Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 44



Dua hari sudah Arsen dan Rena liburan. Hari ini keduanya akan segera pulang karena Rena juga sudah merindukan putra semata wayangnya itu.


Namun sebelum pulang Rena memanen buah dan sayuran. Arsen berdiri sambill menyandarkan tubuhnya pada dinding. Kedua tangannya ia lipat didada melihat sang istri yang tertawa lepas saat memanen sayuran adalah kebahagiaan tersendiri untuk nya.


Sesekali Arsen terkekeh melihat kelakuan istrinya "Kau sangat menggemaskan sayang" batinya.


Tak berapa lama Rena mendekat, Bu Siti dan pak Saiful menyusul di belakangnya. Sepasang suami istri itu membawakan hasil panen Rena.


"Lelah ya" tanya Arsen.


"Tidak Mas, aku bahkan sangat bahagia"


"Sini Mas lap keringat nya, lihat tu hijabnya basah karena keringat"


Rena mendekatkan wajahnya, ia merasakan telapak tangan Arsen mengelap keringat di keningnya. Ia benar-benar merasakan kasih sayang suami nya itu.


Setelah mengelap keringat sang istri, Arsen tak melewatkan menge cup puncak kepala istrinya yang tertutup hijab. Pak Saiful dan bu Siti menjadi baper melihat pasangan itu.


"Ini mau di bawa semua Nyonya ?" tanya Bu Siti.


Rena menoleh kemudian kembali menatap suaminya "Apakah boleh Mas aku membawanya pulang ?"


"Ya boleh dong sayang, bawa aja semuanya"


"Tapi apa teman Mas itu tidak akan marah karena aku membawa begitu banyak hasil panen"


Arsen terkekeh "Tidak sayang, nanti kalau dia marah aku yang akan memarahi dia balik"


Rena bersorak, ia lantas membantu Bu Siti untuk menyusun hasil panennya. Namun semua itu langsung di cegah oleh Arsen.


"Kau tidak perlu membantu Sayang, sana bersiap saja. Ini biar pak Saiful dan Bu Siti yang melakukannya"


"Tapi Mas...."


"Betul kata Tuan, lebih baik nyonya mandi dan bersiap bukanya kalian akan pulang" sahut pak Saiful.


"Baiklah kalau begitu"


Rena meninggalkan ketiganya. Setelah sang istri tidak ada disana Arsen mengeluarkan uang lalu memberikannya pada pak Saiful.


"Ini bonus buat kalian, dan tolong jaga lagi Villa ini dengan baik" ucap Arsen


"Terima kasih Tuan" pak Saiful menerima uang itu "Kami janji akan menjaga Villa ini dengan baik"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sekarang Rena dan Arsen sudah berada di perjalanan pulang. Kali ini Rena nampak menikmati semuanya tak seperti saat berangkat yang mana Rena lebih memilih tertidur.


Mata Rena menatap pepohonan "Mas aku buka jendelanya ya"


"Iya sayang"


Arsen sengaja memelankan laju mobilnya, ia ingin sang istri menikmati perjalannya kali ini.


"Ya Allah udaranya segar sekali Mas"


"Namanya juga di perkampungan sayang"


Saat melewati perkampungan Rena terus tersenyum pada semua orang yang melihat kearahnya. Arsen hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sang istri.


"Mas ada pasar" tunjuk Rena.


"Terus mau apa sayang ?"


"Kita berhenti dulu Mas, siapa tau disana ada mainan yang unik"


"Itu pasar sayuran Rena, ngapain kesana"


Betul memang saat mobil mereka melewati sebuah pasar kecil, hanya ada aneka sayuran disana, dan semua itu sudah Rena dapatkan di perkebunan tadi.


"Enakan kesini kan dari pada ke korea ?" tanya Arsen


"Ya mana aku tau Mas, kan aku belum ke korea jadi gak bisa membedakan"


"Tapi menurutku enakan kesini"


"Enak dua-duanya lah, kalau ke korea ketemu Oppa kalau kesini dapatnya buah dan sayuran"


Arsen mendengus "Ketemu kakek kok bangga" gumamnya.


"Oppa itu panggilan untuk kakak Mas, bukan kakek"


"Terserahlah"


\=\=\=\=\=\=\=\=


Rasa rindunya terhadap sang putra begitu dalam. Ini kali pertama Rena dan Elvan berpisah.


"Mama" teriak Elvan, bocah tampan itu langsung berlari kearah Rena.


Rena berjongkok ia merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan hangat putranya. Ia hujani wajah Elvan dengan ciuman bertubi-tubi.


Selesai itu Rena menyalami kakek Raymond, sementara Arsen mengeluarkan barang-barang dari bagasi mobil dan di bantu oleh Marni dan Leni.


"Apa itu ?" tanya Kakek Raymond.


"Buah dan sayuran kek, itu di petik sendiri di kebun" jawab Rena antusias.


"Wah segar-segar dong, kakek mau lah buahnya"


"Iya kek nanti Rena bagi, itu banyak kok"


Marni dan Leni membawa semua barang kedalam rumah.


"Oh ya apa Elvan tidak nakal Kek ?" tanya Rena.


"Tidak sama sekali, bahkan dia begitu pintar. Kemaren kakek bawa dia ke Mall untuk jalan-jalan"


Sekarang Elvan sudah berpindah ke pelukan Arsen. Mereka semua masuk kedalam rumah kemudian istirahat di ruang keluarga.


"Ma" panggil Elvan setelah Arsen mendudukan Elvan di sampingnya.


"Iya Nak" jawab Rena dengan lembut.


"Kema-len aku cama Akung jalan-jalan" Elvan mulai bercerita. Bagaimana keseruan dirinya dan kakek Raymond kemaren saat jalan-jalan ke Mall.


"Wah senangnya. Kapan-kapan Mama mau di ajak kesana"


"Boleh Ma, cama papa juga"


Arsen mengacak rambut Elvan dengan gemas "Nanti papa ajak kesana ya"


Kakek Raymond begitu bersyukur melihat keluarga Arsen yang rukun. Ia berharap semua itu akan terus seperti ini.


"Hari ini kakek mau pulang" ucap kakek Raymond membuat Rena langsung menatap pria paruh baya itu.


"Kenapa pulang kek, apa kakek tidak betah disini ?" tanya Rena


"Bukan begitu nak, kakek sangat betah disini apalagi ada Elvan yang selalu menemani kakek. Hanya saja kakek tidak bisa meninggalkan rumah dengan lama"


Arsen pun paham dengan ucapan sang kakek. Di rumah itu memang banyak kenangan indah kakek Raymond bersama istri.


"Nanti kalian yang menginap disana" ujar kakek Raymond.


"Pasti kek" balas Arsen "Oh ya apa Robert tidak pernah datang kemari ?"


"Kemaren dia datang dan yang punya ide untuk membawa Elvan bermain kan dia. Kakek mana berani bawa Elvan ke tempat ramai seperti itu Sen"


Arsen mengangguk, ia tahu bagaimana kakeknya.


"Papa, Mama" tiba-tiba Elvan memanggil lagi.


"Iya El" jawab Rena dan Arsen serempak.


"Mana adek bayinya. Katanya nanti di bawa" tanya Elvan dengan polos.


"Matilah aku, bagaimana cara menjawabnya ? ah kenapa Elvan masih ingat sih soal itu, aku kira dia balalan lupa" batin Arsen.


"Ehm, Itu El. Papa lupa" jawab Arsen dengan bodohnya.


Kakek Raymond mencebikkan bibirnya "Makanya kalau bicara itu hati-hati, daya ingat Elvan itu begitu kuat" ucap kakek Raymond.


"Kok bica lupa ?" Elvan masih terus melayangkan pertanyaan.


Sementara Rena hanya mendelikan matanya, ia kesal dengan Arsen yang selalu bicara semaunya pada Elvan. Tidak sadar oleh Arsen kalau Elvan sedang dalam masa pertumbuhan apalagi daya ingat Elvan itu sangat kuat.


"Mama, kok bica lupa bawa dedek bayinya ?" kali ini Elvan mengajukan pertanyaan pada Rena.


"Nanti mama jelaskan, sekarang El main sama Bibi dulu ya didalam" balas Rena.


----


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...