
Malam itu karena keingin Arsen, akhirnya Rena menuruti keinginan suaminya, dengan catatan tak ada yang namanya main kuda-kudaan seperti yang Arsen katakan tadi.
Saat ini Rena sedang menidurkan Elvan. Anak laki-lakinya itu sedari tadi minta pulang, mungkin karena ia sudah terbiasa tidur dikamar dengan fasilitas mewah, tak seperti sekarang.
Sementara Arsen tidur dilantai yang beralaskan tikar, padahal tadi Rena sudah bilang kalau di rumah itu hanya ada satu kasur, tapi Arsen tetap ngotot ingin menginap disana.
Kamar yang ukurannya 3 kali lipat lebih kecil dari kamar Arsen di rumah menjadi tempat tidurnya malam itu, tak ada AC sebagai pendingin ruangan, hanya ada sebuah kipas angin yang bunyinya sampai memekakan telinga.
Plaaakkk.
Kembali Arsen menepuk lengannya saat ada seekor nyamuk yang menempel disana. Mungkin saja besok badannya akan bentol-bentol karena gigitan nyamuk.
"Mas"
"Iya"
"Kamu udah tidur belum ?"
"Belum sayang, kenapa memangnya ?"
"Enggak papa, Mas gak bisa tidur ya karena banyak nyamuk"
"Enggak kok, memang belum ngantuk aja" balas Arsen sedikit berbohong, padahal memang dirinya tak bisa tidur karena hewan yang bentuknya kecil namun begitu mengganggu.
"Kalau mau pulang ya ayok" Rena membalikan tubuhnya menghadap kearah Arsen, "Masih jam 09 malam ini" lanjutnya lagi.
"Gak mau, pokoknya malam ini kita tidur disini"
Rena menarik napas panjang, suaminya memang keras kepala, jika itu adalah keinginan Arsen maka tak ada yang boleh membantahnya.
"El udah tidur" Arsen menegakan tubuhnya sedikit untuk melihat putranya itu.
"Udah kok" balas Rena.
"Selimutin yang, banyak nyamuk nanti yang gigit"
"Iya Mas"
Puuuukkk.
"Mati kau" seru Arsen saat berhasil mematikan seekor nyamuk yang sedari tadi berkeliaran di dekat telinganya.
Melihat sang suami, Rena menjadi kasihan. Ia pun beranjak dari tempat tidurnya kemudian melangkahkan kakinya menuju keluar kamar.
"Mau kemana ?" tanya Arsen heran.
"Tunggu disana sebentar Mas, aku mau cari obat nyamuk dulu, siapa tau masih ada"
"Jangan lama" teriak Arsen saat Rena sudah hilang di balik pintu.
Tentu saja Rena tak lagi menjawab, ia kini sedang mencari kesebuah lemari. Siapa tau obat nyamuk bekas mereka dulu masih tersisa.
"Alhamdulillah masih ada" gumam Rena tersenyum saat menemukan obat nyamuk bakar di dalam laci lemari usang itu.
Rena pun membawa obat nyamuknya kedalam kamar, setidaknya sang suami bisa tidur nyenyak malam ini.
"Apa itu sayang ?" tanya Arsen, rupanya laki-laki itu tak paham yang namanya obat nyamuk yang di bakar seperti itu.
"Obat nyamuk Mas" jawab Rena, ia menuju sudut kamar untuk meletakkan obat nyamuk yang sudah ia bakar sebelumnya.
"Oh" Arsen mendekat, ia memperhatikan apa yang di lakukan sang istri.
Setelah selesai Rena berdiri, ia membalikan tubuhnya sehingga berhadapan dengan sang suami.
"Main yuk sayang, siapa tau di kamar ini ia akan segera hadir" bisik Arsen di telinga Rena, membuat seluruh tubuh Rena meremang seketika.
"Yakin mau main di sini, alasnya cuman tikar loh Mas"
"Gas lah, dari pada kebelet"
"Das---" belum sempat Rena melanjutkan ucapannya, Arsen sudah meyerang dengan ciuman bertubi-tubi. Melahap bibir ranum itu dengan rakusnya seolah ini adalah hal pertama bagi Arsen.
"Emmmmmm" Rena menepuk dada sang suami, pasokan oksigennya hampir habis karena serangan mendadak itu.
"Napas sayang !" ucap Arsen dengan suara serak. Ia mengelus pipi sang istri dengan lembut.
"Makanya mas pelan-pelan dong"
"Hehe, iya-iya maafkan mas, habisnya bibir kamu jadi candu buat Mas"
"Issstttt" cibir Rena.
Sesekali Arsen mengerang karena merasa lututnya keram, tapi semua itu tak membuat Arsen menyudahi permainannya, ia terus memacu tubuhnya untuk merasakan kenikmatan yang luar biasa.
"Terima kasih sayang" ucap Arsen sembari mengelap keringan yang menetes di pelipis Rena. Ia ke cup kening itu dengan penuh kasih sayang.
"Aku lelah Mas"
"Tidurlah, aku akan menjagamu"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya....
Arsen dan Rena bersiap untuk pulang, karena Arsen ingin ke kantor setelah kemaren memilih meliburkan diri.
Di luar rumah tampak bu Tanti membawakan makanan, membuat Rena mengernyit bingung. Pasalnya wanita setengah baya itu tak pernah berbagi makanan dengannya saat dulu ia dan Elvan tinggal disini.
"Eh Rena mau kemana ? kok udah rapih banget ?" tanya Bu Tanti dengan ramah.
"Kami mau pulang bu, Mas Arsen mau kerja"
"Ya padahal saya mau cerita-cerita sama kamu kan udah lama kita gak ketemu" ucap bu Tanti dengan wajah murung.
"Lain kali saya sama Rena akan berkunjung kerumah ini lagi" sahut Arsen yang sejak tadi berdiri di belakang sang istri.
"Oh begitu.. Ini makanan buat kalian, tadi saya bikin kue makanya saya bagi, ini saya masak sendiri loh" Bu Tanti memberikan piring bersisi kue itu kepada Rena "Piringnya bawa aja" sambungnya lagi.
Rena menoleh kearah sang suami, tampak Arsen menganggukan kepalanya. Rena menerima piring itu.
"Terima kasih ya bu, nanti kalau saya berkunjung kerumah ini lagi piringnya saya ganti"
"Iya Ren, jangan sungkan-sungkan kitakan tetangga"
Rena meringis, sekarang aja ia dianggap tetanngga, dulu saja saat ia dan Elvan sedang mengalami kesusahan tak pernah sedikitpun wanita didepan nya itu menganggapnya tetangga.
Ternyata bukan hanya Bu Tanti yang memberikan makanan itu, ibu-ibu yang lain juga. Membuat Rena keheranan, sementara Arsen tampak menahan tawanya.
Saat Rena dan Arsen berpamitan setelah menerima makanan tersebut, bu Tanti langsung menghentikan langka kaki keduanya.
"Ada apa lagi ya bu" tanya Rena yang mulai jenga.
"Bisakah kamu memfotokan kami dengan suami kamu"
Rena memutar matanya dengan malas "Tanya sama orangnya dulu ya bu, mau gak dia foto sama ibu-ibu" jawab Rena malas.
"Bisa kok sayang, tidak apa-apa kan"
Dengan gerakan kesal Rena menganggukan kepalanya, ia pun menjadi tukang foto dadakan.
"Sudah ya bu ibu, kami mau pulang dulu, soalnya saya banyak kerjaan" ucap Arsen
"Iya ganteng, lain kali kami boleh ya minta foto lagi"
"Boleh, tapi kalau yang kedua harus bayar ya" canda Arsen membuat para ibu-ibu itu tertawa terbahak-bahak.
Saat di perjalanan pulang, Rena terus cemberut. Membuat Arsen heran.
"Kamu kenapa sayang ?" tanya Arsen.
"Senang ya habis foto-foto sama mereka"
"Astaga jadi marah karena hal itu, ya Allah sayang mereka cuman minta foto loh, sementara tubuhku hanya untukmu seorang"
Rena mencibir, mendengar ucapan sang suami.
"Mas berencana ingin merenofasi rumah kamu, kira-kira kamu setuju gak ?" tanya Arsen lagi kali ini dengan nada serius.
"Kamu serius Mas ? "
"Iyalah serius, supaya saat kita main kuda-kudaan gak di atas tikar lagi. Kau tau sayang sampai sekarang kakiku masih keram karena semalam" balas Arsen dengan ucapan tanpa filter padahal di belakangnya ada Elvan.
"El juga mau Pa main kuda-kudaan" sahut Elvan yang rupayanya mendengar ucapan Arsen.
"Mati aku, kenapa Elvan bisa dengar sih" maki Arsen dalam hati.
...---------...
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...