Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 73



Keesokan paginya Arsen mengajak sang istri pergi kedokter kandungan. Sebelumnya ia sudah meminta rekumendasi dokter kandungan terbaik pada Robert.


Arsen menghentikan mobilnya tepat didepan sebuah rumah sakit ternama.


"Yuk sayang" ajak Arsen setelah membuka pintu mobil.


Rena meraih tangan sang suami, keduanya masuk dengan bergandengan. Karena ini pertama kali mereka datang kesini keduanya harus mengantri terlebih dahulu.


Selesai mendaftar, Arsen mendekati sang istri. Ia memberikan nomor antrian yang tadi di berikan petugas rumah sakit.


"Nomor 25 sayang" ucap Arsen.


"Tidak apa-apa Mas"


Keduanya menunggu di sebuah bangku panjang bersama ibu-ibu yang lain. Arsen memperhatikan setiap pasien yang datang, ada yang perutnya sudah sangat besar dan ada pula yang belum nampak sama sekali.


Ini kali pertama bagi Arsen menemani sang istri periksa kandungan. Ada rasa bahagia tersendiri yang ia rasakan.


Setelah sekian lama menunggu akhirnya nama Rena pun di panggil, keduanya masuk kedalam ruangan dimana dokternya sudah menunggu.


"Silahkan duduk" ucap seorang dokter wanita dengan ramah.


Arsen dan Rena duduk berhadapan dengan dokter tersebut.


"Udah berapa bulan usia kandungannya ?" tanya dokter Ratna


"Menginjak bulan ke empat dok"


"Oh, selama ini ada keluhan ?"


"Hanya mengalami mual dan muntah saja, selian itu Alhamdulillah tidak ada dok"


"Baik, kita periksa dulu" balas dokter Ratna "Sus tolong di bantu ya !"


Rena naik keatas ranjang pasien, seorang suster yang tadi di perintahkan oleh dokter Ratna langsung membantu. Sementara Arsen berdiri di samping ranjang tersebut.


Dokter Ratna langsung melakukan tindakan USG, di layar monitor tampaklah hasil USG tersebut, Arsen tak paham akan hal itu ia menunggu sang dokter menjelaskan saja.


"Wah kembar" itulah kata yang pertama dokter Ratna ucapkan, membuat sepasang mata bulat milik Arsen langsung melotot sempurna. Ia tak menyangka kalau istrinya mengandung bayi kembar.


"Beneran dok ?" tanya Arsen memastikan.


"Iya pak, bahkan ini jelas sekali. Ada dua kantong dan dua janin"


"Lalu bagaimana keadaan nya dok ?"


"Mereka sehat, itu di dengar detak jantungnya semuanya bagus"


Setetes air mata membasahi pipi Rena, ia tak menyangka kalau akan mengalami hamil kembar.


"Pantes saja perutku sudah sangat besar padahal baru empat bulan, ternyata mereka ada dua. Masya Allah terima kasih ya Allah" batin Rena penuh rasa syukur.


"Ok semuanya bagus, nanti saya resepkan vitamin dan penguat kandungan"


Sekarang Rena dan Arsen kembali duduk di depan dokter Ratna, menunggu sang dokter menuliskan resep vitamin untuk Rena.


"Ini vitamin tolong di tebus di bagian apotek, susu hamilnya jangan lupa di minum dua kali sehari. Jangan angkat yang berat-berat dulu dan sampai ketemu bulan depan" jelas dokter Ratna.


Arsen menerima resep tersebut, kemudian pamit untuk pulang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah dari rumah sakit, Rena ingin mengunjungi Talia, walau bagaimanapun Talia sudah menjadi bagian dari keluarganya, Apalagi saat ini Talia sedang mengandung cucu kakek Raymond.


Mata Rena menyipit saat melihat sebuah rumah minimalis yang begitu sepi. Ia menoleh kearah sang suami, di raut wajahnya terdapat beribu pertanyaan.


"Mas apa benar ini tempatnya mbak Talia ?"


"Iya sayang, kami sengaja membawa Talia kesini supaya tak meresahkan orang lain. Kalau di bawa ke Rumah sakit jiwa kasihan kan, apalagi dia sedang hamil"


"Tapi kok sepi amat ya mas, apa gak kasihan juga ? bagaimana dengan makan nya mbak Talia ?"


"Setiap hari akan ada seseorang yang mengantar makanan untuk Talia, enggak cuma itu nutrisi kehamilannya selalu kami jaga"


Rena menganggukan kepalanya tanda mengerti, tapi tetap saja ia merasa kasihan dengan wanita itu. Padahal Talia orang yang sangat cantik tapi nasibnnya begitu malang seperti ini.


"Yuk turun" ajak Arsen.


"Iya Mas"


Baru saja pintu terbuka telinga Rena sudah mendengar teriakan dari seorang wanita, bahkan terkadang menangis namun sesaat kemudian tertawa terbahak-bahak. Rena menggenggam tangan sang suami dengan erat.


"Kenapa ? takut ?" tanya Arsen saat merasakan tangannya di genggam erat oleh sang istri.


"Hehe, gak salahkan mas kalau aku takut"


"Ya enggak sayang, kalau kamu takut mending gak usah lihat"


"Tapi aku ingin bertemu mas, kan ada kamu disini yang jagain aku"


"Iya sayang, aku akan selalu ada buat kamu, lagian Talia di ikat kok jadi dia gak bisa ngapa-ngapain"


Keduanya berjalan menuju kamar, suara teriakan Talia semakin jelas terdengar.


Cekleeekk...


Pintu kamar di buka secara perlahan, saat memasuki kamar itu mata Rena langsung di suguhi pemandangan yang tidak mengenakan. Seprai kasur yang berantakan lalu penampilan Talia yang begitu berbeda di mata Rena.


Dulu terakhir bertemu Talia masih sangat cantik, namun sekarang kecantikan itu hilang dan di gantikan dengan wajah pucat dan rambut yang sangat kusut. Sepertinya tidak pernah di sisir.


"Assalamualaikum mbak Talia" ucap Rena.


Talia menatap wanita berhijab dihadapannya. "Siapa kamu ? jangan mendekat"


"Mbak jangan takut ya, aku Rena istrinya Mas Arsen"


Mendengar nama Rena, Talia langsung menatap tajam. Seolah ia begitu mengenal wanita itu.


"Kau yang merebut suami ku" teriak Talia lagi.


"Tidak mbak, aku tidak pernah merebut suami mbak. Mas Arsen memang suami aku"


"Hahahahaha" sesaat kemudian Talia tertawa terbahak-bahak "Arsen milikku" ucapnya lagi.


"Dasar gila" .maki Arsen dalam hati.


Arsen mendekati sang istri "Yuk yang pulang saja, menghadapi orang gila kita bisa ikutan gila"


"Tunggu dulu Mas, aku ingin menyisiri rambut mbak Talia, kasihan dia Mas"


"Tapi sayang, kalau dia berontak gimana ?"


"Kan tangan sama kakinya di ikat"


Rena melirik sekitar, ia berjalan mendekati meja rias lalu mengambil sebuah sisir diatasnya. Rena mendekat lalu duduk disamping Talia.


"Aku sisirin ya mbak !" ucap Rena meminta izin


Talia tak menjawab, tapi dirinya tak juga menolak. Sehingga membuat Rena tersenyum.


"Mas tolong ambilin ponsel aku !"


"Untuk apa sayang ?"


"Aku mau mendengarkan anak di kandungan mbak Talia orang yang sedang mengaji mas. Siapa tau dengan mendengarkan ini juga mbak Talia akan segera sembuh"


Segera Arsen melakukan perintah sang istri, kemudian memutar surat Ar-rahman dan mendekatkan ponsel itu di perut Talia.


Talia tak berontak sedikitpun, ia seperti menikmati semuanya.


"Mbak suka ?" tanya Rena.


Di luar dugaan Talia mengangguk dengan mantap.


"Kalau mbak suka, nanti aku suruh mas Arsen beliin mbak ponsel biar mbak bisa mendengar ayat-ayat Al-Quran"


"Masya Allah istriku, dia benar-benar wanita sholeha." batin Arsen tersenyum bangga pada sang istri.


Sekarang penampilan Talia begitu berbeda, rambut yang tadinya kusut kini sudah rapih kembali. Rena terpaksa mengikat rambut Talia supaya tak mengganggu wanita itu.


"Sudah selesai, kalau begitu Rena pamit dulu ya mbak. Besok insya Allah aku akan datang lagi"


-------


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...