Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 39



Benar saja setelah sampai rumah, Willi langsung mencari sosok Talia. Setelah menemukannya Willi langsung memeluk wanita itu dengan erat. Menelusuri leher jenjang Talia dengan kecu pan bertubi-tubi.


"Ehm. Hentikan paman !!" lirih Talia, ia mendorong dada Willi sekuat tenaga.


Bukanya menjauh Willi justru semakin menyerang tubuh Talia. Bahkan kini laki-laki itu sudah mengangkat dres Talia. Ia mencari kedua gu nung kembar milik Talia, setelah menemukannya Willi langsung bermain di atasnya.


"Aaaahhhhhh" sekarang Talia justru mende sah membuat hasrat Willi benar-benar tertantang.


"Aku mau sekarang sayang !" ucap Willi dengan suara serak karena menahan sesuatu.


"Lakukanlah ! aku sudah tidak kuat menahannya" balas Talia kemudian.


Dengan semangat empat lima, Willi langsung mengangkat tubuh Talia keatas ranjang. Ia menin dih tubuh Talia dan satu tangannya kembali bermain di atas puncak gu nung Talia..


"Pakai pengaman dulu Sayang" pinta Talia setelah keduanya melepaskan pakaian masing-masing.


"Untuk kali ini biarkan saja sayang, lagian aku sudah tak sabar untuk menusuk itumu" tunjuk Willi pada kedua paha Talia.


"Tapi, bagaimana kalau aku hamil"..


"Tidak akan, aku akan bermain cantik"


Karena tak ingin mendengar pertanyaan lain dari Talia. Willi langsung kembali menyerangnya. Ia kembali membuat Talia mende sah.


Akhirnya walau sedikit ragu Talia kembali menyerahkan sesuatu berharga di dirinya. Kali ini mereka melakukan tanpa pengaman, berbeda di waktu kemaren.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sementara itu di rumah Arsen. Setelah permasalahan terselesaikan Kakek Raymond menginap disana. Membuat Rena memasak yang banyak untuk kakek suaminya itu.


Saat ini Kakek Raymond sedang bermain bersama Elvan. Terkadang terdengar tawa menggelegar dari Elvan maupun kakek Raymond, membuat Rena yang sibuk memasak untuk makan malam juga ikut tersenyum.


Tiba-tiba Arsen melingkarkan kedua tangannya di perut sang istri. Rena kaget lalu menoleh kekiri dan kekanan untuk memastikan kalau di dapur hanya ada mereka berdua.


"Mas lepaskan, nanti ada yang melihat" pinta Rena.


"Memangnya kenapa kalau ada yang melihat sayang, kita ini sudah SAH menjadi suami istri"


"Ya tapikan gak enak Mas, malu juga lah"


Rena hendak menyingkirikan tangan Arsen, namun kedua tangan itu justru semakin erat memeluk Rena.


"Lusa bersiaplah" bisik Arsen kemudian.


"Memangnya mau kemana ?"


"Kita akan bulan madu"


Rena menjadi merinding mendengar bisikan sang suami. Apalagi mendengar kata bulan madu. Membuat Rena harus ekstra berpikir.


"Kemana Mas ?" tanya Rena


"Nanti kamu juga akan tau, yang penting siapkan dirimu untuk dua hal"


"Apa ?".


"Yang pertama siapkan untuk di perjalanan, dan yang kedua siapkan untuk malam harinya. Karena aku akan selalu menservis tubuhmu"


Benar kan dugaan Rena. Laki-laki itu pasti akan selalu meminta haknya. Semalam saja Arsen sudah membuat tubuh Rena menjadi terkulai lemas. Bagaimana nanti saat keduanya berbulan madu. Bisa-bisa Rena harus kerumah sakit karena kehabisan tenaga.


Dari ruang tamu, Kakek Raymond merasakan haus.


"Sebentar ya El. Akung mau ngambil minum dulu" ucap kakek Raymond.


Kakek Raymond menuju dapur, dan disana matanya terbelalak kaget melihat adegan dewasa antara Arsen dan Rena.


"Ehem--Ehem" Kakek Raymond sengaja mengeraskan suaranya.


Dengan reflek Arsen melepaskan pelukannya, ia menatap tajam sang kakek karena sudah mengganggu kegiatannya. Berbeda dengan Rena yang langsung menunduk karena malu.


"Cih, kalau mau melakukan adegan dewasa kenapa tidak dikamar sih, inikan di dapur bagaimana kalau El melihat" omel pria paruh baya itu.


"Buktinya El tidak melihatkan kek, malahan kakek yang melihat" balas Arsen mencibir.


Rena langsung mencubit pinggang suaminya, karena masih berani menjawab ucapan sang kakek. Bukannya malu Arsen justru bersikap biasa saja.. Dasar.


"Emmm. Kakek mau apa ? kalau mau kopi atau teh biar Rena buatkan" tanya Rena dengan gugup.


"Tidak nak, Kakek hanya mau mengambil air minum" jawab Kakek Raymond "Lain kali kalau anak ini mengganggu kegiatan memasakmu, kau jewer saja telinganya" sambungnya lagi.


Rena menyengir "Iya Kek"


Sementara Arsen mengangkat sudut bibirnya, ia masih saja menatap sang kakek dengan kesal. Padahal tadi ia dan Rena sedang romantis bagaimana di drama korea.


"Sana Mas ,temenin kakek sama El di depan. Biar aku bisa masak dengan nyaman" usir Rena.


"Tidak mau"


"Kalau tidak mau, aku jewer nanti"..


"Silahkan saja, aku tidak takut" ancam Arsen.


Pluuukkkk.


Rena langsung memukul lengan suaminya menggunakan spatula yang sedang ia pegang. Otomatis kelakuan Rena membuat Arsen merintih kesakitan.


"Awwwwwww" pekik Arsen kemudian.


"Kau jahat sekali sih sayang, tega-teganya kau memukulku" gerutu Arsen


"Makanya tinggalkan aku, jangan ganggu aku yang sedang memasak"


"Iisssttttt" Arsen menatap Rena dengan kesal "Iya-iya, aku akan pergi dari sini" lanjutnya lagi.


Rena mengu lum senyumnya, saat melihat sang suami pergi dengan perasaan kesal. Ia sebenarnya tak tega melakukan itu, namun dari pada ada yang melihat kelakuan Arsen lagi lebih baik Rena mengusirnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kenapa itumu selalu nikmat sayang" bisik Willi pada Talia yang sudah terkapar tak berdaya.


Talia tak menjawab, entah sudah berapa kali ia dan Willi melakukan itu. Terbukti sekarang waktu sudah sore dan mereka bermain saat siang hari.


"Aku lelah sekali, tolong jangan ganggu aku" ucap Talia dengan lemah.


Cup.


Sebelum beranjak Willi menge cup kening milik Talia. Kemudian berjalan menuju kamar mandi. Ia ingin berendam sebentar untuk mengembalikan tenaga serta menenangkan pikirannya.


Saat berendam Willi kembali mengingat kejadian tadi, saat di rumah Arsen. Seketika amarahnya kembali memuncak karena hal itu.


"Brengsek, Sialan" umpat laki-laki itu.


"Awas kalian semua"..


"Aaaaaahhhhhhh"


Willi berteriak dengan kencang, busa sabun yang menyelimuti tubuhnya berhamburan karena ia lempar kemanapun.


"Kau harus hancur Arsen, kau harus hancur" gumam Willi sembari menggenggam tangannya dengan kuat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam harinya, saat makan malam tiba Kakek Raymond terus di tatap tajam oleh sang cucu. Apalagi kesalahannya kalau bukan karena tadi saat kakek Raymond memergoki dirinya dan Rena.


Lucu memang, harusnya Arsen merasa malu tapi ini justru marah dan kesal.


"Kau kenapa menatap kakek terus ?" tanya kakek Raymond walau sebenarnya ia ingin tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Arsen.


"Tidak ada"


"Oh ya kata Robert kalian akan bulan madu, rencananya mau kemana ?"


"Korea kek, kalau jadi" jawab Arsen.


"Hah, Korea Mas ? seriusan ?" sahut Rena.


"Iya sayang, kamu suka kan ?"


Dengan semangat Rena mengangguk, tentu saja ia suka kalau di ajak ketempat itu, apalagi Rena punya idola yang begitu ia impikan selama ini.


"Semoga saja nanti aku ketemu sama dia" gumam Rena namun bisa di dengar jelas oleh Arsen.


"Dia siapa ? apa kau punya laki-laki lain disana ?" tanya Arsen sambil menatap istrinya dengan tajam.


Gleeeekkk


Rena meneguk air liurnya dengan cepat, saat di tatap tajam oleh Arsen.


-----


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...