Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 16



Selesai sarapan Arsen, Rena dan juga Elvan langsung berpamitan pulang. Sedari tadi Rena tak bisa menebak apa yang sedang di pikirkan kakek Raymond, pria parih baya itu menatap Rena tanpa ekspresi jadi cukup sulit bagi Rena untuk mengetahui apakah kakek suaminya itu menyuakinya sebagai cucu menantu.


"Sering-seringlah menginap disini" ujar Kakek Raymond.


"Pasti Kek, aku dan Rena akan sering menginap disinI"


Kakek Raymond mengangguk, ia kemudian menatap Elvan, sama seperti tadi tak ada senyum yang ia tampakan sehingga membuat bocah laki-laki itu hanya diam saja.


Namun tak disangkah sebelum beranjak pergi untuk kembali kekamarnya, Kakek Raymond mengelus kepala Elvan dengan lembut, perlakuannya itu sukses membuat Rena berpikiran kalau Kakek Raymond menyukai Elvan.


"Kau tak mengajak paman mu ini untuk menginap di rumahmu ?" tanya Paman Willi sembari tersenyum.


"Ciiih,, tak sudi aku kedatangan tamu seperti mu" balas Arsen.


"Hahahaha" Paman Willi justru tertawa terbahak-bahak, membuat Arsen begitu kesal "Kau terlalu sombong Arsen, awas aja kalau kau sampai jatuh miskin kau pasti akan meminta pertolongan dariku" sambungnya lagi.


"Itu tidak akan terjadi, yang ada kau yang akan merasakan semua itu" kali ini Arsen terlihat emosi, apalagi Paman Willi tak berhenti menertawakan dirinya.


"Mas ayo, katanya Mas mau ada rapat penting" sahut Rena sehingga perdebatan antara sang suami dan Paman Willi terhenti.


Arsen menoleh dan menatap Rena, kemudian mengangguk tanda setuju kalau harus segera pergi, lagian betul kata Rena kalau pagi ini ia akan ada pertemuan penting. Mungkin saja di kantor Robert sudah menunggunya.


"Kami permisi dulu Paman, Assalamualaikum" Ucap Rena saat Arsen langsung berlalu begitu saja.


"Hati-hati Ren" balas Paman Willi.


Didalam perjalanan menuju rumah Arsen hanya diam saja, Rena sekarang tau kalau sekarang bukan lagi waktunya bersandiwara.


"Ngapain kau harus pamitan sama Paman tadi ?".tanya Arsen dengan mata yang fokus ke jalanan.


"Saya hanya mengucapkan salam Tuan, dan lagian saya harus menghormati orang yang lebih tua dari saya" balas Rena.


"Tapi saya tak menyukai itu, jadi jangan kau ulangi."


Rena menarik nafas panjang, apapun yang ia lakukan selalu salah di mata Arsen, tak ada kelakuan nya yang Arsen sukai, entahlah harus dengan cara apa supaya Arsen sedikit membuka hati untuk Rena.


Rumah masih jauh, namun Arsen menghentikan mobilnya di pinggir jalan membuat Rena kebingungan.


"Turun !!" pinta Arsen dengan tegas.


"Tapi ini belum sampai Tuan, dan masih jauh"


"Kau pikir aku ini sopirmu sampai harus mengantakan dirimu sampai tujuan, lagian ada tukang ojek atau taksi kau bisa naik itu untuk pulang"


Rena terlihat ragu, ia memang bisa pulang dengan taksi atau angkot hanya saja Rena lupa tak membawa dompet, ia tak berpikiran sampai sini kalau Arsen tega menurunkanya di pinggir jalan.


"Cepetan !! saya harus ngantor" kembali Arsen membentak sehingga membuat Elvan langsung menyembunyikan wajahnya didada sang mama, mungkin ia takut.


"Baik Tuan saya akan turun"


"Dari tadi juga saya suruh"


Setelah Rena keluar dari mobil, tanpa punya perasaan sedikitpun Arsen langsung melajukan mobilnya dengan cepat, meninggalkan Rena dan Elvan di pinggir jalan dengan teriknya sinar matahari.


Dari kaca spion yang tak sengaja Arsen lirik, ia dapat melihat Rena berjalan sembari menggendong Elvan. Ia justru tersenyum seolah ini adalah pemandangan yang menarik.


"Dia pikir dia siapa sampai harus aku antar dengan selamat"


"Dasar janda"


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Rena berjalan dengan pelan, menyusuri jalanan yang cukup ramai. Sesekali ia menyeka air matanya, beginikah rasanya menikah dengan orang yang tak punya perasaan.


Begitu tega Arsen menurunkan dirinya di pinggir jalan, apalagi dengan cuaca yang begitu terik seperti ini.


"Mama panas" begitu kata Elvan.


Dengan hijab panjangnya Rena menutup kepala Elvan, ia berharap semua itu dapat mengurangi rasa panas yang Elvan rasakan, sementara dirinya sendiri sudah bermandi keringat, jarak rumah Arsen masih sangat jauh bahkan belum terlihat sama sekali.


"Ya Allah, sabar kan aku ! beri aku kekuatan" lagi dan lagi Rena mengusap pipinya yang basah. Ini terlalu menyakitkan.


Tiba-tiba seorang wanita yang menggunakan motor berhenti tepat di sisi Rena.


"Mau kemana mbak ?" tanya wanita itu.


Rena menoleh kekiri dan kekanan, ia ingin menjawab namun takut salah.


"Saya bertanya sama mbak, kan gak ada orang lain selain mbak disini" lanjut wanita itu.


"Ohh, saya mau pulang bu" jawab Rena.


"Pulang kemana ? mari saya anterin kasian anaknya kepanasan" tawar wanita itu.


"Saya mau pulang ke perumahan X, saya lupa membawa dompet makanya gak bisa naik ojek."


"Ya sudah sama saya aja, kebetulan saya mau mengantar orderan keperumahan sana" wanita itu tersenyum dengan tulus kearah Rena.


"Beneran Bu ?"


"Iya ayo naik, kasian anaknya !"


"Terima kasih Bu, nanti saya bayar sampai rumah ya ongkosnya"


"Sudah jangan di pikirkan, ayo naik"


Tanpa pikir panjang Rena langsung naik keatas motor setelah kepalanya di pasang Helm, motor melaju dengan pelan, dalam hati Rena begitu bersyukur karena bisa bertemu dengan orang baik.


"Alhamdulillah Ya Allah, terima kasih atas pertolongan engkau" batin Rena penuh rasa syukur.


Tak berapa lama motor sudah memasuki perumahan tempat Rena tinggal.


"Dimana rumahnya mbak ?" tanya wanita itu.


"Maju dikit lagi Bu, nanti ada pagar warna hitam itu rumahnya" jelas Rena dengan suara agak kencang.


"Oh baiklah"


Sesuai yang di katakan Rena, wanita itu menghentikan motornya tepat di depan pagar berwarna hitam, wanita itu memperhatikan rumah Rena, begitu mewah dan megah. Bahkan hanya rumah ini yang paling bagus menurutnya.


"Mbak orang kaya ya ? kenapa gak pakai sopir aja mbak, jadi ada yang nganterin"


Rena hanya tersenyum, seandainya ia mampu menjelaskan akan ia lakukan, bahwa dia bukan orang kaya. Mungkin saja keberadaan nya di rumah ini hanya di anggap seorang pembantu oleh Arsen.


"Tunggu sebentar ya bu saya ambil uangnya dulu"


"Eh tidak usah, tadi saya kasihan aja sama mbak dan anaknya, panas-panas kok jalan kaki. Makanya saya menawarkan bantuan, saya ikhlas kok mbak"


"Tapi Bu"


"Sudah tidak apa-apa, biar Allah saja yang membalasnya" wanita itu terkekeh dengan pelan.


"Aamiin, makasih sebelumnya ya bu"


"Sama-sama, nama saya Astuti nanti kalau ketemu di jalan panggil aja ya !!"


"Baik Bu, pasti itu"


"Ya sudah saya mau jalan lagi" Astuti kembali menghidupkan motornya.


Rena menatap kepergian Astuti, berharap suatu hari nanti ia dapat bertemu lagi, supaya bisa membalas kebaikannya.


--


...Like dan komen...


...Add favorit...