Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 88



Rena masih terdiam di kamar, ia pikir sang suami hanya turun kebawa, namun sudah dua jam ia menunggu tapi Arsen belum juga kembali kekamar. Padahal sebentar lagi sudah memasuki waktu sholat dzuhur.


"Kemana mas Arsen ? kenapa dia lama sekali" tanyanya pada diri sendiri.


Saat Adzan dzuhur telah berkumandang Arsen tak kunjung kembali kekamar, membuat Rena akhirnya menjalankan sholat sendiri.


Disetiap doa dalam sholatnya ia selalu mendoakan sang suami, agar selalu dapat lindungan dari yang maha kuasa.


Usai melaksanakan sholat Dzuhur, Rena keluar dari kamar. Ia menuruni anak tangga sembari mencari dimana sang suami sekarang.


Ruang tamu tidak ada...........


Ruang keluarga juga tidak ada..........


Lalu dimanakah suamianya sekarang. hingga ia tiba di meja makan, disana hanya ada Dian, Mawar dan juga Elvan, Tidak ada Arsen disana.


"Makan siang dulu nak !! kamu kan harus minum obat" ucap Dian.


"Emmmm... Mas Arsen kemana ya bu ?"


"Arsen kekantor nak"


"Sejak kapan bu ?"


"Tadi sekitar dua jam yang lalu"


Rena langsung terdiam, tidak biasanya Arsen pergi tanpa pamit padanya.


Apa laki-laki itu marah padanya, karena permintaannya tadi ?.


"Aku telepon mas Arsen dulu ya bu"


"Iya nak" Dian langsung mengizinkan, ia sepertinya tau kalau Rena belum paham kalau sang suami marah.


Rena menuju ruang keluarga, ia langsung menghubungi sang suami. Namun satupun panggilan tak ada yang dijawab oleh Arsen, bahkan sepertinya Arsen sengaja melakukan hal itu.


"Angkat dong mas"


"Kamu kenapa sih ? apa karena permintaan aku tadi"


Berbagai pertanyaan ada di benak Rena, benar saja wanita itu belum mengerti kalau sang suami sedang marah padanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sebenarnya Arsen tau kalau sang istri terus menghubunginya, ia sengaja tak menjawab panggilan dari Rena karena ingin menghukum wanita itu.


Arsen tidak tega melakukan hal ini pada sang istri, akan tetapi saat mengingat kejadian tadi membuat emosi Arsen kembali naik.


"Malam ini kau temani aku tidur disini !!" ucap Arsen pada Robert.


"T-i-dur disini tuan ?" ulang Robert "tapi kenapa Tuan?"


"Kau tidak perlu tau kenapa ? yang jelas kau harus menemani aku malam ini"


"Tapikan besok hari libur tuan"


"Memangnya kenapa kalau libur ?"


"Emmm.. Tidak ada tuan" jawab Robert lirih "Sial, padahal malam ini dan besok aku akan menghabiskan waktu berdua bersama Jasmin. Huuu gagal lagi deh gara-gara tuan Arsen". batinya kemudian.


"Lagian kenapa sih tuan Arsen ingin menginap di kantor ? apa dia sedang ada masalah dengan nona Rena ?"


Robert menatap kearah Arsen dengan penuh tanda tanya dan kekesalan. Karena permintaan Arsen ia harus gagal menghabiskan waktu libur bersama sang kekasih, padahal libur kerja hanya satu kali dalam seminggu.


Melihat Arsen yang berdiri Robertpun ikutan berdiri.


"Mau kemana tuan ?"


"Tidur"


"Terus saya ngapain ?"


"Terserah kamu mau ngapain, nonton video dewasa juga boleh buat pelajaran" balas Arsen tak berfaedah.


Robert mencebikan bibirnya, iya kali ia menonton film dewasa sekarang, kalau dia pengen gimana masa iya, dirinya minta Arsen yang ngo cokin.


Membayangkan nya saja sudah membuat Robert bergidik ngeri.


"Lagi apa Sayang"


"Kerja lah",


"Cuek amat sih, sama calon suami" Robert menarik kursi untuk duduk disamping sang kekasih.


"Aku mau bicara penting yang" ucap Robert lagi.


"Apa ?" tanya Jasmin yang langsung menghentikan kerjaanya.


"Nanti malam aku gak jadi main kerumah, sama besok juga",


"Loh kenapa ?"


"Tuan Arsen minta di temenin tidur di kantor, sepertinya dia sedang ada masalah sama nona Rena"


"Oh.." Jasmin menganggukan kepalanya berulang "Ya sudah kamu temenin tuan Arsen dulu, siapa tau dia butuh teman curhat"


"Kamu gak marah gitu ? ataupun ngambek ?"


"Ya enggaklah, lagian mingguannya bisa di ganti hari lainkan"


Robert mencibir, padahal ia berharap Jasmin akan marah-marah dengannya, ataupun merajuk seperti kebanyakan wanita jika tidak jadi kencan. Tapi Jasmin terlihat biasa saja.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hari sudah menjelang sore, biasanya jam segini Arsen sudah pulang. Namun sampai sekarang laki-laki itu belum menampakan batang hidungnya.


Dan sekarang Rena sadar kalau sang suami marah padanya, dari telepon yang tidak di angkat dan sms yang tidak dibalas, membuat Rena merasa bersalah.


"Kamu kok belum pulang sih mas, aku kan khawatir"


Tiba-tiba ia ingat dengan kejadian beberapa bulan yang lalu, dimana Arsen di keroyok oleh orang yang tidak di kenal. Rena takut semua itu terjadi lagi.


"Rena ayo masuk, udah mau maghrib nak" ajak Dian saat melihat Rena masih duduk di teras depan.


"Aku mau nungguin mas Arsen bu"


Dian menarik napas panjang "Arsen tidak pulang nak, katanya beberapa hari kedepan ia akan menginap di kantor"


"Kenapa bu ? apa ada kerjaan yang tidak bisa di tinggalkan ?"


Dian terdiam lalu mengajak menantunya masuk kedalam rumah, ia dan Rena duduk di sofa.


"Ibu may tanya sama kamu, apa kalian tadi bertengkar ?" tanya Dian dengan lembut.


"I--ya bu"


"Rena sadar gak kalau ada kata-kata Rena yang membuat Arsen marah"


Rena menjawab dengan gelengan kepala, ia sama sekali belum sadar akan kesalahannya.


"Tadi sebelum pergi Arsen sempat cerita sama ibu, katanya Rena tidak setuju jika Ara dibawa sama neneknya... Betul ka ?"


"Iya bu, memang Rena tidak setuju akan hal itu. Lagian mbak Talia sudah mengamanatkan Ara untuk dirawat sama Rena"


"Ibu paham hal itu nak, mungkin Talia mengatakan hal itu karena ibunya tidak ada disana, coba kalau ibunya ada mungkin saja Talian akan memberikan Ara pada ibunya"


"Jadi ibu setuju juga kalau Ara dibawa keluar negeri ?.. Kalian gak sayang dong sama Ara ?"


"Sayang Rena, bahkan sayang sekali. Tapi kamu harus lihat kondisi. Kamu sedang hamil sekarang dan sebentar lagi bayi kembar kalian akan lahir. Belum lagi Elvan yang akan segera sekolah, apa kamu sanggup merawat Ara juga"


Rena terdiam, pikiran nya belum sampai disana. Ia hanya ingin baby Ara tinggal bersamanya selamanya seperti yang ia inginkan.


"Kenapa tidak tante Mawar saja ikut tinggal disini bu ? jadi Ara tetap bersama kita"


Dian tersenyum "Arsen tidak setuju nak, kamu harus memahami keputusan suami kamu"


"Kenapa bu, apa mas Arsen takut bangkrut karena hal ini ?"..


"Astaghfirullah Rena kenapa kamu sampai berpikiran seperti itu nak ?.. Suami kamu tidak setuju ada orang lain tinggal disini karena ia ingin tempat tinggal istrinya nyaman. Coba kamu bayangkan jika sudah banyak yang tinggal di rumah ini kenyamanan di rumah ini akan hilang sayang"


"Arsen tidak takut uangnya habis, tapi dia ingin membuat istri dan anaknya merasa nyaman tinggal di rumahnya" jelas Dian panjang lebar.