Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 79



Sementara itu Talia baru saja habis mandi, ia mengusap pinggangnya berulang kali. Sedari tadi entah kenapa pinggangnya terasa sangat sakit. Nanun Talia hanya diam saja dan tak mengatakan apa-apa pada semua orang.


"Kenapa makin sakit ya" gumam Talia.


Talia langsung berganti pakaian, ia ingin beristirahat sekarang, mungkin rasa sakit itu akan hilang jika ia istirahat sebentar.


Bahkan tanpa menyisir rambutnya terlebih dahulu Talia langsung membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Telapak tangannya terus mengusap pinggannya.


"Awwwwww" kali ini ia menjerit karena merasakan perutnya juga ikutan sakit.


"Kok sampai perut sih, apa jangan-jangan mau lahiran ya"


"Tapi menurut buku yang aku baca katanya tanda-tanda mau lahiran ada keluar darah, aku belum ada keluar darah sama sekali"


"Aaah, mungkin karena kecapekan karena jalan pagi tadi"


Kata-kata itu terus meluncur di mulut Talia, sesaat kemudian telapak tangannya tak lagi mengelus pinggangnya, karena rasa sakit itu sekarang hilang membuat Rena menarik napas panjang.


"Alhamdulillah"


Setelah rasa sakit itu hilang, Talia menyisir rambutnya lalu mengenakan hijab. Tali melangkahkan kakinya keluar kamar, menuruni anak tangga dengan sangat pelan.


"Tante Lia" panggil Elvan


"Hei ganteng, sedang apa ?"


"Nungguin Papa dan Mama"


"Oh, nenek mana nak ?"


"Ke kamal cebentar"


Talia mendudukan dirinya di samping Elvan. Ia menatap Elvan yang sedang bermain. Sesekali ia tersenyum tapi sesaat kemudian mereka di kagetkan dengan suara Dian yang baru saja kembali dari kamar.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Astaga mas kita lupa menanyakan apa bisa nanti lahiran normal" pekik Rena saat berada didalam mobil bersama sang suami.


"Eh iya lupa, ya sudah bulan depan saja kalau gitu"


"Tuh kan kamu nya juga pelupa orangnya" cibir Rena.


Arsen terkekeh "Tapi pelupaan kamu yang"


"Sama aja mas"


"Dasar gak mau ngalah" gumam Arsen.


"Mas" panggil Rena lagi


"Hemmm"


"Mas mau kekantor ya ?" tanya Rena


"Iya sayang, habis nganterin kamu pulang mas langsung jalan, kenapa memangnya ??"


"Aku mau ikut kekantor Mas"


"Tumben ? biasanya gak mau" dahi Arsen mengerut mendengar sang istri ingin ikut kekantor ,pasalnya selama hamil Rena tak mau saat diajak kekantor dengan alasan gak Pede karena sekarang gemukan.


"Kenapa memangnya gak boleh ya ?"


"Boleh dong sayang" balas Arsen "jadi kita langsung ke kantor aja ya"


"Iya mas, bentar aku telepon ibu dulu"


Arsen mengangguk, ia tak jadi membelokan mobilnya kearah rumah melainkan ke kantor. Hari ini mungkin ia akan semangat bekerja karena sang istri menemani.


Setiba di kantor Arsen langsung mengajak Rena keruanganya, tapi wanita itu menolek sehingga membuat Arsen bingung.


"Ada apa lagi sayang ? katanya mau ikut kekantor"


"Aku mau keliling kantor mas, bukan mau keruangan kamu"


"Maksudnya ?"


"Iya aku ingin mengelilingi kantor kamu"


"Astaghfirullah, apa ini juga dikatakan mengidam" ..


"Mungkin saja mas" jawab Rena terkekeh sembari mengelus perutnya.


Arsen hanya melongo kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bukan tak ingin menuruti sang istri tapi bisa di bayangkan bagaimana caranya ia akan mengelilingi kantornya. Bahkan selama ini Arsen hanya tau lantai satu sama lantai tujuh tempatnya bekerja.


"Ayo mas" ajak Rena merengek.


"Kamu yakin sayang ?"


"Iya mas, kenapa sih ?"


"Kantor ini luas sayang, bahkan mas saja tidak pernah keliling"


"Ya sudah kalau mas tidak mau nemenin aku sendiri saja"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di rumah...


Talia kembali merasakan sakit, tapi ia kembali menahannya, keringat dingin bercucuran membuat Dian menjadi bingung.


"Kamu kenapa Talia, kok keringatan begitu seperti menahan rasa sakit"


"Ini tante, dari tadi pinggang sama perut Talia sakit"


"Astaga, kenapa tidak bilang dari tadi ? ini mungkin tanda-tanda kamu akan lahiran"


"Tapi tante aku belum mengeluarkan lendir ataupun darah, menurut buku yang Talia baca katanya tanda-tanda melahirkan akan mengeluarkan cairan itu" jelas Talia yang kembali meringis karena rasa sakit itu sekarang lebih terasa.


"Talia, ciri-ciri melahirkan itu tidak harus ada lendiri ataupun darah. Tante aja dulu gak ada seperti itu waktu mau lahirin Arsen"


"Adduuuuuhhh" Talia berdiri seketika membuat Dian semakin panik.


"Kerumah sakit yuk, tante teleponin Arsen dan Rena dulu"


"Nanti saja tan, aku cuman mau BAB kok"


"Yakin ?"


"Iya tante, Talia kekamar mandi dulu ya"


"Hati-hati"


Karena khawatir Dian akhirnya mengikuti Talia kekamar, ia menunggu didepan pintu kamar mandi.


30 menit berlalu, namun Talia tak kunjung keluar. "Kenapa Talia lama sekali ya"


Tok-tok-tok..


Dian akhirnya memutuskan mengetok pintu kamar mandi


"Lia ini tante, kamu kenapa lama sekali ?" teriak Dian


"Sebentar lagi Tan, ini Talia masih sakit perut"


"Tapi kamu beneran BAB kan ?"


"Enggak tan, gak ada yang keluar".


Mendengar hal itu Dian langsung panik, ia sudah yakin kalau Talia akan segera melahirkan.


"Lia mending kamu keluar dulu, kita kerumah sakit sekarang sepertinya kamu akan melahirkan"


Tak ada sahutan dari dalam ,namun beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka. Talia keluar dengan keringat mengucur deras. Dian mengelap keringat Talia lalu menuntun wanita itu untuk duduk diatas ranjang.


"Tante teleponin Arsen dan Rena dulu" ucap Dian.


Talia hanya mengangguk pasra, ia sudah tak tahan dengan rasa sakit itu. Rasanya seperti semua tulangnya akan patah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ponsel milik Rena berbunyi, membuat wanita itu menghentikan langkahnya. Saat ini ia dan Arsen sedang berkeliling sesuai yang di inginkan Rena.


"Ambilin kursi" pinta Arsen pada pekerja yang ada disana.


"Baik tuan"


Rena duduk di kursi yang tadi Arsen minta, ia menggeser menu hijau lalu menempelkan ponselnya di daun telinga.


"Assalamualaikum bu"


"Waalaikumsalam, kamu masih di kantor nya Arsen ya nak ?"


"Iya bu, ada apa ? kok ibu panik sekali"


"Talia sepertinya mau melahirkan nak, bisakah kamu pulang sekarang ?"


"Astaghfirullah, ya bu Rena dan Mas Arsen akan segera pulang"


"Ibu tunggu di rumah ya"


"Atau ibu sama mbak Talia duluan saja kerumah sakit, entar aku sama mas Arsen menyusul saja kesana, takutnya kelamaan kalau nunggu kami pulang dulu"


"Baiklah kalau begitu"


Setelah panggilan terputus, Rena langsung menjelaskan pada sang suami mengenai kondisi Talia. Tentu saja Arsen langsung menyetujui untuk pulang sekarang.


Beruntung sekarang mereka belum ada setenganya berkeliling, karena akan terasa lama jika ingin kembali kedepan.


"Tau begini kelilingnya besok aja ya mas" ucap Rena


Arsen hanya mencebikkan bibirnya, ia berharap jangan sampai Rena meminta hal ini lagi. Kakinya sudah terasa pegal padahal baru saja berkeliling. Bagaimana kalau semuanya sudah ia kelilingi bisa-bisa nanti malam ia akan memanggil tukang urut.


"Kamu apa gak capek sayang keliling tadi ?"


"Kalau capek kan tinggal kamu gendong mas"