
Talia meninggalkan area pemakaman, ia menunggu pesanan taksi onlinenya, sembari menunggu Talia melihat ada yang jualan rujak, ia teringat dengan Rena, pasti wanita itu senang jika ia membelikannya.
Dengan langkah cepat Talia menyebrang jalan, beruntung keadaan jalan sedang sepi. Namun hal tak terduga terjadi sebuah mobil truk melintas dengan kecepatan tinngi dan langsung menghantam tubuh Talia.
Tubuhnya yang mungil terpental sangat jauh, Semua orang berkerumun untuk melihat keadaan Talia yang kini sudah bersimba dara. Matanya terpejam dan tubuhnya sudah tak bergerak lagi.
Seseorang langsung memanggil ambulance, sementara sang sopir truk langsung diamankan polisi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Arsen dan Rena langsung menuju rumah sakit saat mendapatkan kaabr kalau Talia kecelakaan. Tak lupa Rena mengabari kakek Raymond.
Dan disinilah mereka berada, didepan ruangan IGD untuk menunggu sang dokter yang sedang menangani Talia.
Dua orang polisi datang.
"Permisi apa ini keluarga pasien yang tertabrak tadi ?" tanya polisi itu
"Betul" jawab Arsen
"Kami mau mengabarkan kalau yang menabrak pasien sudah kami amankan"
"Terima kasih atas bantuan nya pak, saya akan segera kekantor untuk mengurus semuanya"
"Baik kami tunggu"
Setelah kedua polisi itu pergi Arsen kembali duduk disamping sang istri, hingga tak berapa lama seorang dokter keluar.
"Dengan keluarga pasien"
"Iya dok"
"Pasien ingin meminta bertemu dengan kalian"
"Baik dok"
Kakek Raymond masuk duluan, disusul oleh Arsen dan Rena. Mereka melihat Talia begitu lemah. Rena menggenggam tangan Talia dengan erat.
"R-e-n-a" panggil Talia dengan suara terbata-bata.
"Iya mbak.... jangan banyak bicara dulu"
"T-i-t-i-p" Talia menarik napas panjang "A-n-a-k-k-u" sambung Talia lagi dan diiringi dengan mata tertutup.
Air mata Rena menetes, ia mengecek denyut nadi Talia, dan ternyata sudah tidak ada, itu menandakan kalau wanita itu sudah pergi untuk selama-lamanya.
Rena menggeser tubuhnya saat dokter hendak memeriksa keadaan Talia, dan hasilnya sama seperti yang Rena pikirkan kalau Talia sudah tiada.
"Innalillahi wa innaillahi rojiun"gumam Rena dengan air mata berderai "kenapa secepat ini mbak ? bagaimana dengan Ara, apa yang harus kami jelaskan sama dia"
Arsen menarik tubuh sang istri kedalam pelukannya, ia juga tak menyangka kalau Talia akan pergi secepat ini.
Sedangkan kakek Raymond mengelus kepala Talia.
"Kakek akan menjaga Ara dengan baik, kakek akan melakukan apa saja untuk kebahagiaan Ara, pergilah dengan tenang kakek sudah memaafkan semua kesalahan kamu" bisik kakek Raymond menahan isak tangisnya.
Semuanya berduka, Talia pergi secepat ini padahal anaknya baru berumur 5 hari.
Setela diberihkan jenaza Talia langsung di pulangkan saat itu juga, tentu saja semua orang dirumah terkejut saat mendengar kalau Talia telah tiada. Apalagi Dian yang langsung jatuh pingsan saat ambulance membawa Talia.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pemakaman Talia akan di langsung hari itu juga, sejak tadi bayi mungil yang baru berumur lima hari itu terus menangis histeris. Seolah ia mengerti kalau sang Mama telah tiada.
Dian dan Marni sudah berulang kali menenangkan Baby Ara, namun tak ada hasil. Sehingga akhirnya Rena turun tangan, ia mengambil alih menggendong baby Ara, lalu menyanyikan sholawat.
"Alhamdulillah akhirnya diam juga" ucap Marni merasa legah.
"Dia pasti paham ya bi, kalau ibunya telah tiada"
"Mungkin saja nyonya"
Arsen mendekat, ia mencium baby Ara.
"Sayang mas kepemakaman dulu ya ! kamu di rumah aja"
"Iya mas, hati-hati"
Arsen mengangguk kemudian berlalu dari sana.
"Ibu tak menyangka kalau Talia akan pergi secept ini. Padahal baru pagi tadi dia ngobrol sama ibu" ucap Dian lirih.
"Rena juga tidak mengangka bu"
"Kasihan ya Ara, baru juga lahri tapi sudah kehilangan ibunya"
"Aku yang akan menggantikan mbak Talia bu, biarkan baby Ara memanggilku dengan sebutan Mama"
"Iya bu, ini juga permintaan mbak Talia"
Dian menyetujui semua itu, lagian ia juga akan membantu mengurus baby Ara, walau bagaimana pun Baby Ara tetap bagian dari keluarga Raymond.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Beberapa hari kemudian.....
Arsen kembali di kejutkan dengan kabar kalau Robert akan melamar Jasmin. Ia menatap asistennya itu dengan seksama.
"Apa yang telah kau lakukan padanya ? sehingga kau ingin menikahinya secepat ini ? kalian tidak melakukan apa-apakan malam itu di hotel ?" tanya Arsen penuh selidik.
"Tidak tuan, kami memang mau menikah"
"Tapi saya masih tak percaya, kalian kan seperti tom and jerry kalau ketemu, kok bisa menikah"
"Namanya jodoh tuan"
"Iya juga sih, lalu kapan kamu akan melamar dia ?"
"Besok malam tuan"
"What ? kenapa dadakan begini ? tidak bisakah satu minggu lagi, kau tau kan kalau keluargaku sedang berduka"
"Seperti tuan tidak dadakan saja saat menikah dulu". maki Robert dalam hati.
Setelah mengobrol, Robert langsung keluar dari ruangan Arsen, ia mendekati sang kekasih yang tengah sibuk mengetik.
Cup...
Tanpa di duga Robert menge cup kening Jasmin sehingga membuat wanita itu terkejut seketika.
"Apa-apaan sih, gimana kalau ada yang melihat" ucap Jasmin kesal.
"Buktinya tidak ada yang melihatkan"
"His... Udah sana aku mau kerja"
"Galak banget sih sama calon suami"
Jasmin menatap Robert dengan kesal, ia baru mengetahui sikap asli laki-laki itu. Semenjak ia dan Robert resmi jadian ia seolah mengetahui sisi lain dari Robert.
Sikap arogant Robert tak terlihat lagi, berganti dengan sikap lebay nya. Padahal dulu Robert begitu kejam bahkan lebih kejam dari pada Arsen. Dan sekarang Jasmin tak melihat semua itu lagi.
"Udah sana pergi, nanti tuan Arsen lihat" Jasmin mendorong tubuh Robert agar menjauh.
"Tidak mau"
"Kamu tu kenapa sih, kok sekarang kaya anak-anak gini, biasanya tegas dan berwibawa banget"
"Itu dulu sebelum aku bucin sama kamu"
Jasmin hanya mencibir, ia menggelengkan kepalanya berulang. Namun tak bisa di pungkiri kalau dirinya bahagia karena bisa menjadi kekasih dari Robert. Ia berjanji akan menjadi istri yang baik untuk pria itu nantinya.
Tanpa keduanya duga, Arsen menatap keduanya dengan seksama. Ia bergidik ngeri melihat kelakuan Robert.
"Perasaan aku juga cinta mati sama Rena, tapi aku tak selebay Robert" batin Arsen.
Ia berjalan mendekati Robert dan Jasmin.
"Eheeemmm"
Serempak Robert dan Jasmin menoleh,. mereka cukuo terkejut melihat Arsen sudah ada dibelakang mereka.
"Sedang apa kalian ?" tanya Arsen pura-pura tidak tau.
"Saya sedang menanyakan kerjaan saja tuan"
"Kerjaan apa ?" tanya Arsen mengangkat sala satu alisnya "Kerjaanya malam pertama ?" sambungnya lagi.
Robert langsung menelan ludahnya berkali-kali, sementara Jasmin menunduk karena takut. Kedua pasangan yang baru jadian itu seolah baru saja kepergok.
"Ciih, kalian pikir saya tidak tau apa yang kalian lakukan".
Setelah mengatakan itu Arsen meninggalkan meja Jasmin.
"Tuan mau kemana ?" tanya Robert sedikit berteriak.
"Minta surga dunia sama istri" balas Arsen.
"Sialan..." umpat Robert.
-----
Dua episode aja dulu ya.. Besok aku up bakalan up 4 episode...