Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 46



Setelah pemakaman selesai, semuanya kembali kerumah. Malam ini Arsen mengajak istrinya untuk tidur di rumah kakek Raymond dan Rena langsung menyetujui hal itu.


"Elvan biar di jemput sama Robert" ucap Arsen saat mengingat kalau anaknya masih ada di rumah.


"Apa sebaiknya aku saja yang menjemput, aku juga mau menyiapkan pakain El"


Arsen tampak berpikir sebentar "kamu mau pulang sama siapa ?"


"Iya sama Robert lah Mas, kan tadi Mas nyuruh Robert untuk menjemput Elvan"


Mendengar hal itu jiwa kecemburuan Arsen meningkat, tentu saja ia tak akan mengizinkan istrinya pulang dengan Robert, apalagi di mobil hanya ada mereka berdua, membayangkannya saja sudah membuat Arsen kesal.


"Tuan saya akan segera menjemput tuan muda Elvan" tiba-tiba Robert datang.


"Saya ikut ya Robert, kebetulan ada yang mau aku ambil".sahut Rena.


"Baik Nona"


"Tidak bisa" potong Arsen cepat "biar aku saja yang pulang, kau urus yang lain" pintanya pada Robert.


Robert mengerutkan keningnya "tapi bukankah tuan menyuruh saya yang menjemput Tuan muda Elvan ?


"Iya awalnya memang begitu, tapi aku pikir istri saya tidak akan ikut. Kalau dia ikut ya mending saya saja yang mengantar. Tak sudi aku kalau istri saya berduaan dengan mu" balas Arsen dengan cetus.


Robert memiringkan sudut bibirnya, sementara Rena hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sang suami.


"Mana kunci mobilnya ?" Tanya Arsen pada Robert.


"Ini tuan" Robert memberikan kunci mobil pada Arsen.


"Kau bantu disini dulu ! Ingat jangan kemana-mana sebelum aku kembali"


"Baik Tuan"


"Ayo sayang" ajak Arsen pada istrinya.


Di balik kemesraan Rena dan Arsen, ada Talia yang menatap interaksi keduanya dengan tatapan tajam. Wanita itu mengeraskan rahangnya dan kedua tangannya mengepal dengan kuat.


"Kenapa Arsen sampai jatuh cinta sama janda itu sih" makinya dalam hati.


"Cantikkan juga aku dari pada si Janda"


Dengan perasaan kesal, Talia meninggalkan posisinya, ia berbaur dengan yang lain untuk membantu acara pengajian nanti malam.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setiba di rumah Arsen langsung mencari Elvan di halaman belakang, sementara Rena langsung kekamar menyiapkan pakaian yang hendak di bawa. Mereka tak akan pulang terlalu lama karena di rumah kakek Raymond sedang banyak kerjaan untuk pengajian nanti malam.


"Segini cukulah" gumam Rena sambil menatap pakaian Elvan yang akan di bawa. Hanya beberapa stel karena memang dalam seminggu kedepan ia dan sang suami akan menginap di rumah kakek Raymond.


Selesai mengemasi pakaian Elvan, Rena langsung menuju kamarnya untuk mengemasi pakaiannya sendiri, tak lupa mukena dan Al-quran kesayangannya yang akan ia bawa.


"Sayang sudah belum ?" tanya Arsen yang masuk kedalam kamar sembari menggendong Elvan.


"Sudah Mas, ayo berangkat lagi"


"Sini aku bawa tasnya" Arsen hendak mengambil tas yang sedang dibawa Rena, namun Rena tak memberikannya.


"Kamukan lagi gendong El, ini biar aku yang bawa" jelas Rena sebelum sang suami bertanya.


"Memangnya aku gak bisa melakukan itu, udah sini !! aku bisa membawa tas sekaligus gendong Elvan" balas Arsen dengan ketus "Sambil gendong kamu aja aku bisa" sambungnya lagi.


Rena justru terkekeh, ia pun memberikan tas di tangannya karena tak ingin berdebat terlalu lama dengan sanga suami.


Sebelum meninggalkan rumah. Arsen banyak berpesan kepada Marni dan Leni. Agar menjaga rumah dengan baik karena mereka akan kembali seminggu lagi. .


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sedari tadi Talia terus menatap Rena, apalagi saat Rena membaca surat Yasin dengan sangat khusuk, sementara dirinya hanya menatap sekeliling menggunakan ekor matanya.


Iya, bagaimana mungkin Talia bisa khusuk seperti Rena, karena ia sama sekali tak mengerti cara membaca Al-Quran.


"Wanita itu lancar sekali membaca Al-Quran" batin Talia


Setelah pembacaan surat yasin selesai, Rena menuju dapur. Melihat Rena yang beranjak Talia langsung mengikuti.


"Kelihatannya Arsen begitu menyanyangimu" ucap Talia dari belakang Rena.


Rena menoleh kesumber suara "Alhamdulillah kalau begitu, bukankah impian setiap istri itu dapat disayangi oleh suaminya" balas Rena, ia menebar senyum kearah Talia.


Talia memiringkan sudut bibirnya "Tapi aku masih gak yakin kalau Arsen menyayangimu dengan tulus, aku tau banget selera Arsen bagaimana. Ia sepertinya hanya kasihan padamu"


Rena terdiam, ia mengucap Istighfar berkali-kali. Menghadapi Talia harus ekstra sabar. Begitu pikir Rena.


"Mending kamu jaga-jaga deh, soalnya di luar sana banyak wanita yang lebih cantik darimu. Apalagi Arsen adalah pemimpin perusahaan" ucap Talia lagi.


"Tanpa kamu kasih tau pun aku sudah paham, dari awal aku sudah mengerti siapa diriku. Aku percaya pada Mas Arsen"


Talia mulai gentar, ternyata menaklukan Rena tak semuda yang ia kira. Terbukti dari tadi wanita berbalut hijab panjang itu begitu tenang menghadapinya.


"Permisi mbak Talia, saya mau mengantar minuman kedepan"


Talia terpaksa menyingkirkan tubuhnya, ia menatap punggung Rena dengan seksama. Jangan tanyakan bagaimana raut wajah perempuan itu pastinya sudah begitu kesal karena tak berhasil membuat Rena kesal.


Acara pengajian terlaksana begitu lancar, para tamu satu persatu meninggalkan kediaman kakek Raymond.


Setelah tamu mulai sedikit Rena berpamitan hendak kekamar duluan karena Elvan sudah mengantuk. Arsen langsung mengizinkan begitupun dengan kakek Raymond.


"Kau istirahat juga sana ! temani istri dan anakmu" ucap kakek Raymond.


"Tunggu sampai tamu benar-benar pulang semua kek"


Kakek Raymond menarik napas panjang "Kakek tak menyangka kalau pamanmu akan mengalami hal ini"


"Kakek tenang saja, Robert sedang mencari pelakunya. Arsen yakin kalau ini di sengaja"


Kakek Raymond mengangguk-anggukan kepalanya, sekarang yang ia punya hanya Arsen karena kedua anaknya sudah tiada. Terdapat raut kesedihan yang begitu dalam di wajah tua laki-laki itu.


"Kakek yang sabar ya" ucap Arsen.


"Iya Sen, tolong kau urus semuanya, kakek mau duluan kekamar"


"Silahkan kek"


Setelah kepergian Kakek Raymond, di ruang tamu tinggal Arsen, Robert dan Talia. Kedua laki-laki itu heran kenapa Talia belum juga tidur sampai sekarang.


Wanita itu berjalan mendekati Arsen.


"Jangan terlalu dekat denganku !" ucap Arsen dengan nada ketus.


"Sen, kenapa sih kita gak bisa seperti dulu lagi ?" Talia memegang lengan Arsen dan dengan cepat Arsen melepaskan tangan Talia.


"Sen.. Aku sayang sama kamu"


Arsen menoleh ia menatap Talia dengn tajam "Tolong lepaskan tangan mu Talia, aku tidak ingin istriku salah paham"


Namun Talia tak mendengarkan ucapan Arsen. Justru perempuan itu terus bergalayut manja di lengannya. Ia menoleh kearah tangga dan melihat Rena hendak turun dari tangga.


Karena memulai drama Talia seperti tersandung sesuatu, hingga akhirnya ia jatuh di dalam pelukan Arsen.


"Mas".... Pekik Rena kemudian...