Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 33



Di perusahaan....


Arsen turun dari mobil setelah seseorang membukakan pintunya.


"Selamat pagi Tuan" ucap Robert dan langsung membungkukan badannya.


Arsen mendekat "Kau bawa bekal didalam mobil ! tapi ingat jangan sampai tumpah !" bisik Arsen tepat di telinga Robert.


Walau ragu Robert tetap saja menganggukan kepalanya, karena setiap ucapan Arsen adalah perintah untuknya, dan suka atau tidak suka Robert harus menjalankan.


Arsen berjalan duluan memasuki lift khusus menuju ruanganya. Sementara Robert mengambilkan bekal makanan yang tadi di perintahkan oleh Arsen.


"Tumben Tuan Arsen membawa bekal ?" gumam Robert sembari menatap rantang makanan berwarna pink itu.


Seketika Robert terkekeh melihatnya, ia baru sadar kalai atasannya itu sedang mengalami bucit akut.


"Dasar" ia kembali bergumam.


"Dulunya aja bilang gak percaya yang namanya cinta, tapi nyatanya apa ??."


"Dasar bucin"


Menyadari kelancangan nya yang sudah menertawakan Arsen.. Segera Robert menutup mulutnya kemudian menoleh kekiri dan kekanan, setelah itu barulah ia menyusul Arsen yang mungkin saat ini sudah berada di ruangannya.


******


Saat akan memasuki ruangan Arsen. Langkah kaki Robert di hentikan oleh Jasmin.


"Apa itu Tuan ?" tanya Jasmin penuh ingin tahu.


"Makanan" jawab Robert singkat.


"Tumben tuan Robert bawa bekal"


"Bukan punya saya tapi punya tuan Arsen"


"Hah...??" Jasmin langsung kaget mendengarnya.


"Sudah sana kamu kembali bekerja, dan jangan ikut campur urusan orang lain"


Robert kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Jasmin yang masih mencerna ucapan Robert. Ia masih tak percaya kalau bekal itu untuk Arsen.


"Kira-kira siapa yang membawakan bekal untuk Tuan Arsen ? aku harus mencari tau semua ini" gumam Jasmin kemudian kembali kemeja kerjanya.


*********


Didalam ruangan Arsen, laki-laki seperti seseorang yang baru saja mengenal cinta. Senyumnya tak pernah pudar dan pikirannya terus tertuju pada Rena.


Benar kata Robert, Kalau Arsen sudah terlalu bucin pada Rena.


"Tuan saya letakkan makanannya di meja" ucap Robert.


"Hmmmmm"


"Sebentar lagi kita akan ada pertemuan dengan perusahaan asing, mereka mengajak bertemu di restoran X" jelas Robert.


"Hmmmmm".


Sedari tadi jawaban Arsen hanya seperti itu, membuat Robert memberanikan menatap wajahnya. Benar saja dugaan Robert kalau atasannya itu sedang melamun sambil tersenyum.


"Dasar bucin". kembali Robert mengatakan itu, tapi kali ini hanya didalam hati saja, Robert takut kalau Arsen mendengar nya.


"Kalau begitu saya mau keruangan saya dulu Tuan, hendak menyiapkan berkas yang lain" pamit Robert.


Namun saat langkahnya mencapai pintu, suara Arsen menggema.


"Kau mau kemana ?" tanya Arsen dengan nada dinginnya.


"Saya mau keruangan saya tuan"


"Kau tak menjelaskan apa saja kegiatan ku hari ini ? kau lupa ya tugasmu ?"


Astaga.....


Ingin rasanya Robert mencekiki leher Arsen.


Apa tadi katanya ??


Tak menjelaskan pekerjaan ?


Lalu tadi apa, bahkan Robert sudah berbicara panjang lebar namun hanya di jawab 'hmmmm' oleh Arsen. Robert mengira Arsen sudah mendengar semuanya, tapi nyatanya ?.


"Hari ini kita ada pertemuan dengan perusahaan asing, di restoran X" Robert kembali menjelaskan semuanya.


"Nah begitu dong, jangan main pergi saja"


"Jam berapa pertemuanya ?"


"Jam 10 tuan"


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Di luar perusahaan, seorang perempuan cantik sedang mengamuk dan berteriak sekencang mungkin, dari tadi Talia hendak masuk dan bertemu dengan Arsen, namun para sscurity disana langsung mencegah, karena mereka semua ingat pesan Robert yang melarang Talia masuk.


"Kalian akan aku laporkan ke Arsen karena sudah melakukan kekerasan padaku" teriak Talia dengan lantang.


"Laporkan saja nona, kami ini hanya menjalankan tugas dari tuan Robert" jawab salah satu security disana.


Talia kembali berontak, mendengar nama Robert membuat amarahnya memuncak, ia harus menyingkirkan laki-laki itu jika ingin bebas menemui Arsen.


"Awas aja kau Robert, suatu hari nanti aku akan menyingkirkan kamu dari kehidupan Arsen" ucapnya dalam hati.


"Lepaskan !!" pinta Talia.


"Kami akan melepaskan anda, kalau anda mau pergi dari sini"


Mata Talia menatap mereka dengan nyalang "Awas kalian semua, saya akan membalas perbuatan kalian" ancam Talia kemudian.


Para security itu tak takut sedikitpun, hingga akhirnya Arsen dan Robert terlihat berjalan mendekat. Membuat Talia memanfaatkan situasi ini.


"Arsen" panggil Talia dengan suara manja.


"Mau apa kau kesini ?"


"Aku mau ketemu sama kamu Sen, kamu kenapa sih kok galak banget sama aku"


Arsen menatap Talia dengan tajam. Dulu memang keduanya berteman, namun ada hal lain yang membuat Arsen begitu membenci Talia.


"Pergilah Talia ! aku mau bekerja" Arsen sengaja memelankan suaranya berharap Talia akan mengerti.


"Gak mau, aku mau ikut kemanapun kamu pergi"


"Talia... Ku mohon pulanglah !! jangan ganggu aku"


"Gak mau" ucap Talia layaknya seorang anak kecil "Aku kangen sama kamu Sen, aku ingin mengulang masa kecil kita"


Kali ini kesabaran Arsen sudah habis, ia menghempaskan tangan Talia yang bergelayut manja di lengannya.


"Dari tadi aku sabar menghadapimu, tapi kau tak mendengarkan aku, jadi jangan salakan aku kalau aku berbuat kekerasan"


Talia terhenyak kaget mendengar ucapan Arsen, ia tak berani lagi mengatakan apapun.


"Ayo Robert" ajak Arsen sembari membenarkan jasnya.


Talia hanya diam saja saat Arsen meninggalkan dirinya, namun dalam hatinya, sebuah amarah begitu memuncak dalam dirinya.


Ia tak terima selalu di lakukan seperti ini oleh Arsen. Talia berjanji pada diri nya sendiri akan membalas semuanya, Arsen harus jadi miliknya suatu hari nanti.


"Awas aja kau Arsen, suatu hari nanti kau akan bertekuk lutut padaku".


**********


"Kenapa wanita itu bisa datang lagi kekantor ? bukankah kau bilang kalau wanita itu tak akan datang lagi" tanya Arsen.


Robert paham apa yang di bahas oleh Arsen, tak lain adalah Talia.


"Maafkan saya Tuan, tapi saya janji akan memberi pelajaran pada Nona Talia"


Arsen tak lagi menjawab, setiap melihat Talia ada rasa amarah yang cukup besar di hatinya.


Tak berapa lama Arsen baru ingat kalau harus menyuruh Robert membakar surat perjanjiannya dengan Rena.


"Robert, tolong kau bakar surat perjanjian ku dan Rena dulu"


"Baik Tuan, tapi maaf kalau saya lancang untuk bertanya. Apa tuan sudah yakin untuk menjadikan nona Rena istri seutuhnya"


"Yakinlah, memangnya kenapa ?"


"Tidak apa-apa Tuan, saya ikut bahagia saja jika Tuan sudah menemukan wanita yang pas untuk Tuan"


Arsen tersenyum, saat membahas nama Rena membuat dirinya merindukan Rena.


Aaahhhhh... Rasanya ingin cepat-cepat pulang kemudian bertemu dengan Rena.


 


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...