
"Bisa-bisanya ya mas kamu ngajarin El seperti itu" omel Rena geram.
"Hehe, maaf Sayang" jawab Arsen nyengir.
Rena menggelengkan kepalanya, akhir-akhir ini ada saja kelakuan sang suami yang mana selalu membuat dirinya naik darah.
\=
\=
Keesokan harinya Arsen dan Rena bersiap untuk pergi liburan itu kata Arsen. Karena kata Rena ini namanya mengasingkan diri.
Dengan lembut Rena berpesan pada Elvan. Sedikitpun bocah itu merengek minta ikut, walau Rena selalu membujuk tapi Elvan menolak..
"Kek titip El ya, aku dan Mas Arsen gak bakalan lama disana" ucap Rena.
"Iya nak, El aman sama kakek. Kalian nikmati saja waktu berdua" balas kakek Raymond.
Rena dan Arsen bergantian bersalaman dengan sang kakek. Sebenarnya Rena sangat malas liburan seperti ini, tapi ia tak ingin melihat suaminya kecewa apalagi kata Arsen ia sudah mengeluarkan uang yang banyak untuk menyewa sebuah Villa.
Dengan langka yang malas, Rena memasuki mobil. Arsen sendiri yang mengemudikan mobilnya. Ia benar-benar tak ingin di ganggu oleh siapapun. Padahal kakek Raymond berpesan untuk membawa sopir saja supaya Arsen bisa istirahat.
Namun dengan beribu alasan Arsen menolak, katanya kalau lelah bisa istirahat.
"Nanti kita beli bahan makanan yang banyak, disana jauh sama tempat belanja" ucap Arsen.
"Iya Mas" jawab Rena.
Mobil melaju meninggalkan perkarangan rumah. Terlihat Elvan yang melambaikan tangannya. Namun samar-samar Rena masih mendengar teriakan Elvan.
"Bawa yang banyak ya ma dedek bayinya" teriak Elvan dengan suara cadalnya.
Rena melirik sinis kearah Arsen "Kamu benar-benar sudah meracuni otak Elvan Mas"
"Hahaha" Arsen justru tertawa "Tapikan dia mintanya gak salah kok. Jadi nanti kalau dia punya adik kan ada temannya"
Rena tak lagi menjawab, ia menyandarkan kepalanya. Lama kelamaan mata Rena mengantuk.
Melihat sang istri tertidur, Arsen menghentikan mobilnya. Ia membetulkan tempat duduk supaya Rena bisa tidur dengan nyaman.
"Kalau bangun itu mulut cerewet nya minta ampun" gerutu Arsen "Tapi sayangnya aku malah jatuh cinta pada mu" sambungnya lagi.
Iya tak pernah Arsen bayangkan kalau ia akan jatuh cinta pada Rena. Seorang janda yang sudah memiliki anak. Padahal di luar sana ada banyak wanita yang masih single yang bersedia menjadi istrinya.
Tapi Arsen justru tertarik pada Rena. Dan bahkan bukan hanya tertarik karena laki-laki itu sudah bucin akut dengan Rena.
Sebelum kembali menjalankan mobilnya Arsen mengecup kening Rena.
"Sehat terus sayang, sampai tua sama aku"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dibelahan dunia bagian sana, Willi sedang melakukan video call dengan Talia. Laki-laki itu sudah tiba di tempat tujuannya.
"Aku merindukan mu" ucap Talia di seberang sana.
"Cepatlah pulang" lanjut Talia lagi.
Willi terkekeh, "Aku akan segera pulang sayang" balas Willi.
Di sambungan telepon terlihat Talia membuka bajunya, sehingga menampakan kedua gu nung kembar yang begitu besar. Dada Willi bergemuruh saat melihat itu.
"Hei aku sengaja menggodaku ya"
Talia justru tertawa "Biar paman cepat pulang"
"Sialan, lihat karena kelakuan mu adik kecilku bangun"
Talia kembali tertawa "Makanya pulang, biar aku bisa menidurkannya"
Tuuuuuuuttt.
Sambungan telepon terputus, Willi melihat adik kecilnya yang menegang. Sebenarnya pergi keluar negeri bukan karena urusan melainkan Willi menghindari seseorang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah menempuh perjalanan yang panjang Arsen dan Rena tiba di sebuah Villa. Betul kata Arsen Villa itu sangat jauh dari pedesaan. Tapi tempatnya sangat nyaman sejuk.
Rena keluar dari mobil, ia merentangkan kedua tanganya sembari menghirup udara yang sangat segar. Sudah lama ia tak menghirup udara segar seperti ini.
"Bagaimana apa kau suka ?" tanya Arsen, ia memeluk erat tubuh Rena.
"Mas" pekik Rena kaget "Nanti ada yang melihat"
"Ya Allah sayang, siapa yang akan melihat disini. Kau lihat kan disana hutan semua"
"Kau belum menjawab pertanyaan ku, apa kau menyukai tempat ini" Arsen mengulang pertanyaannya.
"Suka, tapi lebih suka ke korea" jawab Rena kemudian melepaskan pelukan suaminya dan berlalu dari sana.
"Ciiih, sampai kapanpun aku tak akan membiarkan kamu berkunjung ke negara itu". makin Arsen dalam hati.
Arsen menyusul istrinya.
"Loh kok pintunya gak di kunci Mas" tanya Rena
"Sebenarnya ada yang tinggal di Villa ini sayang, nanti aku kenalkan"
"Katanya gak ada, gimana sih"
"Iya mereka tinggal untuk membersihkan Villa ini, coba kamu bayangkan jika tidak ada yang membersihkan akan seperti apa Villa semewah ini"
Benar juga apa yang dikatakan Arsen, kalau Villa ini tidak ada yang membersihkan pasti sudah berdebu dan bahkan sudah tak layak huni. Dan menurut pengetahuan Rena sebuah bangunan yang tidak di tempati lebih dari 40 hari maka akan ada penunggunya.
Membayangkan saja sudah membuat Rena merinding. Ia melirik kekiri dan kekanan.
"Lagian bangun Villa kok di tengah hutan sih, ngabisin duit aja" omel Rena.
"Iyakan buat liburan sayang"
"Itu katamu buat liburan, kalau menurutku ini untuk bersembunyi jika ada kejahatan"
Arsen tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Rena. Hingga tak berapa sepasang suami istri datang mereka menunduk hormat kearah Arsen dan Rena
"Selamat datang Tuan dan Nyonya, Maaf kami baru menyambut soalnya tadi habis dari belakang. Kami pikir Tuan dan Nyonya belum datang"
"Tidak apa-apa Pak Saiful. Kami juga baru tiba" balas Arsen.
"Sayang kenalkan ini Pak Saiful dan ini istrinya bu Siti. Mereka yang mengurus Villa ini" Arsen memperkenalkan sepasang suami istri itu kepada sang istri.
"Saya Rena, senang bertemu dengan kalian" ucap Rena sangat ramah.
"Mari kami antar kedalam, kamar nya sudah kami bersihkan" Bu Siti mengambil koper milik Rena.
Mata Rena terus menatap keindahan interior ruangan demi ruangan. Baginya semua yang ada di ruangan ini sangatlah unik.
"Sayang aku mau bicara dulu sama pak Saiful, kamu duluan kekamar di antar sama bu Siti" ucap Arsen.
"Iya Mas"
"Mari Nyonya ikut saya" Bu Siti kembali mengajak Rena.
Rena menurut, Villa itu di desain hanya satu lantai. Kamar Rena dan Arsen terletak di ujung yang menghadap kearah pegunungan.
"Ini kamar nya, jika ada apa-apa panggil saya saja nyonya" ucap Bu Siti.
Mata Rena membulat saat ia melihat bahwa di belakang Villa itu terdapat perkebunan yang sangat luas. Ia mendekati kaca jendela.
"Bu apa ini perkebunan ?"
"Betul nyonya, itu semua kebun buah. Ada banyak buah-buahan disana. Dan ada juga kebun sayur. Nanti kalau sudah tidak lelah saya akan membawa Nyonya berkeliling"
Rena tersenyum penuh kebahagiaan, ia kira liburannya akan membosankan namun nyatanya tidak. Melihat perkebunan seperti ini sudah membuat Rena bahagia. Ia yakin akan betah disini..