
Setelah dari rumah sakit, Arsen langsung pulang kerumah. Namun sebelum itu ia mengantarkan Talia kerumah kakek Raymond terlebih dahulu.
Semua itu karena permintaan Talia, wanita itu ingin meminta maaf pada kakek Raymond.
Setiba disana, ketiganya langsung masuk kerumah, di ruang tamu ada kakek Raymond yang sedang menonton televisi.
"Assalamualaikum kek" sapa ketiganya.
Kakek Raymond mendongak, lalu seketik terdiam saat melihat penampilan Talia saat ini. Wanita itu sungguh berbeda dari sebelumnya.
"Talia" ucap kakek Raymond.
"Iya kek, ini aku Talia"
"Masya Allah kamu cantik sekali"
Talia tersenyum "Terima kasih kek"
Tatapan mata kakek Raymond tertuju pada perut Talia yang sudah sangat besar, entah kepaan terakhir kali ia melihat keadaan Talia.
"Sudah berapa bulan usia kandungan kamu ?"
"Delapan bulan kek, kami baru saja memeriksa nya kedokter"
"Betul kek, dan jenis kelaminnya perempuan" sahut Rena tampak antusias.
"Alhamdulillah" ucap kakek Raymond.
"Kek Talia akan tinggal bersama kami, apalagi sekarang kandungan Talia sudah delapan bulan jadi agak khawatir kalau menyuruhnya tinggal sendiri" sahut Arsen menjelaskan.
"Yang mana baiknya saja, yang penting baik Talia maupun bayinya selamat"
"Aamiin" balas semuanya serempak.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di kantor.....
Sudah beberapa hari ini Arsen menyuruh Robert dan Jasmin selalu bersama. Entah apa maksudnya laki-laki itu padahal baik Robert maupun Talia selalu adu mulut.
"Kenapa harus bersama kamu lagi sih, tidak bisakah tuan Arsen menyuruh orang lain saja" gerutu Jasmin kesal saat mengetahui kalau siang ini ia akan pergi lagi bersama Robert untuk menghadiri meeting penting di perusahaan lain.
Robert terlihat mencebikkan bibirnya "Heh, memangnya saya mau berduaan denganmu"
"Apalagi saya, najis tau gak berdua dengan kulkas seperti mu"
"Sekali lagi kau mengatakan aku kulkas ku jahit mulutmu" ancam Robert.
Jasmin menutup mulutnya, ia bungkam dan lebih memilih diam. Menatap lurus kedepan dimana kepadatan semakin jadi.
Sementara Robert terlihat melajukan mobilnya, mencari cela supaya terhindar dari kemacetan. Mereka harus tiba 30 menit lagi.
Akhirnya setelah menempuh perjalan yang cukuo ramai, Robert berhasil memarkirkan mobilnya di depan sebuah perusahaan.
"Berkasnya sudah beres semua kan ?" tanya Robert.
"Iya lah, kerjaanku kan selalu beres, gak kaya kamu"
Robert menahan amarahnya mendengar jawaban Jasmin, ia lantas membuka pintu mobil dan meninggalkan Jasmin sendiri.
"Ciih, bahkan dia tak membukakan pintu mobil untukku" ucap Jasmin kesal.
Jasmin keluar dari mobil sambil membawa berkas, ia menyusul Robert dengan langka cepat, karena pria itu sudah hampir memasuki lift.
Didalam lift keduanya terdiam, Robert sibuk memainkan ponselnya tanpa perduli dengan Jasmin yang kesusahan membawa berkas.
"Hei tunggu tuan kulkas" ucap Jasmin setelah pintu lift terbuka lebar.
"Ada apa lagi ?"
"Kau tidak lihat ya kalau aku kesusahan membawa berkas-berkas ini ? bisakah kamu membantuku ?"
Robert menoleh "Ciih dasar gak guna" ucap Robert lantas mengambil berkas yang ada di tangan Jasmin.
"Bawa yang itu !" perintanya pada Jasmin.
"Kenapa tidak semuanya saja kau yang bawa tuan ?"
"Kau mau saya pecat ?"
"Tidak, baiklah aku akan membawa yang ini"
Robert dan Jasmin menuju sebuah ruangan dimana meeting akan di laksanakan. Dalam bekerja Jasmin sangat profesional. Ia mampu menjelaskan dengan rinci sehingga membuat semua orang merasa takjub.
Begitu juga dengan Robert, laki-laki itu diam-diam selalu memperhatikan Jasmin.
"Sial, kenapa aku bisa senyum-senyum begini melihat dia" maki Robert dalam hati.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Bagaimana kalau malam ini kita keluar ?" tanya Arsen.
"Kemana Mas ?"
"Kemana saja sayang, nonton boleh"
"Hemmmm" Rena tampak berpikir sejenak, kemudian ia ingat kalau film korea kesukaannya akan tayang malam ini di bioskop. "Baik mas kalau gitu kita nonton saja"
"Ya sudah sana siap-siap, aku sama El tunggu disini"
Rena menganggukan kepalanya, ia menuju kamar untuk siap-siap. Namun di atas tangga Rena berpapasan dengan Talia dan Dian.
"Ibu sama mbak Talia mau ikut gak ?" tanya Rena.
"Kemana Ren ?" balas Talia sembari bertanya.
"Ke bioskop, kita nonton bersama"
Dian dan Talia saling melirik kemudian serempak menggelengkan kepalanya "Gak ah kita di rumah aja, takut ganggu kamu dan Arsen"
"Enggaklah bu, aku mala senang kalau kalian ikut"
"Udah kamu aja sana yang pergi, aku sama ibu dirumah saja"
"Beneran gak ikut ?"
"Iya"
"Ya sudah deh kalau gitu"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dan disinilah Arsen, Rena dan Elvan berada . Di depan bioskop yang pengunjungnya begitu ramai. Rena dan Elvan terlihat duduk menunggu di sebuah kursi panjang. Sementara Arsen dengan wajah kesalnya sedang berdiri mengantri.
Bukan tanpa alasan wajah Arsen selalu di tekuk, tadi saat di tanya mau nonton apa, sang istri menjawab ingin menonton film korea, tentu saja Arsen terkejut pasalnya ia begitu cemburu dengan laki-laki yang di idolakan sang istri.
"Nih tiketnya" ucap Arsen sembari memberikan tiket pada sang istri.
"Terima kasih sayang"
"Hemmmmm"
Setelah mendapatkan tiket, Arsen, Rena dan Elvan memasuki bioskop karena filmnya akan tayang beberapa saat lagi. Sangat beruntung bagi Rena karena dirinya mendapatkan bangku nomor dua dari depan, jadi ia bisa melihat dengan jelas adegan romantis yang ada di film itu.
"Harusnya tuh nonton film anak-anak tau gak, kamu gak takut kalau Elvan nonton beginian"
"Kan Elvannya tidur"
Benar memang bocah laki-laki itu sudah terlelap didada bidang Arsen. Mungkin karena sudah biasa tidur di jam segini makanya sekarang Elvan sudah tertidur.
Film pun di putar, Rena tampak begitu fokus menatap kelayar. Sementara Arsen hanya menatap sang istri dengan pandangan tak suka.
"Filmnya tuh disana Mas, bukan di wajah aku"
"Lebih enak lihat wajah kamu dari pada film itu"
Rena kembali terdiam, dan saat pemain prianya muncul ia langsung berteriak histeris seperti penonton yang lain.
"Aaahhhh, tampan sekali sih" puji Rena.
Arsen yang penasaran langsung menatap kelayar. "Tampanan juga aku dari pada dia" cibir Arsen
"Mas" panggil Rena.
"Hemmmm"
"Ke korea yuk, aku pengen foto sama dia"
"Enggak akan"
Rena cemberut, tapi matanya tetap fokus menatap kelayar "coba kalau suami ku tak cemburu pasti aku sudah kesana" gumam Rena namun dapat di dengar dengan jelas oleh Arsen.
Arsen hanya mencibir, sampai kapanpun ia tak akan membawa sang istri kenegara itu.
"Suamiku walaupun kaya tapi pelit"
"Siapa yang pelit, perasaan apapun yang kamu mau aku turutin" balas Arsen tak terima di katakan pelit oleh sang istri.
"Buktinya kamu gak kau bawa aku kekorea, apa coba namanya kalau bukan pelit"
"Itu beda ceritanya sayang...."