Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 81



Setelah dua hari di rawat di rumah sakit, kini Talia dan bayinya sudah di perbolehkan pulang. Talia menggendong anaknya sementara Dian membawakan barang-barang.


Sedangkan Arsen dan Rena menunggu di rumah. Awalnya Rena ingin menjemput juga tapi sang suami tak mengizinkan, ia takut istrinya kelelahan apalagi perut Rena semakin membesara.


"Kenapa lama sekali ya mas ?" tanya Rena. Lehernya memanjang untuk melihat jalanan di depan rumahnya, berharap mobil yang di tumpangi Talia segera tiba.


"Sabar sayang, mereka pasti masih dijalan" jawab Arsen.


Beberapa saat kemudian, mobil yang menjemput Talia tiba di rumah. Rena langsung mendekat untuk membukakan pintu mobil.


"Selamat datang kembali mbak" ucap Rena tersenyum manis.


"Makasih Ren"


Talia turun dari mobil, ia merasa bersyukur karena masih ada yang peduli terhadapnya. Apalagi kakek Raymond begitu menyayangi putri kecilnya.


"Letakkan disini mbak" pinta Rena, memberikan sebuah box bayi yang sangat cantik.


"Cantik banget Ren, siapa yang membelinya" Talia menatap box bayi itu dengan takjub, ia yakin harganya akan sangat mahal.


"Dia sendiri yang beli" sahut Arsen yang baru saja meletakkan barang-barang Talia.


"Makasih Ren, kamu baik banget sama aku"


"Sama-sama mbak, memang aku yang beli tapi uangnya ya pakai uang mas Arsen hehe"


Kedua wanita itu terkekeh, membuat Arsen geleng-geleng kepala. Usai meletakkan barang milik Talia. Arsen mendekati sang kakek.


"Gak nyangka ya kek, sekarang aku punya adik walaupun tak seayah dan seibu" ucap Arsen lagi.


"Haha, iya.... Kakek juga tidak menyangka di umur segini kakek akan mendapatkan cucu lagi"


"Ternyata kehidupan itu penuh misteri ya kek"


"Tentu, kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi kedepannya"


"Oh ya siapa yang mau memberi nama pada baby girl itu ?" tanya Arsen, ekor matanya melirik kearah bayi Talia yang sedang terlelap didalam box.


"Biarkan Talia yang memberikan nama, ia lebih berhak akan hal itu"


"Iya kek"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Siang harinya...


Robert dan Jasmin mengunjungi rumah Rena, mereka ingin melihat bayi Talia.


Jasmin sudah membawa sebuah kado untuk ia berikan pada Talia, sementara Robert tak membawa apa-apa.


"Siang tuan" sapa Jasmin saat melihat Arsen.


"Siang" jawab Arsen sembari menatap keduanya bergantian "Kalian mau apa kesini ? bukankah jam kantor masih ada ?"


"Kita mau lihat anaknya nona Talia tuan" sahut Robert menjawab.


"Oh.... Ya sudah sana masuk"


Robert dan Jasmin masuk kedalam kamar dimana Talia berada. Perlahan namun pasti pintu kamar di dorong oleh Jasmin. Membuat Talia dan Rena serempak menoleh.


"Eh, ada Jasmin dan Robert. Ayo sini masuk" ajak Rena.


"Ini oleh-oleh dari sana nona, mohon di terima" Jasmin memberikan kado yang ia bawa kepada Rena.


"Wah makasih banget" Rena menerima kado itu, kemudian memberikanya pada Talia.


Sejenak mata Talia dan Jasmin saling pandang, keduanya teringat dengan pertengkaran mereka dulu yang merebutkan Arsen. Namun sampai sekarang tak ada yang berhasil mendapatkan pria itu.


Karena nama Rena yang sudah memenuhi perasaan Arsen, akan sangat sulit untuk menaklukan pria itu lagi.


Mengingat hal itu Talia merasa malu sendiri, dulu ia dengan Pedenya mengatakan kalau akan menjadi nyonya Arsen, namun kenyataannya semuanya salah.


"Siapa nama gadis kecil ini ?" tanya Jasmin mengalihkan rasa canggungnya.


"Amora putri Raymond" sahut Talia


"Nama yang bagus, kita panggil dia Ara" balas Rena.


"Iya panggilannya Ara"


Sementara Robert tampak bingung dengan kedekatan antara Rena dan Talia. Ia tak menyangka kalau kedua wanita itu bisa akur seperti ini.


Tanpa di duga kalau senyuman menjengkelkan dari Robert, di lihat oleh Arsen..


"Astaga" pekik Robert kaget saat merasakan punggungnya di tepuk dengan kuat.


"Kau mikir apa hemmm" tanya Arsen dengan tatapan menuduh "Kau pasti mikir yang enggak-enggak kan"


"Tidak tuan, saya hanya merasa lucu saja"


"Lucu apanya ?"


"Tuan seperti memiliki dua istri" jawab Robert.


"Sialan kau"


Robert langsung berlari meninggalkan kamar itu di susul oleh Arsen.. Tentu saja kelakuan keduanya membuat para wanita heran.


"Mereka kenapa ?" tanya Talia bingung.


"Entahlah, aku juga bingung" jawab Jasmin.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sebelum kembali kekantor Arsen menyuruh Robert dan Jasmin keruangannya, untuk membahas proyek baru yang baru saja di bangun oleh perusahaannya.


"Kalian sudah tau kan pembangunan di desa ini" tanya Arsen.


"Saya tau tuan, tapi entah kalau dia" jawab Robert melirik kearah Jasmin.


"Bagus kalau sudah tau, jadi proyek itu sedang berjalan. Dan katanya ada banyak kecurangan disana, jadi saya meminta kalian berdua untuk melihat pembangunan disana" jelas Arsen.


"Maksud tuan, saya dan tuan Robert pergi berdua kesana ?" tanya Jasmin.


"Iyalah, saya tidak bisa kesana, kau tau kan kalau istri saya sedang hamil besar"


"Hemm ,tuan bisaka anda ganti saja orangnya. Maksud saya jangan dia" tunjuk Jasmin kearah Robert.


"Kenapa ? apa Robert mengganggumu ?"


"Dia begitu menyebalkan, dan dia juga pria kulkas"


Arsen menahan tawanya mendengar hal itu, sementara Robert terlihat emosi. Bisa-bisanya Jasmin menjelek-jelekan dia di hadapannya langsung.


"Kalau itu kamu jangan terkejut Jasmin, dia memang begitu orangnya, kalau saja dia tidak pintar mana mungkin aku membutuhkan dia"


Sialan... !


Semua orang memojokan dia, Robert menahan emosinya.


Setelah Arsen pergi, Robert langsung menahan pergelangan tangan Jasmin.


"Lepasin !" pinta Jasmin berontak.


"Kau harus ku hukum, karena kau sudah merusak nama baikku"


"Bodoh amat, lepasin gak ! atau aku akan teriak"


"Berani kau melakukan itu, ku buat kau menyesal"


Ancaman Robert tak di gubris oleh Jasmin. Wanita itu terus berontak sehingga tak sengaja Jasmin tersandung kemeja dan keduanya terjatuh bersama. Dengan Robert berada di atas tubuh Jasmin.


Sesaat keduanya terdiam, kedua bibir mereka saling menyatu. Hingga akhirnya Jasmin sadar ia langsung memukul dada Robert dengan kencang.


"Astaga kau mencuri ciuman pertamaku" ucap Robert kesal.


Tentu saja membuat Jasmin melongo, apalagi Robert terlihat marah-marah padanya. Harusnya dalam hal ini ia yang marah karena laki-laki itu sudah tertidur diatas tubuhnya.


"Kau mencuri ciuman pertamaku" ulang Robert "Kau tau bibir ini ku jaga dengan ketat karena akan ku persembahkan untuk istriku nanti"


Apa-apaan ini, kata-kata Robert seolah seperti seorang wanita saja.


Plaaakkk.


Jasmin memukul lengan Robert dengan kuat.


"Kau masih memukulku setelah mengambil ciuman pertamaku"


"Hei kulkas, harusnya aku yang marah padamu, kenapa ini sebaliknya"


"Ya wajarlah aku marah, kau sudah mengambil ciuman pertamaku" balas Robert tak mau kalah "Oh calon istriku nanti maafkan aku yang tak bisa menjaga bibir ini"