
Setelah selesai menanda tangani berkas yang di berikan Arsen. Rena berdiri untuk pamit pulang namun langkah nya langsung di hentikan oleh Arsen.
"Mau kemana kau ?" tanya Arsen.
Rena menoleh "Saya mau pulang Tuan, bukankah semuanya sudah selesai ?"
"Ciiih, lancang sekali kau ya.. Siapa yang menyuruhmu pulang ? aku belum memerintahkan apa-apa"
Tubuh Rena menegang, ia begitu takut dengan setiap ucapan Arsen. Laki-laki itu terdengar begitu menakutkan saat bicara.
"Duduk !" perintah Arsen dengan nada pelan, tapi bagi Rena itu adalah sebuah perintah.
Rena kembali ke tempat duduk nya, ia menunduk dengan degup jantung yang berpacu dengan kuat.
"Nanti malam pernikahan ini akan di laksanakan, dan siang ini saya akan membawamu ke rumah untuk bertemu Kakek. Tapi sebelum itu kau rubah dulu penampilan mu itu, bisa-bisa si tua bangka itu akan tertawa dengan puas jika aku membawamu dengan penampilan seperti ini" jelas Arsen
"Robert, kau bawa dia kesalon ! pastikan dia tampil cantik saat aku membawanya ke hadapan kakek" titah Arsen pada Robert.
"Baik Tuan" balas Robert.
"Kau" tunjuk Arsen pada Rena "Ikutlah dengannya"
"Iya Tuan" jawab Rena masih dengan kepala menunduk.
"Mari nona Rena !" ajak Robert.
Rena berdiri mengikuti langkah kaki Robert, walau pikirannya tertuju pada Elvan yang ia titipkan pada tetangga. Rena berharap anaknya itu tidak rewel dan membuat masalah.
Robert membukakan pintu mobil untuk Rena "Masuklah Nona waktu kita tak banyak !" perintah Robert.
"Baik" balas Rena menurut.
Selama dalam perjalanan Rena hanya diam membisu, ia menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Hidupnya begitu malang apalagi harus menikah kontrak dengan pria asing yang baru saja ia temui.
Lalu bagaimana caranya menjelaskan pada Elvan nanti ? haruskah ia mengatakan pada Elvan kalau ia akan menikah dan Elvan akan mempunyai Papa baru ?
Entahlah, semua itu masih sangat membingungkan untuk Rena, apalagi ia dan Arsen hanya menikah selama setahun. Dan hal menyakitkan lainnya ia akan menjadi janda lagi untuk yang kedua kalinya.
"Nona ayo turun, kita sudah sampai" ucap Robert membuyarkan lamunan Rena.
Rena tersadar ia menoleh ke kiri dan kekanan, di lihatnya Robert sudah berdiri di luar mobil. Dengan buru-buru Rena membuka pintu mobil lalu menyusul Robert.
"Permisi Pak ada yang bisa saya bantu ?" tanya seorang wanita yang bekerja sebagai karyawan butik itu.
"Pilihkan pakaian yang paling bagus untuknya !"
"Baik Pak" wanita itu mengangguk "Mari Bu ikut saya" ajaknya pada Rena.
Rena tak lagi banyak pertanyaan, ia hanya mengikuti kemana ia akan di bawa. Saat di suruh memilih beberapa pakaian disana Rena kebingungan apalagi melihat nominal harga yang membuat tubuhnya merinding.
"Mahal sekali ? dengan uang ini aku bisa membeli apa saja kebutuhan Elvan, tapi ini hanya untuk membeli pakaian" batin Rena.
"Bagaimana Bu ? yang mana yang Ibu suka ? ini keluaran terbaru semua"
"Apa tidak ada yang murah ya mbak ? ini terlalu mahal untuk saya"
Wanita itu mengkerut, namun ia kembali menampilkan senyumnya "Ini butik Bu semua pakaian disini berkualitas, kalau ibu mau yang murah ibu bisa mencari di pasar depan sana" ucap nya dengan halus namun terdengar menyakitkan.
Robert yang memperhatikan Rena tak kunjung mengambil pakaian pun mendekat.
"Bagaimana Nona Rena, apa sudah ada pilihannya ?" tanya Robert.
"Ini mahal sekali Tuan ? saya tidak ada uang untuk membayarnya" balas Rena jujur.
"Anda tenang saja Nona, semua ini di bayar oleh Tuan Arsen calon suami anda, jadi anda tinggal memilih mana saja yang menurut anda bagus" jelas Robert.
"Tapi Tuan.."
"Waktu kita tak banyak Nona" potong Robert membuat Rena terdiam.
Karena tidak ingin membuat Robert marah akhirnya Rena menjatuhkan pilihannya pada sebuah gamis berwarna Pink Panta lengkap dengan hijabnya. Saat di coba itu terlihat sangat pas di tubuhnya.
Setelah memilih pakaian Robert kembali membawa Rena ke salon, di sana Rena benar-benar berubah. Bahkan Robert sampai terpana melihat penampilan Rena yang menurutnya sangat berbeda.
Dering ponsel milik Robert membuat laki-laki itu segera memalingkan wajahnya, ia langsung menjawab panggilan dari Arsen.
"Kami sudah selesai Tuan" ucap Robert pada sambungan telepon
"Baik Tuan"
Tuuuuutttt.
Setelah panggilan terputus Robert kembali membawa Rena pergi.
"Kita mau kemana lagi Tuan ?" tanya Rena setelah berada di dalam mobil.
"Kita akan kerumah Tuan Arsen Nona, oh ya ingat saat disana nanti jagala sikap anda, bersikaplah seolah anda mengenal Tuan Arsen begitu dekat" jawab Robert.
"Insya Allah akan saya lakukan Tuan"
"Dan jangan panggil Tuan Arsen dengan sebutan Tuan, anda kan calon istrinya jadi panggilah dia dengan sebutan lain. Akan tetapi ini berlaku saat ada Kakek Raymond saja"
Rena hanya mengangguk "Ini jam berapa Tuan ?" tanya Rena.
"Jam setengah 12 siang, kenapa ? apa anda lapar Nona ?"
"Tidak, saya hanya kepikiran dengan anak saya Tuan"
"Anda tenang saja Nona, jika urusan selesai anda akan saya antar pulang"
Mobil terus melaju dengan cepat, Hingga tak berapa lama mobil berhenti di depan pagar megah. Tak berselang lama pintu pagar terbuka dengan otomatis membuat Rena benar-benar kagum.
Di depan rumah megah itu ada Arsen yang sudah berdiri, saat mobil berhenti Arsen langsung mendekat dan membukakan pintu mobil untuk Rena.
"Ingat jaga sikap ! dan jangan panggil aku Tuan !" bisik Arsen membuat Rena menjauh.
"I--ya Tuan, Eh Mas Arsen"
"Sip" Balas Arsen, saat ia akan menggenggam tangan Rena dengan cepat Rena menghindar membuat Arsen geram.
"Hei, kenapa kau menjauh ? ini hanya sandiwara dan aku juga tak sudi bersentuhan dengan mu" bentak Arsen dengan suara pelan.
"Maafkan saya Tuan, walaupun hanya sandiwara tapi bagi saya itu tidak pantas, kita belum SAH menjadi suami istri"
"Ciiihh, ayo jalan kalau gitu"
Arsen berjalan duluan barulah di susul oleh Rena, mereka memasuki rumah dengan penjagaan yang sangat ketat, apalagi banyak pelayan yang bekerja disana.
"Selamat siang Kek" ucap Arsen pada Kakek Raymond yang sedang duduk di ruang tamu dan menikmati acara televisi.
Kakek Raymond menoleh, melihat kedatangan Arsen dan juga seorang wanita, pria paruh baya itu langsung berdiri.
"Siapa yang kau bawa ?" tanya Kakek Raymond.
"Calon istriku" balas Arsen mantap.
Kakek Raymond mendekati Rena, sesuai permintaan Arsen dan Robert kalau ia harus menjaga sikap, Rena langsung menampilkan senyum indahnya.
"Assalamualaikum Kek, saya Rena" ucapnya dengan ramah.
"Sudah lama kau mengenal cucuku ?" tanya Kakek Raymond langsung.
"Su--dah Kek" jawab Rena gugup.
"Arsen" panggil kakek Raymond.
"Iya Kek"
"Dapat dari mana kau wanita ini ?"
-----
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...