Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 72



Setelah tiba di Jakarta, Arsen langsung melajukan mobilnya ke rumah, disana ada kakek Raymond yang sudah menunggu.


Tentu saja membuat Dian takut saat matanya melihat ada kakek Raymond di rumah Arsen.


Mereka turun dari mobil, Kakek Raymond yang melihat ada Dian begitu terkejut. Ia bertanya-tanya dimana Arsen bertemu dengan wanita itu.


"Dian..." ucap kakek Raymond.


"Ayah".Dian pun memanggil ayah mertuanya itu.


"Kamu apa kabar nak ? kenapa baru muncul sekarang ? Ayah sudah lelah mencari keberadaanmu"


"Maafkan Dian Ayah"


Arsen menatap interaksi keduanya dengan seksama, Apalagi melihat rasa bersalah yang terpancar di wajah kakek Raymond. Entah apa yang sebenarnya terjadi dulu.


"Masya Allah nyonya" pekik Marni yang baru muncul di ambang pintu. Wanita paruh baya itu begitu senang saat melihat kedatang Rena.


"Hai Bi, apa kabar" ucap Rena dengan ramah.


Marni menyusut air matanya "Saya baik Nya, Alhamdulillah. Saya senang melihat nyonya akhirnya pulang"


"Rena juga senang kok bisa pulang lagi dan ketemu sama Bibi"


Arsen tersenyum melihat sang istri begitu dekat dengan orang lain, bahkan banyak orang yang menyayangi dan merindukan Rena.


"Memang tak salah aku memilihmu sebagai istriku sayang" .batin Arsen.


Mereka semua berkumpul di ruang tamu, sedari tadi kakek Raymond terus menatap kearah Dian, seolah semua ini hanyalah mimpi bisa bertemu dengan ibunya Arsen.


Ada banyak hal yang ingin kakek Raymond katakan, selama ini dirinya mencari keberadaan Dian namun tak kunjung ketemu.


"Jadi selama ini kamu tinggal di desa itu" tanya kakek Raymond setelah mendengar cerita dari Rena.


Dian menganggukan kepalanya "dulu setelah aku pergi dari rumah aku pernah di tinggal di jepang Yah. Aku kerja disana untuk mencari modal. Setelah dua tahun di jepang aku pergi kedesa itu untuk membuat usaha, makanya aku menanam sayuran dan buah-buahan"


"Ini semua salah Daniel" balas kakek Raymond.


Arsen memincingkan matanya, mendengar ucapan sang kakek. Ada apa ini ? kenapa semua orang menyalahkan ayahnya ? padahal setau dia ibunya yang salah dan pergi dari sang Ayah.


"Maksud kakek apa ? kenapa Ayah yang salah. Bukankah wanita ini yang salah ?" tanya Arsen beruntun.


"Kamu salah paham Arsen. Ayah mu sudah meracuni pikiranmu dengan cerita bohongnya. Ibumu tidak pernah selingkuh dia pergi karena sudah tidak tahan dengan kelakuan Ayahmu"


"Arsen tidak percaya hal itu, aku lihat sendiri bagaimana terpuruknya Ayah saat di tinggal pergi"


"Itu karena Ayahmu sudah menyesal makanya dia terpuruk. Ayahmu sering menyiksa ibumu dan berselingkuh dengan wanita lain.. Dulu kakek saja menyalahkan ibumu karena belum tau yang sebenarnya"


Kali ini Arsen terdiam, ia menatap wanita yang duduk bersebrangan dengannya, selama ini ia sudah membenci orang yang salah, ia melontarkan kata-kata pedas pada orang yang salah.


Tak terasa air mata Arsen jatuh menetes, ia bangkit lalu langsung sujud di kaki ibunya.


"Maafkan Arsen bu.. Maaf karena Arsen selalu menyalahkan ibu"


Dian mengelus punggung putranya, ia juga ikut meneteskan air mata "Kamu tidak salah nak, kamu hanya tidak tau kejadian sebenarnya."


Arsen mendongakan kepalanya, lalu bangkit dan memeluk wanita itu dengan kuat. Tak bisa di pungkiri betapa rindunya ia dengan sang ibu, bertahun-tahun Arsen kehilangan kasih sayangnya.


"Ibu sangat menyayangimu" bisik Dian.


"Arsen juga sayang ibu"


Kakek Raymond tersenyum legah akhirnya semua masalah selesai. Dian telah kembali kepada Arsen.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Ini kamar ibu..." Rena membukakan pintu kamar untuk ibu mertuanya itu.


Mata Dian menatap sekeliling, sebuah kamar dengan ukuran yang besar akan segera menjadi tempat tidurnya, namun bukan ini yang membuat Dian bersyukur melainkan bisa berkumpul dengan anak nya Arsen. Apalagi sekarang ia sudah ada menantu.


Tapi masih ada satu yang mengganjal pikiran Dian, yaitu tentang kemiripan antara Arsen dan Elvan.


"Rena, boleh ibu bertanya ?"


"Boleh bu, mau nanya apa ?"


Rena tersenyum ia menggenggam tangan Dian dengan lembut "Iya bu, tanya aja !"


"Dari tadi ibu merhatiin waja Elvan dan Arsen kok beda banget ya nak, sama kamu juga Elvan gak mirip. Apa Elvan mirip sama saudara kamu ?"


Mendadak senyum yang menghiasi wajah Rena langsung meredup seketika, di ganti sebuah kesedihan. Dian yang menyadari hal itu menjadi tak enak hati, seharusnya ia tak perlu menanyakan hal serupa, mau Elvan mirip sama siapa saja boleh asal rumah tangga anaknya rukun dan damai.


"Sudah jangan di pikirkan lagi, maafkan ibu ya nak, ibu gak bermaksud membuatmu tersinggung"


"Elvan bukan anaknya mas Arsen bu" ucap Rena membuat Dian terdiam seketika


"Rena ini seorang janda, aku sudah pernah menikah dan suami ku dulu meninggal dunia"


"Makanya wajah Elvan dan Mas Arsen berbeda karena memang mereka tidak ada ikatan darah"


Rena menjelaskan semuanya, tak ada yang perlu ia tutupi. Dian juga berhak tau siapa ayah kandung Elvan sebenarnya.


Rena hanya pasra jika memang ibu mertuanya itu tidak bisa menerima masalalu nya, mengingat Arsen adalah bujangan tapi mendapatkan janda beranak satu.


"Maafkan ibu nak, ibu tak bermaksud mengulang masalalu mu" Dian memeluk Rena dengan erat. ia benar-benar merasa bersalah karena menanyaka hal serupa.


"Ibu tidak mempermasalahkan semuanya nak, yang penting kamu dan Arsen bahagia dan hidup dengan rukun"


Tangis Rena pecah di pelukan Dian, rasa takutnya berganti dengan rasa bahagia.


"Udah ya nangisnya, nanti dedek didalam perut ikutan nangis juga"


"Hehe iya bu" Rena menghapus air matanya.


"Ya sudah sana susulin suami kamu, ibu mau istirahat dulu"


"Baik bu, selamat istirahat"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kemana sih Rena, katanya cuman nganterin ibu aja bentar kok lama banget" gerutu Arsen kesal, padahal ia ingin sayang-sayangan dengan sang istri.


Tidak berapa lama pintu kamar terbuka, Arsen langsung menatap kearah pintu.


"Kok lama banget sih ?"


"Perasaan kamu aja itu mas, orang gak lama kok"


"Ngeles aja kamu ni yang" Arsen menarik hidung Rena dengan gemas.


"Eh tunggu, kamu habis nangis ya ?" tanya Arsen saat melihat mata sang istri terlihat memerah.


"Iya, nangis terharu"


"Kok bisa, bukanya orang nangis karena sedih"


"Iya bisa dong mas, aku nangis karena terharu lihat kamu dan ibu kumpul lagi"


Rena terpaksa berbohong, ia tak mungkin menceritakan sebenarnya, kalau ia menangis karena pertanyaan Dian.


"Besok kita kedokter kandungan ya !"


"Iya mas, apa kamu sudah ada seorang dokter kandungan yang bagus ?"


"Ada kok, tenang saja"


"Dokternya cewek apa cowok ?"


"Ya cewek dong, masa iya aku izinin laki-laki lain nyentuh kamu"


"Tapi aku maunya cowok, dan kalau bisa yang ganteng"


"Ya sudah periksanya sama aku aja" jawab Arsen kesal.


-----


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...