
Dengan berat hati akhirnya Rena menuruti permintaan Arsen, ia sadar kalau Arsen begitu berkuasa di rumah ini. Rena tak mampu untuk menolak.
"El mau tidur sekarang ?" tanya Rena pada putranya.
Sebelum menjawab entah kenapa Elvan melirik kearah Arsen, yang sedari tadi acuh bahkan tak peduli sama sekali dengan Rena dan Elvan. Padahal sekarang dia sudah sah menjadi suami dan Ayah dari kedua orang itu.
Rena mengikuti lirikan Elvan, wanita cantik itu hanya mampu menghela nafas sembari menundukan kepalanya. Ia tau anaknya pasti menginginkan bermain bersama Arsen layak nya seoranh Ayah dan anak. Namun bagaimana itu akan terjadi sementara Arsen tak mengakui Elvan sebagai anak nya.
"Ngapain kalian menatap aku seperti itu ? kalau mau tidur ya tidur aja" suara barinton yang begitu Rena hapal terdengar dengan jelas. Arsen membuka suaranya setelah sedari tadi diam dengan mata fokus ke layar ponsel.
"Mas, bisakah kamu mengajak Elvan bermain ? dia begitu menginginkan itu" tanya Rena dengan hati-hati.
Arsen menatap ke arah Rena, ponselnya ia matikan lalu ia letakkan di atas meja. Kemudian ia berdiri dan mendekati Rena dan Elvan. Perlakuan Arsen membuat Rena berpikir kalau suaminya bersedia bermain sebentar dengan Elvan.
"Gak sudi" ucap Arsen dan langsung berlalu dari sana. Ia melangkahkan kakinya keluar kamar meninggalkan Rena yang kini sedang menahan air mata.
Pintu kamar sudah tertutup kembali, rasanya Rena tak kuat menahan lajunya air mata. Ia menunduk untuk menyembunyikan semua itu, dadanya begitu sesak seakan tertimpa beban teramat kuat.
"El mainan sama Mama ya" kata Rena dengan suara serak.
"Aku mau tidur aja Ma, ngantuk"
"Ya sudah El berbaring biar Mama elus"
Elvan menurut ia membaringkan tubuhnya di atas kasur yang sudah Arsen sediakan, dengan lembut Rena mengelus punggung putranya sampai Elvan tertidur dengan pulas.
"Maafkan Mama nak, Mama gak bisa melakukan apa-apa. Dia memang bukan Papamu, wajar kalau dia bersikap seperti itu"
"Yang penting sekarang El bisa beli mainan apa saja yang El inginkan, walau tak di anggap sama dia"
Memang benar sekarang kehidupan Elvan begitu berbeda, jika dulu dia tak punya mainan sekarang sudah banyak, karena Rena sering membelikan apapun yang Elvan inginkan, yang terpenting bagi Rena adalah kebahagiaan Elvan walaupun kehadiran mereka tak di anggap oleh Arsen.
Setelah Elvan tidur, Rena ikut membaringkan tubuhnya di samping Elvan, ia menatap lurus kedepan. Matanya belum mengantuk sama sekali, walaupun ia sudah melaksanakan sholat isya.
"Ya Allah entah apa yang akan terjadi kedepannya, hamba hanya bisa pasra semoga ada kebahagiaan yang engkau berikan pada hamba dan anak hamba" doanya dalam hati.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Di ruang kerja Arsen duduk dengan santai di kursi kerjanya, ia tak berniat untuk mengecek pekerjaan malam ini, yang ingin Arsen lakukan hanya menenangkan diri.
"Enak saja aku di suruh nemenin anaknya bermain, memangnya dia anakku" gerutunya begitu kesal.
"Kalau anaknya mau bermain kenapa gak dia aja yang nemenin, dasar !! bilang aja kalau dia mau cari perhatian dariku"
"Ciih, sampai kapanpun aku tak akan memberi perhatian pada mereka, pokoknya setelah perusahaan itu resmi kakek berikan padaku, aku akan segera menceraikan dia"
Ucapan demi ucapan terus keluar dari mulut Arsen, sesekali ia kembali menyeruput kopinya.
Malam semakin larut, kopi di hadapannya sudah habis dari tadi. Mata Arsen juga sudah mulai mengantuk membuat laki-laki itu beranjak dan meninggalkan ruang kerjanya.
Ia berjalan dengan pelan dan kembali kekamarnya, di bukanya pintu kamar dengan pelan dan hal pertama yang ia lihat adalah Rena dan Elvan yang sudah tertidur pulas di tempat yang ia siapkan sendiri.
"Sudah tidur rupanya, ku kira masih bermain" gumamnya pelan, kemudian kembali menutup pintu kamar.
"Panas banget, ini ACnya apa di kecilin sih" Arsen kembali bangun lalu mengecek suhu AC, benar ternyata suhu tersebut tak sesuai yang biasa ia pakai, dengan cepat Arsen menambahnya kedinginan ruangan itu tanpa memperdulikan ada anak kecil yang sedang terlelap.
Setelah merasa puas, barulah Arsen bisa tidur dengan pulas.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Keesokan paginya saat akan mengambil wudhu Rena mengecek tubuh Elvan, ia terkejut saat mendapati kalau anaknya sedang sakit, tubuh Elvan begitu panas sehingga membuat Rena begitu panik.
"Ya Allah El, kok bisa demam begini Nak" Rena menggendong anaknya, namun tubuh Elvan tak merespon sedikitpun ia begitu lemah.
"Mas bangun Mas !" teriak Rena.
"Mas Arsen bangun" kali ini Rena menggoyangkan tubuh Arsen hingga mau tak mau laki-laki itu membuka matanya.
"Apaan sih, ganggu saja, saya masih mengantuk" bentak Arsen dengan suara serak khas bangun tidur
"El sakit Mas, badannya panas sekali, bisakah Mas Arsen mengantar kami kerumah sakit"
Arsen melirik kearah Elvan yang tertidur di dada Rena "Kau kira aku sopirmu, bisakan kalian pakai taksi, saya masih mengantuk sana pergi"
Hati Rena begitu hancur mendengar ucapan Arsen, begitu kejamkah laki-laki itu sampai tak mau mengantarnya ke rumah sakit.
"Ya Allah Mas aku tau kalau El bukan darah dagingmu, tapi setidaknya kasihanilah dia Mas, apalagi saat ini El sedang sakit" suara Rena mulai bergetar menahan tangis.
"Sana pergi !! jangan banyak bicara !" kembali Arsen membentak lalu tangannya meraih dompet di atas meja nakas kemudian mengeluarkan sebuah kartu dan melemparkannya kehadapan Rena "Tuh dalamnya uang semua, sangat cukup untuk biaya rumah sakit anakmu"
Rena menggelengkan kepalanya "Kamu begitu kejam Mas, kamu tak punya hati nurani" tanpa mengambil kartu yang di lemparkan Arsen. Rena langsung meninggalkan kamar itu, langkah nya sedikit panjang supaya sang anak dapat perawatan segera.
"Bukannya di dekat sini ada bidan, semoga saja sudah buka" batin Rena yang mengingat kalau tak jauh dari rumah Arsen, ada seorang bidan yang membuka praktek.
Rena menuruni satu persatu anak tangga, ia begitu khawatir dengan keadaan Elvan.
"Loh nyonya mau kemana ?" tanya Marni yang melihat Rena terlihat sangat panik.
"Saya mau kebidan dekat sini, anak saya sakit" jelas Rena.
"Kenapa gak dibawa kerumah sakit nyonya ?" Marni menempelkan punggung tanganya di pipi Elvan "Ya Allah panas sekali, segera bawa nyonya takutnya kena DBD"
"Iya Bu, makanya ini mau kebidan dulu, nanti kalau memang perlu ke rumah sakit saya langsung kesana"
"Tuan nya mana Nyonya ? kenapa tak turun juga ?"
Rena menoleh kebelakang, mana mungkin Arsen akan menyusulnya, laki-laki itu tak akan peduli apapun tentang Elvan.
---
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...