Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 48



1 bulan kemudian.......


Didalam kamar mandi seorang wanita cantik sedang menatap lurus kebawah, menatap sebuah benda dengan ukuran kecil dimana terdapat dua garis merah di dalamnya.


Air mata Talia menetes dengan deras, ia baru saja mengetahui kabar kehamilannya, sebelumnya memang Talia sudah merasakan gejala mual dan muntah namun ia masih takut untuk mengetesnya. Dan sekarang apa yang ia takutkan terjadi, ada janin di rahimnya.


"Kenapa ini harus terjadi" ucap Talia dengan suara serak menahan tangis.


Ia bahkan menggigit bibir bawahnya dengan kuat supaya tangisnya tidak pecah.


Semuanya akan sangat membingungkan apalagi laki-laki yang menanam benih itu sudah pergi untuk selama-lamanya, lalu apakah anak itu akan lahir tanpa sosok Ayah ?.


"Tidak aku tidak akan membiarkan anak ini lahir tanpa Ayah ? bagaimanapun aku harus mencari cara supaya anak ini punya Ayah"


Ingatannya tertuju pada Arsen, ia mengukir senyum karena ia tahu apa yang harus ia lakukan.


"Arsen, dia harus bertanggung jawab atas kehamilanku. Bukankah anak ini adalah anak paman nya, jadi sama saja kalau Arsen yang bertanggung jawab"


"Iya Arsen yang harus menjadi ayah dari anakku"


"Gooo, Talia... Persiapkan dirimu karena sebentar lagi kau akan menjadi nyonya Arsenio Raymond"


Ia mengusap wajahnya dengan kasar saat sisa air mata masih membekas di pipinya, kemudian tertawa terbahak-bahak saat rencana jahat melintas di pikirannya.


Talia mengelus perutnya "tenang sayang, mama akan menjadikan kamu anak sultan, karena nanti kamu akan lahir menjadi anak seorang Arsen" ucapnya sembari menatap pantulan dirinya di cermin.


Setelah puas berada disana, Talia meninggalkan kamar mandi dan kembali kekamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Ternyata ada gunannya juga aku hamil, dengan begitu aku jadi punya cara untuk menjebak Arsen"


"Inilah pembalasanku untuk mu wanita janda, kau akan aku singkirkan sebentar lagi."


"Siap-siap saja dengan permainan seorang Talia"


Tawa menggelegar kembali terdengar, memenuhi ruangan itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Saat ini Arsen sedang berkutat dengan pekerjaannya, sepertinya sangat sibuk dan tak bisa di ganggu. Bahkan ketokan pintu berulang kali tak di hiraukan oleh lelaki itu.


Karena tak kunjung di buka, Robert akhirnya membuka pintu dengan paksa membuat Arsen langsung menatapnya dengan tajam.


"Hei kau lupa ya kalau aku sedang sibuk" ucap Arsen kesal.


"Maaf tuan, kalau begitu nona Rena akan saya suruh pulang saja" balas Robert.


Mendengar nama sang istri, Arsen langsung mendongak.


"Kenapa kau tak bilang kalau ada istriku"


"Dari tadi saya sudah mengetok pintu berulang kali Tuan, tapi anda tak kunjung membukanya"


"Ah, kau banyak alasan"


Arsen berdiri dari duduknya, ia melangkah keluar ruangan dan benar disana sedang ada sang istri yang membawakan makanan.


"Sayang" panggil Arsen.


"Mas sibuk banget ya sampai tak bisa di ganggu"


"Tidak sayang, ayo masuk" ajak Arsen "Kenapa tidak bilang kalau mau kesini ?"


"Sengaja Mas biar kejutan"


Arsen terkekeh "Dan kau berhasil membuatku terkejut" candanya kemudian.


Arsen membawa istrinya duduk di sofa.


"Ngapain kesini sayang ?"


"Aku bawa makan siang untuk Mas, kata Robert hari ini Mas akan lembur makanya aku kesini"


"Memangnya tadi kau menghubungi Robert ?" nada suara Arsen mulai tak mengenakan, terdengar penuh kecemburuan tapi Rena malah mengangguk dengan polosnya.


"Besok aku akan menghapus nomor Robert di ponselmu,"


"Loh kenapa Mas ?" tanya Rena heran.


"Hanya aku yang boleh kamu hubungi, tidak boleh ada orang lain"


Tatapan mata Arsen tertuju pada bawaan Rena "Kamu masak apa hari ini ?"


"Makanan kesukaan Mas"


Rena membuka rantang makanan tersebut, ia menghidangkan semua makanan itu di atas meja.


"Panggil Robert Mas, biar dia ikut makan siang juga, ini banyak loh" pinta Rena


"Kau lupa ya kalau aku tak suka ada orang lain yang memakan masakanmu"


"Astahgfirullah Mas, makanan ini gak akan habis oleh mas Arsen sendiri, ayolah berbagi apalagi Robert sudah banyak membantu Mas selama ini, sekalian ajak juga Jasmin biar Robert ada temannya"


Mendengar hal itu akhirnya mau tak mau Arsen memanggil Robert dan Jasmin, awalnya kedua orang itu menolak apalagi Jasmin yang memang menyukai Arsen, tapi perasaannya harus terkubur begitu saja karena Arsen tak pernah meliriknya selama ini.


"Ini perintah istriku, cepat masuk !" ucap Arsen dengan tatapan tajamnya.


Robert dan Jasmin menurut, mereka duduk di sofa yang lain, yang berhadapan dengan Rena dan Arsen.


"Ayo makan siang dulu, tapi kalau rasanya belum pas harap maklum ya, karena saya belum jago memasak" ujar Rena dengan nada merendah.


"Terima kasih nona" balas Robert.


"Iya Nona Rena, terima kasih karena sudi mengajak saya makan siang bersama"


"Sama-sama, ayo makan !"


Mereka bertiga makan dengan lahap, karena Rena tidak ikut makan, sang suami yang banyak maunya membuat Rena harus mengalah. Arsen minta di suapi dan tentu saja tingka Arsen membuat Jasmin terkejut.


"Ternyata begini sikap Tuan Arsen sebenarnya, sangat beruntung nona mendapatkan tuan Arsen". batin Jasmin yang terkadang mencuri pandang pada Arsen.


"Kalau di lihat-lihat Robert cocok sama Jasmin" ucap Rena langsung.


Tentu saja membuat Robert dan Jasmin terbatuk-batuk. Keduanya saling melirik.


"Iya kan Mas" tanya Rena pada sang suami.


Arsen menatap kearah Robert dan Jasmin bergantian "Iya sangat cocok, kalau kalian mau saya akan menikahkan kalian sekarang"


"Tidak"


"Jangan"


Ucap Robert dan Jasmin serempak.


"Loh kenapa ?" tanya Rena heran


"Anu nona saya sudah memiliki pasangan" jawab Jasmin.


"Lah walaupun kamu belum memiliki pasangan saya juga tak sudi punya istri seperti mu, lihat pakaianmu seperti kurang bahan saja" balas Robert.


"Memangnya wanita seperti apa yang kamu inginkan Robert ?" Rena kembali mengajukan pertanyaan.


"Iya kalau bisa yang tertutup Nona, punya sopan santun. Dan kalau bisa seperti nona Re------" ucapan Robert langsung berhenti saat mendapatkan tatapan tajam dari Arsen, ia merutuki kebodohan nya sendiri atas yang baru saja ia ucapkan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Ini uang untuk kalian semua, dan ingat jalankan tugas kalian dengan baik dan mulus" ucap Talia pada seorang pria bertubuh tinggi di hadapanya, sementara yang lain berada di belakang pria itu.


Pria itu menghitung jumlah uang yang di berikan Talia, senyumnya langsung mengembang saat mendapati jumlahnya yang begitu banyak.


"Kalau bayarannya sebesar ini saya jamin rencana anda akan berjalan mulus"


"Bagus, karena saya tak ingin mendengar yang namanya kegagalan"


"Setelah pria itu kamu taklukan, harus kami bawa kemana ?"


"Bawa ke hotel X, dan masukan dia di kamar 07 saya akan menunggu disana"


"Ok baik nona"


 --------------


LIKE DAN KOMEN


ADD FAVORIT