
Sore kembali menjelang, Rena baru saja selesai memasak untuk menyambut kepulangan sang suami. Tak berapa lama terdengar suara mobil Arsen yang berhenti di depan rumah. Dengan langkah yang cepat Rena segera kedepan untuk menyambut Arsen.
"Kau ini kenapa sih kok suka sekali lari-lari" omel Arsen saat melihat istrinya berlari menuju arahnya.
"Aku mau menyambut Mas pulang, memangnya salah"
"Enggak salah, cuman jangan lari-lari nanti kalau jatuh gimana ?"
"Aku bukan anak kecil Mas, aku bisa jaga diri" gerutu Rena.
Arsen mengulurkan tangannya, Rena yang paham akan hal itu langsung menyambut tangan sang suami, kemudian menempelkan keningnya di punggung tangan Arsen.
Rasanya sudah sangat lama Rena tak merasakan situasi seperti ini, dulu ia sering mengalami saat Rizal masih ada.
Tapi jika Rizal masih ada sampai sekarang, mungkin saja ia tidak akan bertemu dengan Arsen.
"Sini tas nya aku bawain !" Tawar Rena.
"Tidak usah, kamu bukan Asistenku tapi istriku" balas Arsen kemudian.
"Bukan begitu Mas, aku ini memang istrimu tapi tidak apa-apa aku membantumu seperti membawakan tas kerja, anggap itu sebagai bentuk baktiku sama Mas Arsen" jelas Rena panjang lebar. Senyumnya mengembang membuat Arsen juga membalas dengan senyuman.
"Ya sudah ini, ternyata punya istri itu enak juga ya"
"Iyalah, kan ada yang melayani" canda Rena.
Mendengar kata 'Melayani' entah kenapa membuat sesuatu di diri Arsen bergejolak tak menentu, sebagai laki-laki normal rasanya Arsen tak sabar untuk merasakan semua itu.
Pasti akan sangat menyenangkan.
Atau bahkan membuatnya hilang arah.
Entahlah !! Karena Arsen sendiri belum pernah merasakan semua itu.
Kedua nya masuk kedalam rumah dengan Rena yang menggandeng lengan Arsen.
"Mana Elvan ?" tanya Arsen saat tak melihat Elvan ada di ruang keluarga. Biasanya anak kecil itu sedang bermain disana.
"Lagi di mandiin sama Bu Marni Mas"
"Oh" tanpa di sangka Arsen langsung menuju kamar Elvan membuat Rena bingung untuk apa suaminya itu kesana, padahal ia sudah mengatakan kalau Elvan sedang mandi.
Ceklekk.
Arsen membuka pintu kamar Elvan. Perlahan namun pasti pintu kamar itu terbuka dengan lebar. Elvan yang saat itu sedang berganti pakaian langsung menoleh kearah pintu yang terbuka. Seketika senyum Elvan mengembang saat melihat kedatangan Arsen.
"Papa" pekik Elvan senang.
"Hai" sapa Arsen, ia berjalan mendekat kemudian duduk di ranjang tempat tidur Elvan.
"Sini Bi biar aku saja yang melakukannya, Bibi lanjutkan pekerjaan yang lain" perintah Arsen kemudian.
"Baik Tuan" ucap Marni menurut.
Setelah kepergian Marni, kini giliran Arsen yang memakaikan pakaian Elvan. Dengan sangat hati-hati Arsen melakukannya, bahkan laki-laki tak ingin anak tirinya itu mengalami kesakitan.
Ternyata apa yang Arsen lakukan di lihat jelas oleh Rena. Wanita dengan balutan gamis Syar'i itu menatap dengan mata berkaca-kaca, rasa haru dapat Rena rasakan.
Tak menyangka kalau Arsen yang ia kenal dulu adalah pria yang hangat dan penuh perhatian, sangat berbeda dengan dulu saat Rena baru menjadi istrinya.
"Terima kasih ya Allah, terima kasih atas kebahagiaan ini, semoga rumah tangga hamba dan Mas Arsen selalu engkau lindungi". doa Rena dalam hati.
"Mama" tiba-tiba Elvan memanggil, membuat Rena langsung menyusut sudut matanya yang berair.
"Mama sini" ajak Elvan lagi.
Rena tersenyum apalagi saat di tatap oleh Arsen, ia pun berjalan mendekati Elvan yang sekarang sudah selesai berganti pakaian.
"Sini Papa sisirin"
Dengan semangat Elvan memajukan kepalanya, hingga ia merasakan kepalanya di sisir oleh Arsen.
"Nah kan ganteng kalau begini" seloroh Arsen.
"Jangan di gituin rambutnya Mas, aku gak suka" ucap Rena.
"Biarin sih, orang aku suka lihatnya. Lihat tu jadi ganteng kan"
Rena hendak mengambil sisir itu namun tak di berikan oleh Arsen.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Malam harinya, Willi dan Talia sedang bersiap untuk kekantor Arsen. Saat ini keduanya memakai pakaian serba hitam dan tak lupa sebuah topeng untuk menutup wajah mereka.
"Ayo berangkat" ajak Willi.
Talia mengangguk, keduanya langsung masuk kedalam mobil untuk mereka gunakan kekantor Arsen. Dalam hal ini Willi sengaja menyewa sebuah mobil supaya Arsen tak mengenali mobilnya.
Karena kalau Willi memakai mobilnya sendiri otomatis Arsen akan langsung mengenali semuanya. Ia tak ingin misi balas dendamnya berantakan.
"Jadi kamu ingatkan apa tugasmu disana ?"
"Iya paman, gak usah di tanya terus dong, pening palaku dengar paman terus bertanya seperti itu"
"Aku hanya ingin memastikan saja Talia, aku tak ingin rencana ini gagal"
Talia pun sama ia tak ingin rencana mereka gagal, ia juga ingin membalas Arsen karena selalu kasar padanya.
Tidak berapa lama Willi dan Talia tiba di perusahaan Arsen, mereka memarkirkan mobilnya agak jauh. Talia turun duluan untuk membuat kedua security yang sedang bertugas pergi dari sana.
Untuk mengalihkan keadaan, Talia melemparkan sesuatu sehingga membuat security itu beranjak dari duduknya, dari arah belakang ada Willi yang bersiap untuk melumpuhkan kedua security itu.
**Bugggg.
Bugggg
Bugggg**.
Willi memukul kedua security itu dengan membabi buta, sampai keduanya tersungkur tak berdaya.
"Kau buka pintunya, dan aku akan mematikan CCTV" pinta Willi.
"Baik paman"
Dengan sangat hati-hati Talia membuka pintu itu, beruntung seluruh lampu di kantor Arsen tak ada yang di matikan, jadi Talia bisa melihat dengan jelas.
Tak berapa lama Willi mendekati Talia.
"Bagaimana apa sudah selesai ?"
"Sedikit lagi paman"
"Kelamaan, sini biar aku saja"
Tanpa aba-aba Willi langsung menggantikan pekerjaan Talia, hanya dalam hitungan detik Willi berhasil membuka pintu itu.
"Kau mau kemana ?" tanya Willi saat melihat Tali hendak memasuki Lift.
"Katanya mau keruangan Arsen"
"Iya memang, tapi gak usah lewat sana karena kelamaan. Lewat sini saja"
Tak disangka kalau Willi mengetahui jalan rahasia menuju ruangan Arsen. Dulu laki-laki itu pernah melihat sang kakak yaitu Ayahnya Arsen masuk melewati pintu rahasia.
Dan benar saja tak perlu waktu yang lama sekarang Willi dan Talia sudah berada di ruangan Arsen.
"Kenapa paman bisa tahu pintu rahasia ini"
"Jangan banyak tanya, sekarang cari apa sesuatu yang bisa kita jadikan senjata"
Talia memeriksa setiap lemari diruangan itu, memeriksa satu persatu berkas yang ada disana. Begitupun dengan Willi yang memeriksa meja kerja Arsen.
"Aku yakin pasti ada yang Arsen sembunyikan, tapi apa ya" gumamnya dengan kedua tangan sibuk memeriksa setiap berkas.
Hingga akhirnya Willi menemukan sebuah berkas, dimana membuat senyumnya mengembang sempurna.
"Surat kontrak pernikahan" gumam Willi
----
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...