
Bukannya menjawab Arsen malah beranjak dari duduknya, hendak melangkahkan kakinya keluar kamar.
"Tuan mau kemana ?" tanya Rena.
"Keluar"
"Bukannya ini sudah masuk sholat Magrib, ayo kita sholat dulu sebelum waktunya habis"
Arsen berbalik ia menatap Rena dengan tajam "Diam gak sih, suara mu bikin saya naik darah"
"Kalau kau mau sholat silahkan sholat sendiri, tidak perlu harus imaman sama saya" sambung Arsen lagi.
"Maaf Tuan saya hanya menjalankan tugas sebagai istri untuk mengingatkan suami saya" Rena menundukan kepalanya, tak berani menatap Arsen.
"Kau terlalu bahagia ya menjadi istriku, kau lupa kalau ini hanya pernikahan sementara jadi jangan berbangga diri, karena suatu saat kau akan menyandang status janda lagi"
Setelah mengatakan itu Arsen langsung keluar kamar, ia bahkan membanting pintu kamar dengan keras membuat Rena dan Elvan menjadi kaget.
"Astaghfirullah" gumam Rena sembari memegangi dadanya karena kaget.
Elvan mendongakan kepalanya, ia menatap sang Mama dengan seksama. Bocah kecil itu seperti mengerti dengan perasaan Rena, dengan kedua tangan kecilnya Elvan memeluk Rena dengan kuat.
"El takut ya sayang ?" tanya Rena dengan suara bergetar, ia sebenarnya takut jika Elvan selalu mendengar bentakan Arsen.
Elvan menganggukan kepalanya kemudian menggeleng, membuat Rena tersenyum.
"Ada Mama disini Nak, jadi El gak usah takut. Mama akan selalu jagain El" ucap Rena.
"Sekarang El tunggu sebentar ya Mama mau sholat dulu, atau El mau ikut sholat ?" sambung Rena sembari bertanya, ia melepaskan pelukan Elvan kemudian menatap anaknya itu dengan senyum merekah.
"El mau ikut Mama" balas Elvan
"Anak pintar, ya sudah yuk ikut Mama Wudhu, kita sholat bareng-bareng"
Elvan menganggukan kepalanya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Arsen sedang menikmati acara televisi walaupun pikirannya begitu kacau, ia teringat dengan ajakan Rena yang menyuruhnya menjadi iman untuk sholat.
Berulang kali Arsen menarik nafas panjang, kemudian menyandarkan kepalanya di punggung Sofa. Hingga sebuah tepukan tangan seseorang membuat Arsen mendongak.
"Kakek"
"Lagi ngapain kamu disini ? mana istrimu ?" tanya Kakek Raymond yang langsung duduk di sebelah Arsen.
"Dikamar Kek" jawab Arsen begitu malas.
"Kenapa tak di ajak keluar ? sebentar lagi waktunya makan malam"
"Dia masih sholat"
Kakek Raymond langsung terdiam, ia sudah lama tak mendengar ada orang sholat di rumah mewahnya itu. Bahkan bisa di katakan pria paruh baya itu rindu dengan suara orang mengaji. Selama ini ia terlalu sibuk dengan bisnis nya yang begitu banyak sehingga lupa akan kewajibannya sebagai seorang muslim.
"Lalu kenapa kamu tak ikut sholat ?" tanya Kakek Raymond pada sang cucu.
Arsen menoleh kearah sang Kakek "Bagaimana aku bisa sholat sedangkan bacaan dan gerakan nya aku lupa" jelasnya jujur.
Relung hati Kakek Raymond begitu tertusuk, Selama ini memang tak ada yang mengajari Arsen. Dari kecil Arsen hanya ikut mengaji selama dua tahun dan setelah itu tak pernah lagi. Arsen di tuntut oleh sang Ayah agar menjadi pria tangguh dan juga pintar mengurus bisnis.
"Lihatlah Daniel, akibat keegoisan mu Arsen tak bisa membimbing istrinya" batin Kakek Raymond.
Ada rasa sedih yang begitu mendalam dari diri Kakek Raymond, kehidupan Arsen memang di katakan penuh dengan kemewahan namun di balik semua itu terdapat banyak kesedihan dan kemalangan dari laki-laki tampan itu.
"Sana panggil istrimu, dia mungkin sudah selesai sholat. Kita makan malam bersama" titah Kakek Raymond.
"Baik Kek"
Saat pintu kamar ia buka, Arsen dapat melihat dengan jelas sang istri tengah berdoa dengan begitu khusuk. Telingah samar-samar mendengar namanya di sebut dari doa sang istri, membuat perasaan Arsen campur aduk.
"Dia mendoakan aku ? apa aku tak salah dengar" tanyanya dalam hati.
Arsen melangkah ia memutuskan untuk duduk di kasur, tak ingin mengganggu kegiatan sang istri yang sedang melaksanakan ibadahnya.
Tak berapa lama Rena sudah selesai, ia menoleh kearah Arsen kemudian tersenyum.
"Sudah selesai ?" tanya Arsen.
Rena mengangguk, ia kemudian bangkit lalu mendekati Arsen membuat Arsen heran akan sikap Rena. Namun sebelum Arsen sempat bertanya ia sudah di buat kaget.
Rena mencium punggung tangannya.
"Maaf" setelah mencium punggung tangan suaminya Rena beranjak.
"Gantilah pakaian, kita makan malam bersama" jawab Arsen dengan suara yang begitu lembut, bahkan Rena sampai tak mengenali suara itu.
"Baik Tuan"
Tatapan mata Arsen tak pernah teralihkan, apalagi saat ia melihat Rena yang belum mengenakan hijab, rambut panjangnya yang tak sengaja tergerai membuat Rena tampil begitu cantik.
"Dia cantik sekali, apalagi kalau rambutnya di biarkan seperti itu" ucap Arsen dalam hati.
"Ayo Tuan saya sudah siap, El juga sudah siap"
Arsen mengangguk, ia berjalan duluan sementara Rena dan Elvan mengiring di belakang.
🍀🍀🍀🍀
Di meja makan semuanya diam, tak ada yang bersuara. Elvan sedang di jaga oleh salah satu Art disana karena memang sebelum kesini tadi Elvan sudah makan.
"Eheeemmmmm" Arsen berdehem dengan kuat membuat semua orang menatap kearahnya.
"Ada apa ?" tanya Kakek Raymond.
"Tidak kek , aku hanya ingin mengusir kecoa yang dari tadi mengganggu" jawab Arsen dengan menatap tajam paman Willi.
"Dimana ada kecoa ? perasaan rumah ini selalu bersih" Kakek Raymond begitu kaget dengan jawaban Arsen.
"Ayah makan saja, jangan hiraukan Arsen" sahut Paman Willi.
Lagi dan lagi paman Willi memperhatikan Rena, membuat Arsen menggepalkan tangannya. Kalau bukan karena ada Kakek Raymond mungkin saja Arsen sudah memberi hadia pada Paman Willi.
Sebenarnya Rena menyadari tatapan mata paman Willi, makanya sedari tadi selalu menunduk, ia sudah merasa tak nyaman dan ingin menyelesaikan makan malamnya segera.
"Brengsek" umpat Arsen dalam hati, walau ia tak mencintai Rena tapi Arsen tak menyukai tatapan mata Paman Willi kearah Rena.
"Kalau sudah makan kita langsung kembali ke kamar ya sayang" ucap Arsen pada Rena. Ia sengaja menekankan kata sayang supaya paman Willi bisa mengerti.
"Ba--ik Mas" jawab Rena, beruntung ia langsung ingat kalau harus memanggil Arsen dengan sebutan Mas saat ada Kakek Raymond.
"Kenapa buru-buru kekamar Sen ? tidak kah kau ingin mengajak istrimu mengobrol dengan Kakek dan paman ?" sahut Paman Willi sembari bertanya.
"Biarkan saja Willi, mereka kan pengantin baru" Kakek Raymond ikut menimpali.
Senyum kemenangan Arsen berikan pada Paman Willi, sekarang berbalik jika tadi Arsen yang kesal sekarang Paman Willi yang merasakan nya.
"Aku yakin pernikahan Arsen bukanlah pernikahan biasa, akan ku cari semua itu, karena aku bisa melihat tatapan mata dari Arsen kepada istrinya" batin Paman Willi sembari memperhatikan Arsen dan Rena bergantian.
---
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...