
Bibir Arsen melengkung membentuk sebuah senyuman, jari jemarinya masih memijiti kepala Rena.
"Mas"
"Hmmmmm"
"Kapan kamu akan menceraikan aku ? bukankah kamu sudah mendapatkan apa yang Mas mau"
Dalam lintasan detik Arsen langsung menghentikan kegiatannya, ia terdiam dan tak suka dengan pertanyaan Rena. Pernikahan mereka memang hanya sebatas nikah kontrak karena dirinya ingin memiliki perusahaan itu dengan utuh.
Namun entah sekarang seiring berjalanya waktu, Arsen mulai menyukai perannya sebagai suami. Dan untuk rasa apakah ia sudah mencintai Rena.
"Kenapa kau bertanya seperti itu, bukankah pernikahan kita belum ada satu tahun ?"
"Iya memang, tapi kalau memang sudah waktunya tidak apa-apa sekarang Mas Arsen menceraikan aku" Kepala Rena menunduk, terdapat kesakitan saat ia mengatakan itu. Sesungguhnya Rena tak ingin berpisah dan menjanda lagi, namun Rena sadar kalau dirinya tak pantas untuk Arsen.
Arsen beranjak, ia berjalan menuju balkon kamar. Sementara Rena masih diam di posisi semula, namun kali ini Rena mengangkat kepalanya dan memperhatikan dimana suaminya berada.
"Ada apa dengan Mas Arsen ? apa pertanyaanku ada yang salah ? " batin Rena.
Rena hanya ingin sebuah kepastian, jika memang pernikahan mereka harus berakhir sekarang ia harus menyiapkan hati, walau memang selama ini Rena terus menjaga hatinya supaya tak jatuh cinta pada Arsen.
Namun entah kenapa rasa itu datang tiba-tiba, rasa sayang dan cinta itu masuk tanpa permisi, Rena hanya ingin membuang itu makanya jika memang Arsen ingin bercerai sekarang, Rena tak akan terluka terlalu jauh.
Sementara itu Arsen diam sembari menatap langit yang sedikit mendung, mungkin saja akan turun hujan malam ini.
"Ada apa ini ? kenapa aku tidak ingin melepaskan Rena, mungkinkah aku sudah mencintai Rena sekarang ?"
Arsen masih bingung dengan perasaan nya sendiri, ia memang tak percaya namanya cinta, bukan tanpa alasan, namun sebuah kenangan pahit yang pernah ia alami membuat Arsen tak percaya akan kata itu.
Dulu saat ia masih berusia 10 tahun, ia melihat ibunya pergi dengan laki-laki lain. Meninggalkan dirinya dan juga sang Ayah. Bahkan ibunya tak perduli dengan jeritan serta tangisan Arsen.
Mengingat hal itu selalu membuat Arsen marah, apalagi sang Ayah juga selalu mengatakan padanya jangan percaya pada cinta apalagi perempuan.
"Sial" ucap Arsen.
Tapi sekarang semuanya berbeda, dulu mungkin Arsen bisa membenci setiap wanita yang mendekatinya, bahkan tak percaya yang namanya cinta, namun sekarang berbeda, setelah pertemuannya dengan Rena dunianya seakan berubah, Arsen seperti menemukan hal baru dalam hidupnya.
"Tidak, aku tidak bisa berpisah dengan Rena"
"Aku mencintainya !"
Samar-samar telinga Arsen mendengar Rena berjalan meninggalkan kamar, dengan cepat Arsen memanggil.
"Rena..."
Langkah kaki Rena langsung berhenti "Iya Mas"
"Mau kemana ?"
"Aku mau keluar Mas, ada apa ?"
"Tunggu dulu"
Arsen kembali kekamar, ia langsung memeluk tubuh Rena dengan erat. Tentu saja perlakuan Arsen membuat Rena kaget.
"Aku tak bisa menceraikan kamu Ren"
"Kenapa ? bukankah di perjanjian seperti itu ?"
Arsen menggeleng "Perjanjian itu batal Ren, aku tak bisa menceraikan kamu, aku mencintaimu"
Rena langsung terdiam, ia masih mencerna setiap ucapan Arsen.
"Aku mencintaimu Rena, aku janji akan membahagiakan kamu dan juga Elvan. Maafkan sikap ku selama ini" ulang Arsen lagi.
"Benarkah semua yang kamu katakan Mas ?"
"Aku memang tak percaya yang namanya cinta, namun saat kehadiranmu duniaku berbeda, kamu seperti mendatangkan hal baru dalam hidupku"
Arsen melepaskan pelukannya, ia menangkup kedua pipi Rena menggunkan kedua telapak tangannya. "Kamu mau kan menjadi istriku selamanya ?"
Senyum Rena langsung mengembang. "Aku mau Mas, aku akan menjadi istri Mas Arsen selamanya"
Ah,,, rasanya legah sekali setelah mengatakan semuanya, perasaan Arsen rasanya plong.
Saat keduanya sedang menikmati pelukanya, pintu kamar langsung terbuka dengan lebar.
"Astaghfirullah" Reflek Rena langsung melepaskan pelukannya.
Robert berdiri mematung, matanya baru saja melihat adegan yang selama ini tak pernah ia bayangkan.
"Hei kalau mau masuk kekamar orang tu ketok pintu dulu, gak sopan" omel Arsen kesal dengan sikap Asistennya itu.
"Robert kau dengarkan apa yang aku katakan ?" bentak Arsen lagi.
Robert tersadar, ia langsung tak enak hati. Apalagi melihat tatapan Arsen.
"Maaf tuan saya hanya mau mengantarkan obat untuk nona Rena, ini saya letakkan di sini, setelah ini saya mau pamit karena ada kerjaan" setelah mengatakan itu Robert langsung berlari, bahkan ia meninggalkan obat itu di lantai.
Benar-benar Asisten kurang ajar.....
"Sialan, awas aja besok" gerutu Arsen kesal kemudian mengambil obat itu.
"Udah Mas jangan marah-marah terus"
"Gimana enggak marah, lihat bahkan dia meninggalkan obat mu di lantai"
Rena tersenyum, rasanya masih agak canggung jika terlalu dekat dengan Arsen walau keduanya sudah mengutarakan perasaan masing-masing.
"Emmmm, aku mau kebawa nemuin Elvan"
"Tungguin"
Keduanya turun kebawah, mereka melihat Elvan sedang bermain bersama Marni.
"Hai anak Papa" ucap Arsen membuat Elvan menoleh. Masih ada rasa takut di wajah Elvan saat melihat Arsen, mungkin karena sikap Arsen selama ini.
"Main apa sayang ?" tanya Arsen lagi, sekarang ia sudah menjadi seorang Ayah walaupun itu bukan anak kandungnya, namun Arsen berjanji akan menjaga Elvan dengan baik.
"Main mobilan" jawab Elvan sedikit ragu.
"Wah, Papa boleh ikutan main gak ?"
"Boleh" senyum Elvan langsung mengembang mendengarnya, selama ini Elvan sering meminta Arsen untuk menemaninya bermain, hanya saja Arsen terlalu keras dan sering mengatakan kalau Elvan bukan anaknya.
Dari kejauhan Rena tersenyum, ia menyusut air matanya yang sudah mengalir membasahi pipi. Rena hanya terharu melihat pemandangan ini. Selama ini ia tak menyangka kalau Arsen mau menerima dirinya dan Elvan.
"*Terima kasih ya Allah, engkau mengabulkan doaku, memang tak ada yang tak mungkin jika engkau yang berkehendak"
"Mas Rizal aku dan Elvan sudah bahagia Mas, kamu yang tenang ya disana, walau sekarang aku sudah memiliki suami baru, kamu akan tetap ada di hatiku*"
"Mama" tiba-tiba Elvan memanggil, membuat Rena tersadar dari lamunannya.
"Iya sayang" balas Rena dan mendekati Elvan.
"Kenapa sayang ?" tanya Rena lagi.
"Papa mau beliin El mainan lagi" jawab Elvan girang.
Rena dan Arsen saling menatap "Kenapa gak boleh ?" tanya Arsen
"Boleh Mas, makasih udah menyayani Elvan"
Arsen tak menjawab, ia justru menarik Rena untuk ikut duduk di dekatnya.
"El, ajak Mama juga ya mainya biar seru"
"Iya Pa"
"Aku mau makan Mas, lapar" sahut Rena
"Oh ya lupa, kan kamu mau minum obat juga. Bentar.ya !!" Arsen langsung bangkit dan berjalan menuju dapur.
"Mas Arsen mau ngapain sih, kan yang lapar aku kenapa dia yang kedapur" gumam Rena