Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 12



"Saya akan selalu membantu anda Tuan, lagian selama perusahaan ini anda urus semua berkembang pesat, jadi Kakek anda pasti paham"


Memang benar apa yang di katakan oleh Robert, semenjak perusahaan di urus oleh Arsen langsung berkembang pesat melebihi saat di urus oleh sang Ayah. Bahkan banyak perusahaan dari luar dan dalam negeri bergabung dengan perusahaan Raymond.


"Tapi tetap saja sebelum surat itu ada di tanganku, aku belum bisa tenang"


"Anda pasti akan mendapatkan nya Tuan, percaya padaku"


Arsen menatap ke arah Robert, selama ini apa yang Robert katakan selalu benar, dan kali ini Arsen benar-benar berharap semua itu kenyataan. Bukan karena dirinya gila harta hanya saja Arsen tak ingin hasil kerja keras ayahnya di nikmati oleh orang seperti Paman Willi.


"Oh ya bagaimana hasil nya ? apa wanita janda itu paham dengan maksudmu mendatanginya ?" tanya Arsen yang kembali mengingat tentang Rena.


"Saya sudah menjalankan tugas dengan baik Tuan, nona Rena paham dengan apa yang saya sampaikan, dia akan berusaha menguba panggilan nya"


"Baguslah kalau begitu, saya harap anak kecil itu tak akan memanggilku dengan sebutan Papa karena itu sangat membuatku tak nyaman".


Arsen menghela nafasnya, hari ini terlalu banyak yang membuat emosinya naik, pagi tadi ia mendengar sebuah panggilan tak masuk akal dari seorang anak kecil yang bukan anaknya, dan siang ini ia di datangi oleh orang yang sangat ia benci.


"Saya permisi dulu Tuan, saya akan memanggil OB untuk membersihkan ruangan anda" ucap Robert.


"Hemmmm"


🍀🍀🍀🍀🍀


Sementara itu Rena dan Elvan sedang berbelanja di pasar, Rena sengaja tak pergi ke swalayan dan memilih pasar tradisional karena menurutnya disana lebih segar dan harganya juga terbilang murah.


Di tangannya sudah banyak plastik berisi sayuran, sementara tangan satunya ia gunakan untuk menggandeng Elvan. Di tempat keramaian seperti ini mata Rena jangan sampai lengah karena ia tak ingin hal buruk terjadi pada anaknya.


"Mama" panggil Elvan, langkah berhenti tepat di depan aneka mainan.


Rena pun menghentikan langkahnya "Iya nak ada apa ?"


"Mau itu" tunjuk Elvan pada sebuah mainan yang menggantung di depannya.


"El, kan di rumah sudah punya mainan, jadi pakai yang itu dulu ya nak ! nanti kita beli lagi kalau yang di rumah sudah rusak" jelas Rena, ia bukannya tak mau membelikan Elvan mainan hanya saja Arsen tak memerintahkan hal itu, ia takut salah lagi dan akan membuat Arsen marah.


"Huaaaaa... Aku mau itu Ma" tak di sangkah Elvan malah menangis membuat beberapa ibu-ibu menatap kearahnya.


"Ya Allah, kok nangis sih Nak"


"El mau itu, El mau itu" anak laki-laki itu berontak membuat Rena kewalahan, di tambah ia merasa malu saat di tatap semua orang.


"Baiklah sayang, kita beli tapi El jangan nangis lagi"


Mendengar hal itu Elvan langsung berhenti menangis, di ganti dengan senyum kecil.


"Nanti akan aku jelaskan pada Tuan Arsen, semoga dia mengerti" batin Rena penuh harap.


Rena mendekat kearah tukang mainan, lalu menanyakan harga mainan yang di inginkan oleh Elvan, setelah tawar menawar akhirnya Rena membayar barang yang anak nya inginkan.


"Sepertinya sudah cukup, lebih baik aku pulang kasian Elvan dia seperti nya sudah mengantuk"


"Mana panas lagi"


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Hari sudah beranjak sore, Rena baru saja selesai memasak, saat telinga mendengar suara langkah seseorang mendekat membuatnya menghentikan pekerjaan sebentar.


"Tuan Arsen" panggil Rena saat melihat Arsen baru saja pulang bekerja.


Arsen menghentikan langkahnya "Kenapa ?" tanyanya dengan nada dingin.


"Ini tuan sisah uang belanja tadi, dan maaf 50 ribu saya pakai untuk membeli mainan" jelas Rena dengan gugup,ia begitu takut Arsen akan marah lagi.


"Terserah kau saja mau kau belikan apa, dan sisahkan kau saja yang simpan itukan uangmu, dua minggu sekali saya akan memberikan uang seperti itu"


Rena terkejut mendengarnya "Apa ini termasuk nafka dari anda tuan ?"


Kini tatapan Arsen langsung tertuju pada Rena, keningnya mengkerut "Nafkah ? maksudnya ?"


"Terserah kau mau menganggapnya apa ?"


Sedikit senyum terbit di bibir Rena membuat Arsen yang tak sengaja melihat itu langsung memalingkan wajahnya, entahlah ia merasa tak tahan dengan senyum itu.


"Sial, kenapa dia cantik sekali kalau sedang tersenyum" batin Arsen.


"Hmmm, tuan mau makan ? saya sudah menyiapkan semuanya"


"Tidak, saya sudah makan tadi, kan saya sudah katakan kalau saya tak mau memakan apapun masakanmu"


"Maaf Tuan"


"Saya mau istirahat dan jangan ganggu saya".


Rena mengangguk, ia menatap kepergian sang suami,. Sedikit rasa bangga ada di diri Rena karena tak menyangkah kalau sekarang ia mempunyai suami setampan dan segagah Arsen.


Saat melihat langkah kaki Arsen berhenti, Rena langsung menundukan kepalanya.


"Oh ya saya lupa, untuk Art belum dapat makanya hari ini belum ada yang kesini"


"Iya Tuan tidak apa-apa, insya Allah saya tidak keberatan membersihkan rumah ini"


"Benarkah ? lalu apa sekarang kau sudah membersihkan kamar ku ?" tanya Arsen.


"Belum Tuan"


"Sekarang kau bersihkan kamarku, pastikan tidak ada debu yang menempel"


"Baik Tuan akan saya kerjakan"


Rena langsung mengikuti Arsen menuju kamarnya, ia berharap anaknya Elvan belum bangun dari tidurnya supaya tak mengganggu pekerjaannya.


Di dalam kamar itu Rena langsung membersihkan semuanya, bahkan saat Arsen meminta di ganti seprai Rena langsung melakukan. Selagi Rena bersih-bersih Arsen duduk di sofa kamarnya sembari memainkan ponsel.


"Tuan sudah sholat ?" tanya Rena.


Arsen mendongak "Belum"


"Kenapa belum, kalau begitu silahkan sholat dulu sebelum waktu Ashar habis"


"Iya nanti" jawab Arsen.


Rena tak pantang menyerah,ia kembali menyuruh Arsen untuk melaksanakan sholat karena menurutnya ini adalah kewajibannya untuk mengingatkan sang suami.


"Kalau di tunda terus nanti waktunya habis Tuan"


"Hei, kau siapa sampai berani memaksaku, jangan mentang-mentang aku mau bicara padamu kau sampai berani ya" bentak Arsen kesal.


"Maafkan saya tuan, tapi walau bagaimanapun saya ini istri anda, saya punya kewajiban untuk mengingatkan anda apalagi mengenai ibadah. Saya tidak ingin nanti di tanya di akhirat"


Arsen langsung terdiam mendengarnya, ia sedikit terharu dengan ucapan Rena.


"Sana keluar, saya mau mandi" usir Arsen kemudian.


"Baik Tuan, tapi anda jangan lupa sholat ya !"


Arsen tak lagi menjawab, setelah kepergian Rena. Arsen langsung menatap dirinya di pantulan cermin, ia membayangkan masa kecilnya.


"Apa masih pantas aku mendirikan sholat, bahkan aku sudah lupa bagaimana caranya, aku sudah banyak berdosa"


"Tidak mungkin kalau aku minta bantuan Rena untuk mengajariku Sholat, bisa-bisa aku di tertawakan habis-habisan"


---


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...