
Semenjak menjadi kedua orang tua sambung untuk baby Ara, kehidupan Arsen dan Rena semakin sibuk. Apalagi Rena yang terkadang harus bangun malam hari karena baby Ara menangis.
Arsen yang melihat sang istri kelelahan menjadi tidak tega. Ia pun berniat untuk mencarikan seorang baby sister untuk mengurus baby Ara. Apalagi sekarang kehamilan Rena bertambah besar, membuat wanita itu sulit untuk beraktifitas.
"Sini aku pijitin" ucap Arsen dengan lembut, sang istri baru saja kembali dari kamar Elvan. Karena anak laki-lakinya itu sering merajuk karena akhir-akhir ini Rena sering menghabiskan waktu untuk baby Ara.
"Merajuk lagi El nya ?" tanya Arsen sembari kedua tangannya sibuk memijiti pinggang sang istri.
"Iya mas"
"Dia itu cemburu sayang, karena akhir-akhir ini kamu sibuk ngurus Ara, aku aja kadang kamu cuekin"
"Tapi kasihan mas sama Ara, dia masih bayi. Kalau bukan aku yang mengurusnya siapa lagi. Lagian mbak Talia menyuruh aku mengurus anaknya"
"Iya mas tau sayang, tapi kamu juga harus mikirian kesehatan kamu juga, ada anak kita juga yang butuh perhatian dari kamu"
Rena terdiam, benarkah selama ini ia mengabaikan keluarganya karena sibuk mengurus baby Ara ?.. Sebenarnya ia tidak mau seperti itu, Rena hanya kasihan jika baby Ara terabaikan, apalagi baby Ara masih sangat bayi yang begitu membutuhkan perhatian dari keluarga terutama kasih sayang ibu.
"Apa aku salah ya mas melakukan ini"
"Tidak sayang kamu tidak salah, hanya saja semenjak kamu mengurus Ara, kamu melupakan kalau ada El yang masih membutuhkan kasih sayang kamu"
"Maafin aku ya mas"
"Akan selalu mas maafin, tapi mas harap kamu bisa membagi waktuku, lagian ada ibu juga kan yang membantu mengurus Ara."
Rena menganggukan kepalanya "Aku kakamar mandi dulu mas, pengen pipis"
"Hati-hati"
Rena menuju kamar mandi, sementara Arsen menunggu diatas ranjang, ia memainkan ponselnya untuk mencari sesuatu yang menarik. Namun Arsen terperanjat kaget saat mendengar suara teriakan sang istri.
"Ada apa sayang ?" tanya Arsen begitu panik.
"Aku pendarahan mas" tunjuk Rena pada pangkal pahanya.
Arsen mengikuti arah telunjuk sang istri, benar saja disana ada darah merah yang masih segar mengalir di paha Rena. Seketika Arsen panik ia takut sang istri dan calon anaknya terjadi apa-apa.
"Kita kerumah sakit sayang"
"Aawww..... Sakit mas"
Arsen menuntun sang istri kembali kekamar, ia mendudukan Rena diatas kursi sementara dirinya mencari celana ganti, pikirannya sudah tak karuan, khawatir bercampur panik tentunya.
Setelah berganti pakaian Arsen langsung mengajak istrinya kerumah sakit.
"Kuat gak jalannya ?"
"Inysa Allah mas, pelan-pelan saja"
"Iya sayang, pegangan ketangan mas dengan kuat"
Rena mengangguk paham, ia berjalan berpegangan dengan Arsen begitu kuat..
Setelah menuruni anak tangga, Dian heran melihat cara jalan Rena yang terlihat beda.
"Ada apa dengan Rena nak ?" tanya Dian pada Arsen.
"Dia pendarahan bu, kami akan kerumah sakit dulu"
"Astaghfirullah, ayo cepat bawa istrimu kerumah sakit, nanti ibu menyusul"
"Iya bu"
Didalam perjalan kerumah sakit, Arsen tak henti-hentinya mengelus perut Rena, ia begitu takut terjadi apa-apa. Sementara Rena menyandarkan kepalanya didada bidang Arsen, sesekali wanita itu meringis kesakitan.
"Sebentar lagi kita akan sampai sayang"
"Iya mas"
"Iya sayang..."
Sang sopir menghentikan mobilnya tepat didepan sebuah rumah sakit ternama, lalu keluar untuk memanggil perawat agar membantu Rena.
Tiga orang perawat laki-laki terlihat mendorong brankar, Mereka membantu Arsen mengangkat tubuh Rena.
Arsen duduk didepan ruangan IGD, menunggu dokter Ratna yang sedang memeriksa keadaan Rena.
"Ya Allah tolong jaga istri dan anak-anakku, jangan biarkan mereka kenapa-napa ! Hamba sangat menyangi mereka". air mata Arsen sudah menumpuk di pelupuk matanya, sekali ia mengerjap air mata itu sudah menetes dengan deras.
Tidak berapa lama dokter Ratna keluar, Arsen dengan sigap mendekati sang dokter.
"Bagaimana keadaan istri saya dok ?"
"Untuk sementara dugaan pertama saya adalah ibu Rena begitu kelelahan, nanti saya akan melakukan USG untuk mengetahui keadaan selanjutnya"
Arsen mengusap wajahnya dengan kasar, Rena kelelahan pasti karena mengurus baby Ara, padahal dokter sudah sering mengingatkan agar Rena jangan sampai kelelahan apalagi ia mengandung anak kembar.
"Mulai hari ini ibu Rena di rawat dulu, nanti siang kita akan melakukan USG"
"Baik dok, tolong sembuhkan istri dan anak saya dok"
"Saya akan berusaha pak"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Didalam ruangan bernuansa putih, serta cairan infus yang menggantung. Rena membuka matanya secara perlahan, ia melirik kekiri dan kekanan lalu berhenti saat melihat sosok sang suami yang sedang menatap keluar jendela.
"Mas" panggil Rena.
Arsen menoleh, lalu berjalan mendekati sang istri "Kamu udah bangun sayang"
"Anak kita gak papakan ?"
"Insya Allah tidak apa-apa sayang, sebentar lagi dokter akan melakukan tindakan USG untuk mengetahui kenapa kamu pendarahan"
Rena mengelus perutnya yang buncit, ia merasa bersalah karena selama ini ia jarang memikirkan kehamilannya, karena sibuk mengurus baby Ara.
Tapi mau bagaimana lagi, keadaan yang memaksanya seperti ini, ia tak mungkin mengabaikan baby Ara begitu saja, apalagi baby Ara hanya bisa diam jika di gendong Rena.
"Maafin mama ya nak, karena keegoisan mama kamu hampir saja jadi korban" gumam Rena.
Satu jam kemudian Rena dibawa sang perawat keruangan dokter Ratna, guna melakukan USG. Arsen pun ikut menemani.
Setiba di ruangan itu, Rena langsung berbaring diatas ranjang. Dokter Ratna langsung melakukan USG.
"Alhamdulillah kedua anak bapak dan ibu sehat-sehat saja, mereka masih aktif bergerak" ucap dokter Ratna membuat Arsen dan Rena bisa bernapas legah.
"Lalu kenapa istri saya bisa pendarahan dok ?"
"Ibu Rena mengalami Plasenta Previa dan ini menutupi semua jalan lahir, jadi itu yang menyebabkan ibu Rena mengalami pendarahan. Juga kelelahan yang menjadi faktor utama terjadinya pendarahan itu"
"Plasenta Previa dok ?" tanya Rena mengulang penjelasan dokter "Apa ini berbahaya dok ?"
"Cukup berbahaya ibu, karena ibu hamil yang menderita Plasenta Previa akan mengalami pendarahan selama kehamilan dan persalinan, tapi tentu saja nanti ada penanganannnya"
"Apa yang harus di lakukan dok ?" tanya Arsen yang cukup syok mendengar semua ini.
"Setiap bulan atau dua minggu sekali saya akan melakukan pemeriksaan, dan ibu Rena sepertinya tidak bisa malahirkan secara normal karena Plasenta nya menutupi semua jalan lahir, dan satu lagi ibu Rena tidak boleh kelelahan apalagi berhubungan suami istri"
Air mata Rena menetes, ia merasa tak percaya akan hal ini, padahal ia ingin melahirkan secara normal nantinya, tapi ternyata Allah berkehendak lain.