
Satria membawa empat orang laki-laki berbadan kekar, tak ada satupun dari mereka yang Arsen kenali. Sedari tadi Arsen hanya mengerutkan dahi, siapa mereka.
"Tuan, ini mereka yang mengeroyok cucu anda malam itu" ucap Satria di hadapan kakek Raymond.
"Apa...." pekik Arsen langsung terkejut saat mengetahui siapa keempat pria yang wajahnya sudah babak belur.
Arsen mendekat, ia mencengkram kera baju salah satu pria itu.
"Kenapa kalian memukuliku hah ? apa salahku" ucap Arsen dengan amarah memuncak.
"Am--pun tuan"
"Tidak ada ampun untukmu" Arsen hendak melayangkan pukulan lagi, tapi niatnya langsung di cegah oleh kakek Raymond.
"Kenapa kakek melarangku ? karena mereka aku harus kehilangan istri dan anakku"
"Kau tidak lihat wajah mereka yang sudah babak belur seperti ini ?" ucap kakek Raymond "Sudah kau diam saja ! biarkan ini menjadi urusan kakek"
Arsen melepaskan pria itu, tapi ia masih menatap tajam kearah mereka.
"Cepat katakan siapa yang menyuruh kalian" pinta Satria dengan suara menggema.
Keempat pria itu lagi dan lagi terdiam, tak ada yang mau mengaku.
"Kalau kalian tidak ada yang mengaku, siap-siap peluru didalam pistol ini akan menembus kepala kalian" Satria mengeluarkan senjatanya, lalu menepelkan ujung pistol kekepala pria tadi.
"Jangan tuan, baik kami akan mengaku"
"Cepetan !!"
"Yang menyuruh kami adalah Talia, dan dia juga yang menyuruh kami membawa mas ini ke hotel. Setelah itu kami tak tau apa-apa lagi"
"Jangan bohong, katakan semuanya !"
"Benar tuan Satria, kami tak tau apa-apa lagi..Wanita itu hanya menyuruh kami melumpuhkan pria bernama Arsen, dan membawanya ke hotel"
Kakek Raymond mendekat, ia menarik pria yang saat ini sedang bersimpuh.
"Terima kasih sudah jujur" ucap kakek Raymond sembari menepuk bahu pria itu dengan lembut.
"Satria" panggil Kakek Raymond.
"Iya tuan"
"Lepaskan mereka !"
"Tapi Tuan ..."
"Kita hanya membutuhkan kejujuran nya saja, lagian Robert sudah merekam semuanya"
"Baik Tuan".
Satria kembali membawa keempat pria itu keluar dari rumah kakek Raymond.
"Dari mana kakek mengenal pria tadi ?" tanya Arsen
"Maksudmu Satria ?"
"Iya"
"Kau lupa ya siapa kakek mu, yang duluan terjun kedunia bisnis adalah kakek, jadi menghadapi masalah seperti ini gampang menurut kakek" jelasnya dengan penuh kesombongan "Kau saja yang lebay" sambungnya lagi.
Robert terkekeh saat Arsen di katakan lebay oleh sang kakek. Mungkin memang itu julukan yang pantas untuk pria itu, baru menghadapi seorang Talia saja, Arsen sudah kebingungan.
"Berani kau tertawa, ku potong gajimu" ancam Arsen pada Asistennya itu.
"Tidak tuan, saya tidak berani" balas Robert.
"Jangan takut Robert, jika Arsen memotong gajimu biarkan aku yang menaikannya" sahut kakek Raymond yang ternyata masih mendengar ancaman Arsen.
"Lagian kenapa pinteran Asisten sih dari pada bos, aneh" ucap kakek Raymond lagi.
Arsen mencibir. "Aku kan keturunan kalian, kalau aku bodoh berarti itu dari kalian" gumam Arsen tak terima di katakan seperti itu..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Beberapa hari kemudian, Rena dan Elvan menjalani kehidupannya dengan nyaman. Apalagi ada Dian yang selalu ada buat Rena. Membuat kerinduan Rena sedikit terobati pada sosok sang suami.
Saat ini Rena duduk di bibir ranjang, menatap benda persegi panjang yang membuat perasaannya tak karuan. Sebuah taspack yang di dalamnya terdapat dua garis merah yang begitu nyata.
"Alhamdulillah akhirnya doa kita terkabulkan Mas"
"Tapi sayang, kamu tidak tau hal ini"
Rena tertunduk lesu, air matanya menetes membasahi pipi. Harusnya ini akan menjadi momen kebahagiaan untuknya dan Arsen, tapi karena suatu masalah membuat keduanya harus berpisah.
"Sehat ya nak, mama yakin kamu kuat" gumam Rena, ia mengelus perutnya yang masih rata.
"Mama" teriak Elvan dari luar kamar.
Rena menyusut air matanya, kemudian berjalan untuk membukakan pintu.
"Ada apa nak ?"
"Ada nenek di lual Ma"
"Bilang tunggu sebentar ya nak, Mama pakai hijab dulu"
"Baik ma"
Setelah Elvan pergi, Rena mengambil hijabnya yang ia letakkan di atas ranjang, kemudian memakainya yang mana membuat dirinya terlihat sangat cantik.
Di ruang tamu ada Dian yang sedang menemani Elvan bermain, selama bertemu dengan Rena wanita paruh baya itu sedikit mengetahui kabar tentang Arsen.
Tak bisa di pungkiri ia begitu merindukan putranya itu, ia meninggalkan Arsen saat usia Arsen 10 tahun.
"Maaf ya bu lama menunggu"
Dian menoleh, ia tersenyum kearah Rena "Iya sayang, ini ibu bawain mangga baru panen di belakang rumah"
"Masya Allah, kebetulan sekali Rena sangat menginginkan buah ini"
"Apakah kamu sedang mengidam nak ?"
Rena langsung terdiam, entah bagaimana ia akan mengatakan pada Dian kalau ia baru saja mengetahui kehamilannya.
"Rena" panggil Dian, ia menggenggam tangan Rena dengan lembut.
"Iya bu"
"Kamu kenapa ? kalau ada masalah cerita sama ibu !"
"Rena hamil bu" balas Rena dengan suara tercekat.
"Syukur Alhamdulillah kalau begitu nak, tapi kenapa kamu menangis ? harusnya kamu senang dengan hal ini"
"Rena bingung bu, bagaimana kalau memang suami Rena menikahi perempuan itu, lalu bagaimana dengan Rena sendiri"
Dian berpindah tempat, ia duduk di samping Rena kemudian menarik wanita itu kedalam pelukannya. Dian memang sudah mengetahui tentang masalah rumah tangga Rena.
"Sabar ya sayang, tapi kalau Rena yakin suami kamu gak salah, insya Allah memang itu kenyataannya"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sementara itu.....
Seluruh kejahatan Talia sudah hampir terbongkar, Rasanya Arsen tidak sabar untuk membongkar semuanya, lalu mencari keberadaan Rena dan Elvan dengan tenang.
Ini sudah seminggu kepergian Rena. Rasanya Arsen sudah tak sabar ingin memeluk wanita itu dengan erat.
"Apalagi yang harus di tunggu kek, kita kan sudah tau kalau anak itu bukan anakku" tanya Arsen dengan resah.
"Hei sabarlah dulu, masih ada yang harus kita kumpulkan supaya Talia tak bisa berkutik lagi"
"Tapi kalau memang itu anaknya paman Willi, berarti itu juga cucuk kakek dong"
"Iyalah, dan itu keponakan kamu juga"
Kedua laki-laki itu saling pandang, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Bisa-bisanya Willi meninggalkan warisan seperti ini" cibir kakek Raymond
"Banyak yang dia tinggalkan kek, salah satunya hutang yang banyak" balas Arsen.
Kakek Raymond terdiam, memang Willi meninggalkan banyak hutang dan kakek Raymond lah yang membayar semuanya.
Kecelakaan Willi waktu itu langsung di ketahui siapa pelakunya, dan mereka melakukan itu karena kesal dengan Willi yang selalu kabur dari hutang.
"Kek ayolah kita bongkar saja kebusukan Talia, aku sudah tidak sabar ingin mencari keberadaan istriku"
"Sabar dulu, memangnya kenapa kau ingin segera bertemu dengan Rena ?"
"Iya kangen lah kek, masa iya harus aku jelaskan"
"Nanti bakal kakek bantuian nyari Rena, tapi kau sabar dulu"
"Janji ya kek, kalau kakek akan membantu Arsen mencari Rena ?" tanya Arsen antusias.
"Iya janji" balas kakek Raymond "kalau kakek sudah mencari langsung ketemu istri dan anakmu" sambungnya lagi sambil menahan tawanya.
"Iyalah langsung ketemu, orang aku yang menyembunyikan istrimu.. Arsen--Arsen dasar bodoh". batin kakek Raymond.