
Setelah mengantar Rena dan Elvan kerumah, Arsen langsung menuju kantornya, bahkan laki-laki itu tak mampir walau sebentar kerumah.
Setiba di kantor, Arsen langsung memanggil Robert untuk meminta penjelasan tentang kasus nya kemaren.
"Bagaimana ?" seru Arsen, ia duduk di kursi kebesarannya.
"Saya menemukan video waktu tuan di keroyok oleh orang yang tidak di kenal, tapi kalau di hotel saya belum mendapatkan info apa-apa. Sepertinya mereka sengaja mematikan rekaman CCTV"
Robert mengeluarkan ponselnya, lalu memberikan pada Arsen, namun sebelum itu ia memutar sebuah video dimana menampakkan Arsen sedang di keroyok.
Dahi Arsen mengkerut, menatap video itu dengan seksama. Disana terlihat jelas bagaimana Arsen di hajar habis-habisan sampai ia tak berdaya lagi.
"Saya sudah melacak orang-orang itu Tuan, sepertinya mereka hanyala orang bayaran"
"Bagus, lalu selanjutnya rencana mu apa ?" Arsen menatap Robert dengan seksama.
"Siang ini saya akan mendatangi nona Talia, saya yakin dia dalang dari semua ini"
"Aku ikut" seru Arsen.
Robert hanya menjawab dengan anggukan, kemudian laki-laki itu beranjak untuk berpamitan kepada Arsen. Tentu saja ia ingin menyelesaikan pekerjaannya sebelum mendatangi Talia.
Setelah kepergian Robert. Arsen masih terdiam, kedua tanganya ia silangkan didepan dada. Matanya menatap lurus kedepan.
Pikirannya berkelanan, tentang dirinya yang di kroyok oleh orang yang tidak dikenal. Juga saat bangun ia bisa berada di dalam hotel bersama Talia. Entah siapa dalang dari semua ini, Arsen belum bisa menebak namun pikirannya terus tertuju pada Talia.
"Brengsek..." umpatnya penuh dengan kekesalan.
Bagaimana mungkin ia bisa tidur berdua dengan Talia malam itu. ??
"Awas saja kalau semua ini memang ulah Talia, akan aku buat dia hancur sehancur hancurnya" Kedua tangan Arsen menggepal dengan sempurna. Rahangnya mengeras menahan gejolak amarah.
Tok--Tok--Tok....
Tiba-tiba seseorang mengetok pintu ruangan Arsen. Sebelum mengucap sesuatu Arsen menarik napas panjang, meredahkan amarah yang masih bergelora.
"Masuk" titanya dengan tegas.
Jasmin mendorong pintu tersebut, kemudian masuk kedalam sambil membawa berkas yang akan ia serahkan kepada Arsen.
Seperti biasa, tampilan Jasmin selalu menggoda, pakaian yang teramat ketat dan belahan dada yang hampir terlihat.
"Ini berkas yang harus anda tanda tangani tuan" ucap Jasmin dengan suara lembut, berharap Arsen dapat tergoda dengan nya, tak peduli walau laki-laki itu sudah memiliki istri.
"Letakkan dimeja lalu keluarlah"
"Tapi selesai di tanda tangani berkas ini harus saya bawa lagi Tuan"
"Ya sudah mana berkasnya"
Jasmin meletakkan berkas itu dimeja, ia sengaja menundukan tubuhnya supaya Arsen bisa melihat dua gundukan yang menonjol dengan sempurna. Tapi sayang, Arsen tak melirik sedikitpun hingga membuat Jasmin kesal.
"Kenapa sih susah sekali menggoda tuan Arsen" maki Jasmin dalam hati.
"Ada lagi ?" tanya Arsen setelah selesai menanda tangani berkas tersebut.
"Tidak tuan"
"Kalau begitu keluarlah, saya banyak kerjaan"
Dengan wajah cemberut, Jasmin meninggalkan ruangan Arsen. Ia bahkan menghentakan kakinya setelah berada di luar ruangan.
Arsen tersenyum kecil, ia tau kalau sekretarisnya itu ingin menggodanya.
"Kau pikir saya akan tergoda denganmu... Ciiihhhh !! jangan mimpi karena aku sudah memiliki semua itu di rumah"
"Lagian apa tidak malu mengumbar aurat seperti itu, jangan sampai Rena seperti dia"
Gumam Arsen merasa jijik dengan kelakuan Jasmin.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Selesai makan siang, Robert dan Arsen mendatangi kediaman Talia. Atau lebih tepatnya rumah Willi.
Melihat kedatangan Arsen. Talia begitu senang. Ia menyambut Arsen dengan senyum menawan tapi sayang nya Arsen tak sedikitpun membalas senyuma Talia.
"Kenapa kau datang tak mengabari aku dulu, kan aku bisa dandan yang cantik untukmu" ucap Talia.
"Tak perlu dandan yang cantik karena dimataku kau sama saja. Tak ada yang cantik dari dirimu Talia" balas Arsen menggunakan kata-kata tajamnya.
Talia memiringkan sudut bibirnya, ingin membalas ucapan laki-laki itu tapi Talia tahan, karena ada misi yang harus ia selesaikan sebentar lagi.
"Mau apa kalian datang kesini ?" tanya Talia "apakah kamu ingin mengulang kejadian malam itu ?" lanjutnya sambil menatap kearah Arsen.
"Hentikan omong kosongmu Talia, aku tak pernah melakukan apa-apa padamu" balas Arsen dengan geram.
"Ya kan kau mana tau Arsen, saat itu kau tak sadarkan diri"
Kalau saja Talia bukan perempuan mungkin saja Arsen sudah memberikan sebuah pukulan bertubi-tubi.
"Nona Talia, mending anda mengaku saja kalau semua ini adalah ulah nona Talia sendiri. Saya sudah menemukan bukti rekaman dimana tuan Arsen di kroyok. Dan anak buah saya sedang melacak mereka" sahut Robert menjelaskan.
Talia terhenyak, ia lupa kalau asisten Arsen itu adalah orang yang cerdas.
"Brengsek, siapa yang merekam kejadian malam itu ?? kalau begini aku bisa ketahuan, lebih baik mereka aku suruh pergi yang jauh sebelum asisten sialan ini menemukan mereka" maki Talia kesal.
"Lah memang disana ada aku, enggak kan" dalih Talia berusaha menutupi kegugupannya "Lagian kau jangan asal menuduh, kalau tak punya barang bukti" sambungnya lagi.
"Saya memang belum menemukan barang bukti yang tertuju pada nona Talia. Tapi perasaannya saya mengatakan kalau semua ini adalah ulah anda. Lihat dengan jelas, di video itu jelas-jelas tuan Arsen sudah tak berdaya karena di pukul, lalu kenapa saat dia bangun dia sudah berada di dalam hotel bersama anda"
Robert melayangkan tatapan tajamnya kepada Talia, membuat wanita itu semakin mengalami kegugupan.
"Jangan sampai aku ketahuan, pokoknya rencanaku harus berjalan mulus, karena aku tak ingin anak ini lahir tanpa Ayah". batin Talia lagi.
"Ayolah mengaku Talia, sebelum aku mengetahui semuanya. Kau tau kan kalau aku sudah marah bagaimana "sahut Arsen, kali ini nada suaranya tak lagi membentak, mungkin dengan cara ini Talia akan mengakui semua perbuatannya.
"Mengaku bagaimana Arsen, aku tak melakukan apa-apa. Malam itu aku menemukanmu di pinggir jalan dalam keadaan tidak sadarkan diri. Makanya aku bawa kamu kehotel untuk menolongmu, tapi apa yang aku dapatkan kau malah menodai ku" balas Talia, raut wajahnya seolah menampakan kesedihan yang amat dalam.
Robert menatap wanita itu dengan jijik "Kenapa anda tak membawa tuan Arsen kerumah saja kalau begitu, kenapa anda bawa ke hotel" sahut Robert.
"Kalau aku bawa kerumah nya, aku tak ingin Rena khawatir dan sedih, makanya aku bawa ke hotel"
Talia benar-benar pintar berdalih, terbukti sekarang kalau wanita itu begitu pintar menjawab setiap ucapan Robert maupun Arsen. Ia pintar menciptakan kebohongan demi kebohongan.
Arsen berdiri, kali ini ia menatap Talia dengan tajam seolah ia ingin mencekik wanita itu sampai mati.
"Kau dengar Talia, kalau sampai aku mengetahui semuanya sendiri, bersiaplah untuk lenyap dari dunia ini" ancam Arsen.
...--------...
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...