
Keesokan harinya...
Pagi-pagi sekali Arsen sudah bersiap untuk kesebuah desa yang kemaren dikatakan oleh kakek Raymond. Arsen begitu semangat mendatangi desa itu.
"Kau sudah siap pergi kesana ?" tanya kakek Raymond sembari menatap cucu kesayanganya itu dengan seksama.
"Iya kek, semoga Rena memang ada disana" balasnya penuh harap "oh ya apa kakek mau ikut ?"
"Males amat" ujar kakek Raymond "Dia kan istri kamu bukan istri kakek".
Arsen mencebikan bibirnya mendengar jawaban sang kakek, ia pun pergi berlalu tanpa bertanya lagi.
Diperjalanan ke desa perasaan Arsen tak karuan, rasa takut kalau ternyata sang istri tidak ada disana. Jika memang Rena dan Elvan tidak ada disana lalu kemana lagi ia harus mencari istri dan anaknya itu.
"Ternyata jauh juga ya desanya" gumam Arsen yang merasa lelah.
Tiga jam menempuh perjalanan, membuat Arsen merasa sangat letih apalagi ia membawa sendiri mobilnya.
"Lah alamatnya dimana ?"
"Kalau nanya sama orang-orang apa mereka akan tau dengan Rena"
Arsen terus melajukan mobilnya kali ini begitu pelan, matanya melirik kekiri dan kekanan. Hingga beberapa saat kemudian Arsen langsung menginjak rem dengan cepat.
Berulang kali Arsen mengucek matanya, saat melihat sosok sang istri yang tengah berjalan sendirian. Tapi ada yang aneh menurut Arsen karena bagian perut Rena terlihat membuncit.
"Alhamdulillah ya Allah akhirnya aku menemukan Rena. Tapi kenapa sekarang Rena terlihat berbeda ya ? dia gendutan sepertinya"
Tanpa pikir panjang lagi Arsen langsung dari mobil, ia sedikit berlari kearah Rena.
"Sayaaaang" teriak Arsen menggema.
Rena yang saat itu sedang berjalan gontai, langsung menoleh kesumber suara, karena baginya suara itu seperti tak asing baginya.
Suara seseorang yang sangat Rena rindukan selama 3 bulan terakhir ini. Dan benar saja saat ia menoleh sang suami sedang berlari kearah nya.
"Mas Arsen..." gumam Rena
"Sayang" ucap Arsen setelah berdiri dihadapan Rena.
"Mas"
Sedetik kemudian keduanya saling berpelukan dengan erat, mengobati kerinduan yang selama ini terpendam. Bahkan Rena menangis di dada sang suami saking rindunya terhadap laki-laki itu.
"Kenapa mas lama sekali menjemput kami ? aku rindu sama mas"
"Maaf sayang !!"
Arsen mengecup kening Rena dengan sangat dalam, seolah mengatakan kalau ia benar-benar mencintai wanita itu.
"Aku kangen banget sama kamu"
Saat Arsen ingin menggendong Rena, dengan cepat Rena menolak.
"Kenapa ?" tanya Arsen bingung.
"Ada anak kamu didalam sini mas"
"Maksud kamu ?? Kamu hamil sayang ?"
"Iya Mas Alhamdulillah. Allah mengabulkan doa kita"
Mendengar hal itu Arsen langsung bersujud atas nikmat yang telah tuhan berikan. Ada setetes air mata yang membasahi pipi nya.
"Sayang... Terima kasih sudah mengandung anakku" ucap Arsen sambil menciumi perut Rena.
"Iya Mas"
"Berapa bulan ? kok kelihatannya besar sekali ?"
"Kalau menurut hitungan ku masuk bulan keempat mas, aku belum pernah periksa"
"Loh kenapa ?"
"Disini desa mas, jauh dari rumah sakit"
Arsen menganggukan kepalanya, sepanjang perjalanan tadi ia juga tak pernah melihat rumah sakit.
"Oh ya dimana Elvan ? aku sangat merindukan jagoan itu" tanya Arsen.
"Dia di rumah mas sama Bu Dian"
Keduanya menuju rumah dengan menaiki mobil, di dalam sana Arsen tak henti-hentinya menggenggam tangan sang istri. Rasanya masih seperti mimpi bisa bertemu dengan sang istri.
"Nah itu El" tunjuk Rena pada sosok bocah kecil yang sedang bermain dengan Dian.
Mata Arsen langsung menatap kearah tunjuk sang istri, namun sesaat kemudian tubuhnya menegang saat tau siapa yang menemani Elvan bermain.
Wajah itu... ??
Arsen masih hapal sekali, wanita itu yang dulu menorehkan luka terdalam di hidupnya.
"Mas ayo turun !" ajak Rena namun sang suami tak merespon membuat Rena mengerut kan dahi.
"Mas.." panggil Rena lagi.
"Jauhi wanita itu sayang ..!" balas Arsen tiba-tiba.
"Kenapa mas ? bu Dian baik banget sama aku dan El. Selama ini dia yang selalu menemani kami, bahkan bu Dian lah yang merawat aku kalau aku mengalami mual dan muntah"
"Aku bilang jauhi dia sayang ..!!" bentak Arsen membuat Rena terhenyak kaget. Ada hubungan apa suami dan Dian ? begitu pikir Rena.
"Ke-napa Mas ? apa kamu mengenal bu Dian ?"
"Tidak, aku tidak pernah mengenal wanita jahat seperti dia ?"
Rena semakin bingung saja dengan sang suami. Ia menatap kearah Arsen dengan seksama.
Dari kejauhan, Elvan sudah mengenali mobil Arsen. Bocah laki-laki itu berteriak dengan gembira saat melihat sang Papa yang ia rindukan datang juga.
"Yeeeyyy, Papa.... Nenek itu papaku !" ucap Elvan.
Dian menoleh, ia terkejut mendengarnya. Didalam mobil itu ada Arsen, mungkin saja Arsen sudah melihat dirinya.
"Bagaimana ini ? kalau Arsen melihatku dia pasti akan marah". batin Dian kebingungan.
Bukan tak mau bertemu dengan Arsen, hanya saja wanita itu belum sanggup menerima amara dari ananya itu. Walau kepergiannya bukan keinginannya.
"Nenek mau kemana ?" tanya Elvan.
"Nenek mau pulang nak, kan Mama dan Papa El udah kesini"
"Tidak mau, nenek harus kenalan dulu cama Papa"
Dian meringis tak tau harus menjawab apa.. Hingga seseorang menarik tangan Elvan membuatnya terlonjak kaget.
"Jangan sentuh anakku"
Dian menoleh lalu menunduk takut saat melihat Arsen. Tatapan mata Arsen begitu tajam seolah ingin menelan nya hidup-hidup.
"Mas jangan kasar sama orang tua" ucap Rena yang tak suka dengan kelakuan Arsen, walaupun di hati ia masih bertanya-tanya kenapa sikap Arsen seperti ini.
"Wanita ini memang pantas di kasari" balas Arsen.
"Mas kamu ini kenapa sih ? bu Dian salah apa sama kamu ?"
"Dia banyak melakukan kesalahan Rena.. "
Dian masih menundukan kepalanya, air matanya sudah membanjiri pipi keriputnya.
"Maafkan ibu Arsen... " ucap Dian terbata-bata.
"Tunggu-tunggu.. Kalian saling mengenal ?" tanya Rena penuh kebingungan.
"Iya Rena ibu sangat mengenal Arsen. Dia anak kandung ibu"
"Bukaaan" bantah Arsen dengan cepat "Aku tak punya ibu sepertimu, ibuku sudah meninggal"
Dian menggelengkan kepalanya, ia tak menyangka kalau Arsen begitu membencinya.
Sementara Rena masih dengan keterkejutannya, jadi wanita yang selama ini menemaninya adalah ibu mertuanya sendiri. Lalu kenapa sikap sang suami seperti ini, ada salah apa Dian.
"Mas jangan bicara seperti itu ! seburuk apapun Bu Dian, dia tetaplah ibu kandung kamu"
"Diam sayang.. ! kamu tidak tau apa-apa soal ini"
Arsen langsung membawa Rena dan Elvan meninggalkan Dian. Namun langkah terhenti saat mendengar Dian berteriak.
"Arsen.. Kamu salah paham nak selama ini, Ibu tak pernah melakukan hal itu dan ibu tidak pernah mengkhianati ayah kamu" teriak Dian sembari terisak "Ayah mu lah yang mengkhianati ibu" sambungnya lagi.
"Anda yang salah kenapa malah membalikan fakta.. " balas Arsen..