
Di kantor Arsen duduk bersila di kursi kebesarannya, ia menatap lurus kedepan, sementara jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja kaca.
Pikirannya berkelana pada kejadian semalam, dimana saat dia memeluk Rena dengan erat, apalagi saat ia tertidur dengan pulas.
"Memalukan" gumamnya.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, Robert masuk sembari membawa berkas.
"Tuan" panggil Robert. Akan tetapi tak ada jawaban dari Arsen karena laki-laki itu masih larut dalam pikirannya.
"Tuan Arsen" kali ini Robert melambaikan telapak tangannya di depan wajah Arsen, sehingga membuat Arsen tersadar akan lamunannya.
"Mau ku potong tangan mu" ucap Arsen kesal dengan kelakuan Robert.
"Maafkan saya Tuan, tapi tadi anda melamun dan saya sudah memanggil berulang kali"
"Banyak alasan, sekarang jelaskan mau apa kau keruangan ku ?"
"Ini ada berkas yang harus anda tanda tangani Tuan" Robert meletakkan berkas itu keatas meja tepat di hadapan Arsen.
Dengan cekatan Arsen membuka setiap lembar berkas itu, lalu membubuhkan tanda tangannya disana. Setelah selesai ia kembali menyerahkan semuanya pada Robert.
"Oh ya Tuan saya lupa memberi tahu anda kalau sekitar satu bulan lagi adalah ulang tahun perusahaan kita"
Arsen mendongak "Saya ingat semua itu, dan kita harus mengadakan acara yang meriah, kau undang semua perusahaan yang bekerja sama dengan kita"
"Baik Tuan, akan saya siapkan dari sekarang"
Arsen mengangguk, ia mengibaskan telapak tangannya untuk menyuruh Robert pergi, saat ini ia sedang tak ingin di ganggu karena ia ingin kembali mengingat kejadian semalam.
Robert yang paham akan semua itu langsung pamit pergi, tak lupa sebelum itu ia membungkukan badannya kepada Arsen.
Sementara itu setelah kepergian Robert, Arsen kembali melamun. lucu memang, Arsen yang tak mencintai Rena tapi kejadian semalam selalu ingin terlintas dipikirannya. Arsen mengusap wajahnya dengan gusar.
"Sial....." umpat Arsen kesal.
"Bisa-bisanya aku selalu memikirkan kejadian semalam"
Kedua tangannya ia letakkan di dada, ia tak bisa berkonsentrasi sekarang.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Hari sudah beranjak sore, Rena sedang menemani Elvan bermain di teras rumah. Bocah laki-laki itu berlari sembari tertawa sementara Rena melempar bola dengan pelan supaya Elvan bisa menangkapnya.
"Awas El" ucap Rena saat melihat mobil Arsen masuk ke halaman rumah.
Elvan menurut, ia menghentikan langkahnya lalu berjongkok mengambil bola yang kini ada di hadapannya. Melihat kehadiran Arsen. Dengan cepat Elvan berlari ke arah Arsen.
"Ayo main bola Papa" ajak Elvan sembari tersenyum manis.
Arsen terdiam, panggilan itu kembali ia dengar dari mulut kecil bocah di hadapannya, ia tak suka itu bahkan sangat tak menyukainya.
"Sudah ku bilang jangan panggil saya Papa, aku bukan Papamu" bentak Arsen.
Rena langsung mendekat, lalu menarik Elvan kedalam dekapannya.
"Maafkan Elvan tuan, dia masih terlalu kecil. Elvan terlalu senang saat mengetahui kalau dirinya memiliki Papa" jelas Rena, berharap Arsen mengerti.
"Itu bukan urusanku, mau dia senang atau tidak aku tak peduli, yang jelas aku tak menyukai panggilan itu" bentak Arsen lagi.
Rena menunduk, sebisa mungkin ia menahan air matanya supaya tak lolos begitu saja. "Maaf Tuan"
"Maaf-maaf terus, kau ini gak punya ot*k ya untuk berpikir, kau kan tahu kalau aku tak menyukai semua itu" Setelah mengatakan itu Arsen langsung berlalu dan masuk kedalam rumah.
Rena langsung terduduk, ia mensejajarkan tubuhnya pada tubuh Elvan. Senyum kecil begitu ia paksakan saat menatap Elvan.
"Udahan ya mainannya, besok kita main lagi" ucap Rena dengan lembut.
"Iya Ma"
"Anak Mama memang pintar, yuk masuk ! udah sore waktunya El mandi"
Elvan mengangguk-anggukan kepalanya, ia masuk duluan sementara Rena membawa mainan Elvan kedalam. Saat hendak mengambil bola tak terasa bahwa air matanya yang sedari tadi ia tahan langsung meluncur membasahi pipi mulusnya. Namun dengan cepat Rena menghapusnya tak ingin satu orang pun tau kalau ia sedang menangis.
Saat Rena hendak masuk kedalam, tiba-tiba dua wanita paruh baya datang. Rena mendekat untuk membukakan pagar.
"Permisi Bu, kami Art yang di kirim dari yayasan untuk bekerja di rumah Tuan Arsen" jelas salah satu dari mereka.
"Oh, silahkan masuk" Rena tersenyum ramah.
"Tunggu sebentar ya, saya panggil Tuan Arsen dulu"
Saat kepergian Rena kedua wanita itu saling menatap.
"Apa dia istri tuan Arsen ya ?" tanya Marni pada temannya.
"Mana saya tau, tapi kata yayasan Tuan Arsen memiliki istri" jawab Leni.
Saat keduanya sedang asik mengobrol, tiba-tiba Arsen datang membuat keduanya langsung terdiam.
"Jadi kalian yang di kirim yayasan untuk bekerja di rumahku" tanya Arsen dengan nada dingin.
"Iya Tuan, perkenalkan saya Marni dan ini teman saya Leni, umur kami 40 tahun Tuan" jelas Marni kemudian.
"Baik, kalian bisa mulai bekerja. Kamar kalian akan di tunjukan oleh istri saya"
"Rena" panggil Arsen.
Rena yang di panggil langsung berlari "Iya Tuan" jawab Rana.
"Tunjukan kamar mereka, dan jelaskan apa saja yang perlu mereka kerjakan"
"Baik"
"Setelah selesai temui saya di kamar" bisik Arsen membuat bulu kuduk Rena merinding.
Rena langsung menjalankan tugasnya, ia memberi tahu dimana letak kamar kedua Art itu. Dan apa saja yang mesti di kerjakan.
Marni dan Leni mendengarkan dengan seksama.
"Sudah paham kan Bu ?" tanya Rena dengan lembut.
"Paham nyonya" jawab Marni dan Leni serempak.
"Panggil Rena saja, jangan ada nyonyanya"
"Tapi-----"
"Sudah kalian istirahat dulu, saya mau ke atas"
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Tok---Tok---Tok.
Rena mengetok pintu kamar Arsen, tak berapa lama Arsen sudah membukanya.
"Masuk" titah Arsen.
Rena menurut, ia masuk kedalam kamar luas itu.
"Ada apa Tuan ?"
"Sekarang ada dua Art yang bertugas disini, dan saya minta kau jangan memanggilku Tuan lagi, kau harus memanggilku dengan sebutan Mas, karena aku tak ingin mereka berpikiran negatif tentang pernikahan kita" jelas Arsen dengan mantap.
"Kau mengerti kan ?" sambung Arsen lagi.
"Mengerti Tuan, eh Mas"..
"Bagus, dan satu lagi kau harus pindah ke kamar ini ! kalau anakmu sudah berani tidur sendiri biarkan dia tetap di kamar itu"
Rena melongo tak percaya akan permintaan Arsen.
"Kau jangan besar hati dulu, kau tidur disini ya di lantai bukan di kasur"
"Maaf Mas, biarkan saja saya tetap di kamar itu, lagian El belum terbiasa tidur sendiri" jelas Rena.
"Lalu kau mau mereka beranggapan yang buruk tentang saya ?"
"Tidak Mas, nanti saya akan jelaskan pada mereka kalau Elvan belum berani tidur sendiri"
"Kau mau membantahku, kalau aku perintahkan kau tidur disini ya lakukan saja ! aku tak suka di bantah" bentak Arsen.
---
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...