
Usai menemukan barang bukti, Robert langsung meluncur ke hotel. Ia sudah tau kalau seseorang yang menjebak Arsen pasti sudah membersihkan tempat itu supaya tak ada yang curiga.
Tapi tentu saja Robert tak akan kehilangan akal, ia akan meneliti setiap sudut ruangan supaya pelakunya cepat tertangkap.
"Walau aku yakin semua ini adalah ulah nona Tania, tapi aku tetap ingin mencari bukti" gumam Robert.
Setiba di hotel, Robert langsung melangkahkan kakinya menuju meja resepsionis.
"Permisi". Robert mengetok meja kaca dihadapanya, sehingga seorang perempuan menampakan diri.
"Iya tuan, butuh berapa kamar ?"
"Oh tidak saya hanya ingin meminta nama-nama yang menginap di hotel semalam, bisakah anda memberi tahu saya ?"
"Maaf Tuan kami tidak bisa, semua itu akan melanggar kenyamanan di hotel ini"
Robert menghembuskan napas dengan berat, ia berpikir keras bagaimana caranya ia bisa mengetahui nama-nama yang menginap semalam. Ia sangat hapal pihak hotel tak akan memberikan data-data itu.
"Tolong lah ! ini sangat penting untuk saya !" pinta Robert.
Namun sang resepsionis tak juga memberikan apa yang Robert inginkan. Hingga akhirnya sang pemilik hotel datang. Seorang pria paruh baya yang mungkin seumuran dengan kakek Raymond.
"Ada apa ini ?" tanya laki-laki itu.
"Begini pak Andi, orang ini meminta data-data siapa saja yang menginap semalam, katanya untuk hal penting"
Laki-laki yang bernama Andi itu menatap kearah Robert.
"Memangnya hal penting apa ?" tanya Andi.
Robert pun menceritakan kejadian semalam, bagaimana Arsen di keroyok dan tiba-tiba tersadar bersama seorang wanita di dalam kamar hotel ini.
Mendengar cerita Robert. Membuat Andi berpikir sejenak.
"Saya akan membayar anda dengan besar asal anda mengizinkan saya melihat data-data itu" ucap Robert dengan serius.
Siapa di dunia ini yang tak menginginkan uang, mendengar hal itu tentu saja Andi langsung menyetujui keinginan Robert. Apalagi saat melihat Robert sudah menuliskan cek senilan ratusan juta.
"Silahkan anda ambil ini !" Robert menyerahkan cek itu pada Andi.
"Baik akan saya terima, dan silahkan anda melihat semuanya" balas Andi ia menerima cek itu dengan perasaan gembira "Ira tolong tunjukan nama-nama orang yang menginap semalam" pintanya pada sang resepsionis.
"Baik Pak" jawab Ira....
Dan disinilah Robert berada, di sebuah ruangan yang di tunjuk oleh Andi. Matanya menatap layar monitor dengan seksama.
"Sialan, kenapa tak ada nama wanita itu ataupun tuan Arsen" umpat Robert kesal.
Padahal ia sudah yakin kalau disana akan tertulis nama Talia, tapi nyatanya tak ada nama wanita itu. Lalu atas nama siapa kamar hotel di pesan.
Robert pun salah karena tak menanyakan kamar nomor berapa Arsen tadi keluar.
"Bagaimana pak, apa anda sudah menemukan datanya ?" tanya Ira
"Belum, tunggu sebentar"
"Baik"
Sekali lagi Robert membaca satu persatu nama disana, dan hasilnya sama saja tak ada nama Talia disana.
"Hemmm, bisakah aku melihat rekaman CCTV ?" tanya Robert ia mendongakan kepalanya lalu menatap kearah Ira.
"Kalau itu kami mohon maaf tuan, karena semalam mendadak semua camera CCTV rusak, hari ini baru saja di perbaiki"
Aneh ...
Hanya itu di pikiran Robert, kenapa harus diwaktu itu CCTV rusak, semuanya tampak di sengaja.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Selesai makan siang Arsen dan Rena melaksanakan sholat Dzuhur bersama. Kedua nya menjalankan sholat dengan khusuk.
Selepas itu seperti biasa Rena akan mencium punggung tangan sang suami, begitu lama ia melakukannya.
"Sayang" panggil Arsen.
Rena mendongak, kedua mata mereka saling pandang "Iya Mas ?"
"Tidak akan, Rena akan selalu ada disisi Mas"
Tangan Arsen terangkat, ia mengelus kepala sang istri yang masih tertutup mukena, sangat lembut Arsen melakukam hal itu membuat Rena nyaman.
"Mas"
"Iya"
"Kalau aku hamil, apa Mas masih akan menyayangi Elvan ?"
"Kamu hamil sayang ?" tanya Arsen.
"Belum mas, aku cuman tanya"
"Kirain. Sayang dengerin Mas, walau nanti aku punya anak kandung darimu kasih sayang ku pada Elvan akan tetap ada, bagaimana pun Elvan keluar dari rahimmu dan itu berarti dia juga anakku"
Rena tersenyum, ia merasa lega mendengarnya. Telapak tangan Rena mengelus perutnya, ia berharap semoga segera diberi kesempatan untuk mengandung lagi.
"Semoga segera di kasih kepercayaan ya Mas" ucap Rena.
"Aamiin" balas Arsen, ia pun mengelus perut istrinya juga.
"Apa mas mau kedokter untuk program, biar cepat dapatnya"
"Sayang, anak itu adalah anugera dari Allah. Jika memang Allah belum mengasih ya kita harus sabar dulu, insya Allah jika kita sabar secepatnya akan ada dedeknya Elvan disini"
Masya Allah..
Berulang kali Rena mengucapkan kata itu di hatinya, ia tak menyangka kalau Arsen akan sebijak ini. Ia pikir Arsen akan memaksanya untuk segera hamil tapi nyatanya laki-laki itu tetap santai dan menunggu dengan sabar.
Rena merabahkan kepalanya di pangkuan Arsen. Rasa nyaman semakin besar ia rasakan. Apalagi telapak tangan besar Arsen mengelus kepalanya dengan lembut.
"Sayang, ayo ganti mukenanya, nanti Elvan nyariin"
"Tidak mau, aku masih betah seperti ini"
"Uluh-uluh kenapa nyonya Arsen menjadi manja seperti ini sih ?" ucap Arsen dengan gemas, ia terkekeh dengan pelan.
Dan benar saja tak berapa lama pintu kamar keduanya terbuka, Elvan masuk kekamar dengan wajah bingung.
"Anak Papa kenapa ? kok wajahnya gitu ?" tanya Arsen.
"Tidak Papa, El bingung aja, tenapa mama dan Papa lama cekali cholatnya ?"
Rena menegakan kepalanya, ia mencium puncak kepala putranya dengan gemas. Sekarang anaknya itu semakin besar saja.
"Tanyalah sama Mama nak" pinta Arsen, ia menatap sang istri sembari tersenyum.
"Ya kak sholat itu harus di lakukan dengan khusuk sayang, jangan terburu-buru. Makanya lama sholatnya"
"Oh" Elvan menganggukan kepalanya tanda mengerti.
"Mas, mau gak hari ini kita berkunjung kerumah lamaku, itupun kalau mas gak capek"
Arsen berpikir sebentar, memang sudah sangat lama Rena tak berkunjung kerumahnya yang dulu, mungkin saja wanita itu rindu.
"Boleh, sekalian kita ziara kemakam papanya Elvan" balas Arsen.
Mendengar hal itu Rena terkesiap, ia tak percaya kalau Arsen akan mengajaknya kesana. Di pikiran Rena suaminya itu tak akan mau mengunjungi makam Rizal.
Semakin kesini Rena semakin sadar kalau suaminya adalah orang yang sangat baik, penuh perhatian dan kasih sayang. Aaahhh semua itu membuat Rena semakin jatuh cinta pada sang suami.
"Hei kenapa melamun ? apa ada yang salah dengan ucapan ku ?" tanya Arsen.
"Tidak mas, aku tidak menyangka kalau Mas mau mengunjungi makam Mas Rizal. Terima kasih Mas"
Arsen menatap sang istri dengan dalam, senyuman penuh kehangatan ia berikan.
"Karena sampai kapanpun dia akan tetap menjadi suami pertama kamu dan Ayah kandungnya Elvan. Jadi wajar jika aku mengunjungi makamnya" jelas Arsen.
...---------...
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...