
Dengan rasa kesal yang amat dalam, Jasmin langsung meninggalkan ruang kerja Arsen. Ia tak peduli walau Robert terus berteriak memanggil namanya.
"Saya pamit dulu tuan" ucap Jasmin.
Arsen mengerutkan dahi, ia pikir Jasmin sudah pergi sejak tadi, namun nyatanya wanita itu baru saja keluar.
Melihat raut wajah Jasmin yang nampak kesal, Arsen yakin kalau sudah terjadi apa-apa. Hingga tak berapa lama Robert keluar
"Mana wanita itu Tuan ?" tanya Robert, matanya menatap sekeliling untuk mencari keberadaan Jasmin.
"Wanita mana yang kau maksud ? di rumah ini ada banyak wanita"
"Sekretaris sialan itu Tuan"
"Memangnya ada apa ?"
"Dia sudah merebut ciuman pertamaku tuan, padahal bibir ini akan aku persembahkan untuk istriku nanti, tapi wanita itu mala merebutnya"
Mendengar hal itu Arsen menutup mulutnya seketika, ia menahan tawanya supaya tak pecah. Bagaimana bisa Robert berpikiran seperti itu, pantas saja jika Jasmin merasa kesal.
"Dasar bodoh" gumam Arsen tapi masih bisa di dengar oleh Robert.
"Iya tuan, dia memang bodoh"
"Bukan Jasmin yang bodoh tapi kau" Setelah mengatakan hal itu Arsen langsung berlalu dari sana, ia merasa pusing menghadapi kelakuan Robert.
Robert menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "kenapa aku yang disalahkan ?" batin Robert bingung.
Ia meninggalkan kediaman Arsen dengan perasaan bingung, niatnya ingin mencari pembelaan dari Arsen mala dirinya yang disalahkan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam harinya Arsen dan Rena duduk diatas ranjang, Rena menyandarkan kepalanya di pundak sang suami, sementara tangan Arsen mengelus rambut Rena dengan gerakan lembut.
TIba-tiba Arsen tertawa membuat Rena bingung.
"Kamu kenapa mas ? apa ada yang lucu ?" tanya Rena
"Tidak sayang, mas hanya ingat sama Robert tadi siang, bisa-bisanya dia menyalahkan Jasmin dengan menuduh Jasmin mencuri ciuman pertamanya, bisa di bayangkan bagaimana kesalnya Jasmin tadi"
Mendengar hal itu Rena pun ikut tertawa "Memangnyaa Robert itu belum pernah jatuh cinta mas ?"
"Perna sayang, dulu saat kami masih sama-sama kuliah. Dia perna naksir sama cewek tapi ceweknya mala naksir sama mas."
"Terus mas pacarin cewek itu ?"
"Ya enggak dong, kamu tau kan mas tidak percaya yang namanya cinta"
Rena mengangguk paham, ia sudah mengetahui semua masalalu suaminya, bagaimana dulu Arsen selalu menolak adanya cinta.
"Terus kenapa mas bisa cinta sama aku ?" tanya Rena penasaran.
"Enggak tau, mas gak bisa jelaskan. Perasaan itu muncul begitu saja tanpa bisa di cegah"
Rena terharu mendengarnya, ia menatap wajah sang suami dengan seksama. Pria tampan dan mapan itu adalah kepala rumah tangganya.
"Aku kaya cinderellah tau gak mas"
"Kok gitu ? kenapa ?"
"Ya mas tau sendirikan bagaimana kehidupan ku dulu, mau makan aja susah. Dan sekarang aku punya segalanya, apa yang aku inginkan dapat terwujud. Ya seperti kehidupan cinderellah"
Arsen mengecup kening sang istri dengan gemas "Tapi percayalah aku yang paling beruntung memilikimu sayang"
"Kita sama-sama beruntung mas, aku juga beruntung banget punya suami seperti mas"
Arsen tersenyum, ia menggenggam tangan sang istri dengan erat, sesekali ia mengecup punggung tangan Rena.
"Sampai tua seperti ini sayang, kamu adalah cinta pertama dan terakhirku"
"Aaamiin"
"Olaraga yuk" bisik Arsen.
"Tapi jangan cepat-cepat ya mas, kasihan dedeknya" balas Rena yang langsung mengerti kemana arah pembicaraan sang suami.
"Iya sayang, akan aku lakukan dengan pelan"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Harusnya aku yang marah"
"Aku sumpahin dia gak dapat jodoh"
Kekesalan Jasmin masih bertakhta, apalagi saat dikantor tadi Robert kembali menyalakan dirinya. Mana besok ia akan pergi berdua dengan laki-laki itu.
"Iiiiiiihhhhh, kenapa di dunia ini harus ada orang seperti Robert.
Tok--Tok--Tok.
Jasmin menolehkan wajahnya saat mendengar suara pintu di ketok. Ia yakin itu adalah sang mama.
"Masuk ma" teriak Jasmin.
Seorang wanita paruh baya membuka pintu kamar, lalu memasuki kamar Jasmin.
"Ada apa Ma ?" tanya Jasmin.
"Mama cuman ingin ngobrol aja sama kamu nak"
"Ngobrolin apa ma ? kaya penting aja"
"Kapan kamu menikah sayang ? umur kamu sudah 26 tahun. Itu sudah sangat pas bagi seorang wanita menikah"
Jasmin menarik napas panjang, ia selama ini tidak pernah menunda perihal pernikahan. Hanya saja Jasmin terlalu sibuk mendekati Arsen sehingga melupakan para pria yang mengejarnya.
"Nanti kalau jodohnya udah datang, Jasmin pasti bakalan nikah ma"
"Selalu itu yang kamu katakan. Selama ini banyak laki-laki yang mendekati kamu, tapi kamu menolak dengan alasan kamu sedang memperjuangkan laki-laki lain, lalu mana laki-laki yang kamu maksud ? apa kamu sudah berhasil menaklukan nya ?"
Jasmin menyengir, mamanya tidak pernah tau kalau selama ini ia mendekati bosnya sendiri.
"Dia udah nikah ma"
"Tuh kan, makanya kamu terima saja lamaran anak teman Papa"
"Ogah lah ma" balas Jasmin "masa iya aku nikah sama anak kaya gitu, dia tu laki-laki apa perempuan sih ma"
"Ya laki-laki lah nak, cuman kan dia terlalu di manja sama kedua orang tuanya, makanya dia kaya gitu. Tapi anaknya baik kok"
"Baik sih baik ma, cuman kalau orang nya gemulai seperti itu aku gak mau"
Tampak sang mama menarik napas panjang "Jasmin, mama sama papa udah tua nak, kami ingin sekali sebelum kami pergi nanti kamu sudah menikah dengan orang yang tepat"
"Mama apa-apaan sih kok bahas nya begituan, bikin Jasmin takut aja. Ia nanti aku akan mencari laki-laki untuk aku jadikan suami"
"Beneran ya !"
"Iya ma"
Setelah mengobrol panjang lebar, sang Mama keluar dari kamar Jasmin. Membuat wanita itu langsung membaringkan tubuhnya dengan asal.
"Masa iya aku akan menikah dengan pria itu" guman Jasmin memikirkan anak teman sang papa.
"Nanti bisa-bisa aku dan dia bakalan pinda tugas, dia yang jadi ibu rumah tangga dan aku akan menjadi bapak rumah tangga"
Jasmin menggelengkan kepalanya berulang, ia tak ingin semua itu terjadi. Ia berharap akan segera mendapatkan jodoh yang pas supaya kedua orang tuanya selesai menanyakan hal ini.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, membuat Jasmin bangun lalu mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja nakas.
[Jangan lupa besok kita berangkat pagi, awas kalau telat]
Sebuah pesan singkat baru saja Jasmin terima, ia mencebikan bibirnya.
"Tanpa kamu ingatkan aku sudah tau" maki Jasmin.
Ia mengetik pesan di ponselnya.
"**Iya tuan Robert, besok saya tidak akan telat"
[Baguslah kalau gitu, jadi saya tak usah repot-repot menjemputmu]
"Hiss, yang minta di jemput siapa**"