Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 78



Hari berlalu begitu cepat, saat ini usia kandungan Rena sudah lima bulan. Perutnya sudah sangat membesar karena kehamilan kembar yang ia alami.


Sebagai seorang suami, Arsen selalu siaga. Apalagi saat ini Rena mulai kesusahan saat hendak bangun tidur ataupun berdiri.


"Mas bantuin !" ucap Rena setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan sang suami.


"Iya sayang sebentar"


Arsen mengangkat tubuh sang istri dengan pelan. "Hari ini kita kerumah sakit kan buat periksa kandungan kamu"


"Apa iya mas ? kok aku lupa ya"


Satu lagi perubahan dari Rena, yaitu mudah lupa. Membuat Arsen sering gemas sendiri dengan tingka istrinya itu. Padahal dulu Arsen yang sering bertanya pada sang istri, namun sekarang semuanya terbalik.


Bahkan Rena kerap melupakan dimana meletakkan hijabnya,padahal saat berada dikamar hijab nya yang baru di pakai Rena letakkan di atas kasur.


"Iya sayang, hari ini jadwal periksanya. Astaghfirullah istriku benar-benar pelupa sekarang" Arsen geleng-geleng kepala, membuat Rena terkekeh.


"Maaf mas"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jika kandungan Rena sudah memasuki bulan kelima, maka kandungan Talia sudah memasuki bulan kesembilan, itu berarti wanita itu akan segera melahirkan.


Talia sudah membiasakan jalan-jalan pagi setiap hari, ia ingin melahirkan secara normal, walaupun kakek Raymond menyarankan secara Caesar saja. Tapi Talia menolak, ia tak enak hati karena melakukan operasi akan membutuhkan biaya yang sangat besar.


"Ini minumnya, kamu capek sekali kelihatannya. Lihat tuh keringat kamu banyak banget" Dian memberikan segelas air putih pada Talia.


"Terima kasih Tante"


"Sama-Sama"


Dengan sekali teguk Talia langsung menghabiskan minuman itu, rupanya ia benar-benar haus sekarang.


Hingga beberapa saat kemudian Arsen dan Rena turun.


"Habis jalan-jalan lagi ya mbak ?" tanya Rena.


Talia menoleh lalu meletakkan gelas yang sudah kosong keatas meja "iya Ren, aku ingin lahiran normal"


"Kalau kamu tidak sanggup mending nurut sama kakek saja, kamu lahiran secara caesar" sahut Arsen yang menarik kursi untuk sang istri.


"Enggak Sen, aku tetap ingin melahirkan secara normal. Biar aku ngerasain gimana perjuangan menjadi seorang ibu"


"Mau normal dan caesar sama saja Talia, sama-sama akan merasakan sakit..Cuman bedanya kalau normal kamu akan merasakan sakit di awal karena kontraksi tapi kalau caesar kamu akan merasakan sakit diakhir" sahut Dian menjelaskan.


"Pokoknya serahkan semuanya pada Allah. Rena juga maunya lahiran normal kok nantinya"


Tentu saja ucapan Rena membuat Arsen terkejut, padahal ia ingin sang istri melahirkan secara caesar saja, apalagi Rena hamil anak kembar. Akan sangat sakit jika melahirkan secara normal menurutnya.


Sejak Rena hamil, Arsen sering kali menonton proses melahirkan. Dan semua itu membuat Arsen takut tapi ia selalu berusaha tenang di depan sang istri, ia tak ingin Rena tau ketakutannya saat ini.


"Kamu yakin nak mau lahiran normal, kan kamu hamil kembar ?" tanya Dian sembari menatap Rena dengan seksama.


"Insya Allah Rena yakin Bu"


"Tapi tetap konsultasi dengan dokter dulu ya nak, jangan memaksakan kehendak. Ibu tidak mau terjadi apa-apa sama kamu dan calon anak kamu"


"Iya bu, makanya hari ini aku juga mau nanya sama dokter bisa gak aku lahiran normal"


"Kalian mau kerumah sakit hari ini ?" tanya Dian.


"Iya bu, kan hari ini jadwal periksanya Rena" sahut Arsen kemudian.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Saat ini Arsen dan Rena sudah berada di rumah sakit. Di ruangan dokter Ratna yang memang sudah menjadi dokter yang menangani Rena selama kehamilan.


Rena sudah berbaring diatas ranjang pasien, seorang suster mengoleskan jell keperut Rena. Sementara dokter Ratna duduk di atas kursi sambil memegang alat USG.


"Apa keluhanya bu ?" tanya dokter Ratna.


"Tidak ada dok, hanya saja aku sering lupa"


Dokter Ratna mengarahkan alat USG di atas perut Rena. Sehingga di layar monitor nampak hasil USG.


"Ini bayinya bu, semuanya sehat. Kedua janin nya bergerak sangat aktif"


Mata Rena menatap fokus kelayar monitor, perasaannya tak karuan, yang jelas ia begitu bahagia dan bersyukur karena di beri kepercayaan sekaligus.


"Air ketubanya juga bagus, dan ini detak jantungnya"


Sama dengan Rena. Arsen pun begitu fokus menatap kelayar. Mendengarkan suara detak jantung yang begitu cepat terdengar.


"Masya Allah, tabarakallah" gumam Arsen.


"Jenis kelaminnya baru kelihatan satu nih, kalian mau tau atau enggak ?" tanya Dokter Ratna dengan menatap Arsen dan Rena bergantian.


"Mau tau dok" jawab Rena segera.


"Jenis kelaminnya yang ini laki-laki, kalau yang satunya sepertinya dia malu-malu buat nunjukin"


Arsen tersenyum mendengarnya, ada-ada saja menurutnya. Tapi setelah mendengar kalau salah satu anaknya berjenis kelamin laki-laki. Sebentar lagi ia akan benar benar menjadi seorang Ayah.


"Mungkin bulan depan yang satunya mau melihatkan jenis kelaminnya" ujar dokter Ratna sembari mengakhiri pemeriksaan.


Rena kembali ketempat duduk setelah sebelumnya seorang suster membersihkan perut Rena dari Jell. Ia dan Arsen duduk sembari menunggu dokter Ratna menuliskan resep.


"Ini vitamin nya silahkan di tebus. Dan susunya tetap harus di minum dua kali sehari ya bu"


"Baik dokter" Rena mengangguk.


"Ada yang ingin di tanyakan ?"


"Ada dok" jawab Arsen membuat Rena menoleh, apa yang hendak di tanyakan suaminya itu, pasalnya sedari tadi Arsen tak menceritakan kalau akan bertanya sesuatu pada dokter.


"Iya silahkan pak Arsen, mau bertanya apa"


"Apa boleh melakukan hubungan suami istri ?" tanya Arsen sedikit ragu. Tentu saja pertanyaannya membuat Rena malu.


Sementara dokter Ratna tersenyum "Boleh kok pak, tapi cari posisi yang aman dan nyaman"


"Bisa di jelaskan dok, posisi yang nyaman itu yang seperti apa ?"


"Asal jangan telentang ya pak, bisa duduk ataupun Ibu Rena yang diatas."


Arsen terlihat menganggukan kepalanya, ia mengerti sekarang. Selama ini ia begitu menginginkan hal itu namun ia khawatir akan mempengaruhi kandungan sang istri.


"Ada lagi pak ?" tanya Dokter Ratna.


"Udah dok terima kasih jawabannya"


"Sama-sama pak"


Sebelum pulang Arsen dan Rena mengambil obat terlebih dahulu.


"Bisa-bisanya kamu bertanya tentang itu mas" ucap Rena.


"Lah kenapa sayang ?"


"Malu tau"


"Kenapa harus malu, kitakan suami istri"


Benar memang kenapa harus malu, harusnya Rena senang karena Arsen memilih bertanya dulu sebelum melakukan semua itu.


"Tunggu di kursi dulu, mas ambilin vitaminnya" pinta Arsen.


"Iya mas"


Rena menatap punggung sang suami yang sedang bicara dengan petugas apoteker. Ia tersenyum dan sangat bersyukur punya seorang suami yang siaga seperti Arsen.


"Kamu selalu bisa membuatku jatuh cinta Mas, kamu selalu berhasil membuat hatiku berbunga-bunga". batin Rena