymond membuat Talia terdiam, ia bingung harus menjawab dengan apa, apalagi Talia tak mengetahui apa-apa tentang kehamilan.
"Kenapa diam ? ayo jawab ! berapa usia kandunganmu"
"Enam minggu, eh... Berapa ya aku gak begitu paham masalah kehamilan" jawab Talia ambigu, wajahnya sudah memucat karena gugup dengan pertanyaan tersebut.
"Bukan menginjak bulan ke empat" selidik kakek Raymond lagi.
Lagi-lagi Talia di buat tercekat, ia sama sekali tak menyangka kalau kakek Raymond akan mengetahui usia kehamilannya.
"Talia, mending kamu jujur sama aku dan kakek kalau anak yang sedang kamu kandung itu adalah anaknya paman Willi" sahut Arsen yang langsung to the point.
Talia langsung menatap kearah Arsen, wajahnya semakin memucat mendengar hal itu.
Kenapa mereka semua mengetahui semuanya, mungkinkah sudah saatnya kebohongan dirinya di ketahui semua orang. Talia menundukan kepalanya, ia bingung harus bagaimana.
"Jawab Talia ?? apa itu anaknya paman Willi ?" bentak Arsen yang sudah kehilangan kesabarannya.
"I--ni anakmu Arsen.... Kenapa kamu menuduhku begitu"
"Ciiiihhhh.. Kau ini masih saja mau berbohong"
"Arseeeeennn" sahut kakek Raymond, ia tak suka dengan cara Arsen. "Mending kamu diam saja" sambung kakek Raymond lagi.
Tak berapa lama Robert mengeluarkan ponselnya, lalu memutar sebuah video dimana keempat orang suruhan Talia sedang mengatakan kejujuran. Talia mendongakan kepalanya menatap tajam kearah Robert.
"Kamu pasti mengenal kan siapa mereka" ucap kakek Raymond.
"Ti--dak kek, aku tidak mengenal mereka. Pasti ini kerjaan sekretaris sialan ini" balas Talia dengan gugup.
"Anda masih saja mau mengelak nona, padahal semua bukti sudah menjelaskan kalau anda salah dan ingin menjebak tuan Arsen"
"Diam kau !!" tunjuk Talia pada Robert.
"Talia cukup" kali ini kakek Raymond membentak "ayo jujur siapa ayah dari anak yang sedang kamu kandung ? apa benar itu anaknya Willi".
Entah bagaimana lagi Talia harus mengelak, semua orang sudah mengetahui kebohongannya.
Talia ingin sekali mengakui semuanya, tapi bagaimana dengan kehamilannya, ia takut kakek Raymond dan Arsen tidak mau menerima semuanya, lalu mereka akan membuang dirinya entah kemana.
Haaaa... Membayangkan nya saja Talia sudah tak sanggup. Tanpa terasa air matanya menetes membasahi pipi mulusnya.
"Talia jika memang itu anaknya paman Willi, kamu gak usah takut, aku dan kakek akan bertanggung jawab" ucap Arsen yang mulai iba terhadap Talia.
Dengan lekat Talia menatap Arsen "Kamu akan menikahiku ? walau ini bukan anakmu ?" tanya Talia.
"Ya enggak dong Talia, aku kan ada istri. Maksud ku bertanggung jawab adalah menerima dan akan merawat anak mu. Aku dan kakek juga yang akan menjaga kamu selama kamu mengandung dan melahirkan" jelas Arsen kembali kesal, bisa-bisanya Talia beranggapan Arsen akan menikahinya...
"Aku tidak mau mengandung tanpa suami, apa kata orang-orang di luar sana tentang ku"
Sementara kakek Raymond masih terdiam, ia sudah yakin kalau anak yang ada di kandungan Talia adalah anaknya Willi.
"Arsen tolong nikahi aku, aku tidak masalah kamu jadikan istri kedua, yang penting anak ini lahir ada sosok Ayahnya" Kali ini Talia bersujud di kaki Arsen.
"Tidak Talia, aku tidak bisa melakukan itu"
"Kenapa ? inikah anaknya paman kamu itu sama saja kalau kamu mau bertanggung jawab"
"Hahahhaa" Arsen tertawa "Kamu ini lucu sekali, mana bisa seperti itu, kalau memang anak itu adalah anaknya Paman Willi itu berarti itu keponakan ku, bagaimana bisa dia akan menjadi anakku" sambung Arsen lagi, ia menggelengkan kepalanya berulang kali.
Talia memundurkan tubuhnya, kemudian menatap kakek Raymond.
"Benar itu anaknya Willi ?" tanya Kakek Raymond
"Iya kek" jawab Talia yang akhirnya mengakui semuanya.
"Lalu kenapa kamu berbohong kalau itu anaknya Arsen ? kau tau Talia karena perbuatanmu rumah tangga Arsen berantakan"
Talia tak menjawab, padahal ia ingin sekali mengatakan kalau ia tak peduli dengan rumah tangga Arsen dan Rena, bahkan melihat rumah tangga Arsen berantakan adalah suatu kebahagiaan untuknya.
"Kamu tenang saja, kakek akan menanggung semua biaya kehamilan dan persalinan kamu nanti" ucap kakek Raymond dengan lembut.
Namun tiba-tiba Talia berdiri, ia berlari menuju dapur. Air matanya menetes dengan deras.
"Nona itu untuk apa ?" tanya Marni panik saat Talia mengambil pisau yang amat tajam.
"Diam !! aku tak butuh pertanyaanmu" bentak Talia.
"Tapi itu tajam sekali nona"
"Aku bilang diam ya diam, apa kamu mau aku bunuh dengan pisau ini?" Talia mengarahkan pisau di tangannya ke arah Marni, membuat Marni langsung memundurkan langkahnya karena takut.
Di ruang tengah mendengar ada keributan, kakek Raymond, Arsen dan Robert langsung menyusul kedapur. Mereka bertiga terkejut saat melihat Talia mengarahkan sebuah pisau kearah Marni.
"Talia, apa yang kau lakukan ?" ucap Arsen.
Talia menoleh "Aku tidak mau hamil tanpa suami, kalau kamu tidak mau menikahiku, lebih baik aku membunuh anak ini" kali ini Talia mengarahkan pisau itu ke perutnya
"Jangan lakukan itu Talia, walau kamu tidak ada suami tapi kami akan merawatmu dengan baik" sahut kakek Raymond.
"Tidak mauuuuuu... Aku ingin Arsen menikahiku. Aku ingin dia menjadi ayah dari anak ini"
"Itu tidak akan bisa Talia, Arsen tidak bisa menjadi Ayah dari anakmu karena itu anaknya Willi"
"Bodoh amat, kalau Arsen tetap tidak mau menikahiku maka aku akan membunuh anak ini, biarkan saja dia pergi menyusul ayahnya"
Suasana mendadak tegang, apalagi Talia sudah menempelkan ujung pisau keatas perutnya, membuat Kakek Raymond dan Arsen begitu panik.
Sementara Robert berjalan perlahan menuju belakang Talia. Walau ini sangat membahayakan untuknya tapi Robert tak peduli.
"Lepaskan !!" teriak Talia saat Robert berhasil menjauhkan pisau itu dari tangan Talia.
"Robert hati-hati" ucap Arsen.
Sreeeeetttt.
Darah mengucur dengan deras, karena Talia melukai lengan Robert. Tapi laki-laki itu tak menjerit sedikitpun, ia merebut pisau itu dengan paksa.
Melihat pisau itu sudah tak ada di tangan Talia, Arsen pun langsung memegangi Talia supaya tak berbuat ulah lagi.
...----------...
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...