
Benar saja tepat jam 03 pagi Arsen kembali membangunkan Rena, tapi dengan cara berbeda tentunya. Arsen menelusuri leher jenjang Rena menggunakan jari telunjuk sehingga rasa geli dan risih dapat Rena rasakan.
Wanita yang masih memejamkan matanya itu seketika menggeliyat. Tidurnya terasa terusik, padahal Rena masih sangat mengantuk namun akibat ulah sang suami akhirnya Rena mau tak mau membuka mata.
"Ada apa Mas ?" tanya Rena dengan suara serak has bangun tidur.
"Mengulang kegiatan kita semalam" jawab Arsen.
"Tapi aku masih lelah"
"Kamu tidur saja dan nikmati, aku yang akan bermain"
Tanpa menunggu jawaban ataupun izin dari Rena. Arsen langsung meluncurkan aksinya membuat tubuh Rena menegang seketika. Wanita cantik itu tak bisa membantah apalagi sekarang ia pun merasakan sesuatu yang berbeda.
"1 ronde lagi ya" bisik Arsen dan langsung di jawab anggukan kepala oleh Rena.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Pagi ini cuaca tak secerah biasanya, sepertinya akan turun hujan, langit mendung berada dimana-mana. Membuat siapa saja malas untuk melakukan kegiatan.
Begitupun dengan Arsen yang masih bergelung didalam selimut tebal. Habis melakukan hubungan suami istri tadi ia kembali tertidur bahkan laki-laki itu tak menggubris sedikitpun saat Rena membangunkan dirinya untuk sholat subuh.
Derrrrtttr---Derrrrtttt.
Suara ponsel Arsen berbunyi dengan kencang, membuat Arsen sedikit kesal. Ia merabah meja nakas untuk mencari benda yang terus mengeluarkan suara itu.
Setelah mendapatkannya Arsen langsung menjawab panggilan dari seseorang, ia menempelkan ponselnya di daun telinga.
"Selamat pagi Tuan, Maaf kalau saya mengganggu". ucap Robert di seberang sana.
"Ada apa ?"
"Keadaan kantor sedang darurat Tuan, semalam ada penyusup yang masuk ke sini, dua security kita luka berat akibat pukulan, dan ruangan Tuan di acak-acak"
"Apa ?" Arsen langsung bangun, ia mengusap wajahnya dengan gusar. Pikirnya siapa yang berani melakukan itu, karena selama ini semua orang tau kalau perusahaan Arsen terjaga dengan ketat.
"Saya akan segera kesana" ucap Arsen lagi kemudian langsung mematikan sambungan telepon.
Laki-laki itu langsung beranjak dan menuju kamar mandi, pikirannya benar-benar kalut sekarang. Jika saja bisa Arsen ingin terbang ke perusahaan agar segera tiba.
Tak berapa lama Rena masuk kekamar, ia mencari dimana suaminya, seketika Rena tersenyum saat mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi. Ia yakin itu suaminya.
Rena pun membereskan tempat tidur, mengganti seprai karena hasil pergulatanya semalam bersama sang suami.
Ceklek..
Pintu kamar mandi terbuka, Arsen keluar dan langsung menuju lemari pakaian. Langkahnya yang belingsatan dan nampak buru-buru membuat Rena heran.
"Kamu kenapa Mas ? kok buru-buru sekali ?" tanya Rena.
"Barusan aku dapat kabar kalau semalam perusahaan ada yang membobol, dua security luka parah dan ruanganku di acak-acak" jelas Arsen
"Astaghfirullah, siapa yang melakukannya Mas ?"
"Aku juga belum tau sayang"
Rena berinisiatip membantu sang suami, ia mengancingkan kemeja Arsen lalu memasangkan dasi.
"Mau pakai jam tangan yang mana ?" tanya Rena lagi, pasalnya ia tahu kalau suaminya selalu mengganti jam tangannya.
"Yang mana saja sayang, yang menurutmu bagus. Mas udah gak bisa mikir nih"
Pilihan Rena pun jatuh pada jam tangan berwarna gold, ia langsung memakaikan jam itu di pergelangan sang suami.
Cup.
"Makasih ya, kalau gitu aku berangkat dulu. Kamu jaga diri baik-baik di rumah !" pesan Arsen setelah mendaratkan sebuah ciuman di kening istrinya.
"Hati-hati Mas, kabari aku kalau ada apa-apa"
"Siap nyonya"
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Di rumah Kakek Raymond....
Kakek Raymond yang sedang sarapan langsung menghentikan kegiatannya. Laki-laki paruh baya itu beranjak kemudian berjalan menuju sang anak yang barusan datang.
"Ada apa ?" tanya Kakek Raymond pada Willi.
"Aku membawa sesuatu untuk Ayah ketahui, aku yakin setelah Ayah membaca ini Ayah akan kaget seperti aku"
"Memangnya apa yang kau bawa ?"
Willi memberikan sebuah map yang semalam ia dapatkan di kantor Arsen. Ia berharap setelah Kakek Raymond membaca ini perusahaan itu gagal di berikan pada Arsen.
Kakek Raymond mengambil map itu. "Mbok tolong ambilkan kaca mataku di kamar" perintahkan pada seorang wanita yang biasa ia panggil dengan sebutan Mbok.
"Baik Tuan" balas Mbok Jumi menurut.
Sembari menunggu kaca matanya, kakek Raymond mendudukan diri di sofa. Begitupun dengan Willi yang menatap sang Ayah sambil tersenyum misterius.
"Ini Tuan" Mbok Jumi memberikan kaca mata Kakek Raymond.
"Terima kasih" balas kakek Raymond kemudian segera memakainya.
Dengan pelan kakek Raymond membaca isi berkas itu, seketika amarahnya memuncak saat mengetahui isi surat itu yang tak lain adalah surat perjanjian pernikahan antara Arsen dan Rena.
"Dari mana kau mendapatkan ini Willi ?"
"Ayah tidak usah tau aku dapatnya dari mana, yang jelas surat itu adalah surat penting"
"Antarkan aku kerumah Arsen sekarang !!" perintah Kakek Raymond.
"Dengan senang hati Ayah, aku akan mengantarkan Ayah sampai depan pintu"
Kakek Raymond langsung berdiri, ia melangkahkan kakinya dengan cepat. Dirinya sama sekali tak menyangka kalau Arsen sudah membohongi nya selama ini. Jadi pernikahan Arsen dan Rena hanya sebuah rekayasa supaya Arsen bisa mendapatkan perusahaan dengan cepat.
"Aku yakin setelah ini, perusahaan itu akan Ayah tarik lagi dan akan di berikan padaku" batin Willi.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Di Perusahaan..
Arsen melangkahkan kakinya dengan cepat, para karyawannya berjajar untuk menunggu kedatangannya, bisik-bisik karyawan terdengar ditelinga Arsen
"Mana Robert ?" tanyanya pada salah satu karyawan disana.
"Tuan Robert ada di ruangan anda tuan"
Arsen langsung memasuki lift, ia memencet tombol yang mengarah kelantainya dengan gerakan cepat. Rasanya sangat menjengkelkan karena lift berjalan dengan sangat lambat.
Setelah pintu terbuka, dengan sedikit berlari Arsen langsung menuju ruangannya.
"Tuan" sapa Robert
"Apa kau sudah mengetahui siapa pelakunya ?" tanya Arsen sembari menyapu seisi ruangannya yang masih berantakan.
"Belum tuan, penyusup itu begitu pintar, sebelum masuk keruangan ini dia mematikan semua CCTV"
"Brengsek" Arsen memukul meja kerjanya dengan keras.
"Siapa yang berani melakukan ini ?" gumam Arsen lagi.
"Tapi setelah saya cek tidak ada satu berkas yang hilang di ruangan anda tuan, bahkan surat-surat berharga kantor ini masih ada"
Saat itu juga kening Arsen mengkerut, jika berkas-berkas penting nya masih ada lalu apa yang di ambil oleh pencuri itu. Otak Arsen berpikir dengan keras, ia menebak-nebak siapa dalang dari semua ini.
"Kau yakin berkas penting tidak ada yang hilang" tanya Arsen lagi yang ingin memastikan.
"Sangat yakin Tuan, bahkan uang di dalam sana yang jumlahnya ratusan juta tak ada satupun yang dia ambil"
"Lalu untuk apa mereka masuk kesini" pikir Arsen lagi.
-----
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FABORIT...