Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 51



Selesai mandi Arsen menuju lemari pakaian, namun langkahnya terhenti karena panggilan sang istri.


"Ada apa sayang ?" tanya Arsen sembari menoleh kearah Rena.


Rena mendekat, ia merabah punggung sang suami, terdapat luka memar yang begitu besar disana.


"Punggung Mas kenapa ? kok memar begini"


"Awwwwww, sakit sayang" pekik Arsen saat jemari istrinya merabah bagian punggungnya.


"Iya ini kenapa Mas ? kaya habis di pukul ?"


"Entahlah, mas gak tau apa-apa sayang"


"Aneh, tapi ini aku yakin kalau habis kena pukul, coba mas ingat-ingat lagi apa yang terjadi semalam"


Sekuat tenaga Arsen berusaha mengingat tapi tak ada satupun yang di ingat otaknya.


"Ya sudah kalau mas gak ingat, sini aku obatin dulu. Biar cepat sembuh"..


Rena mengambil obat oles di dalam laci, setelah mendapatkannnya ia mulai mengobati punggung suaminya. Sesekali Arsen menjerit saat rasa sakit itu mendera.


"Dimana Elvan sayang. Awww" tanya Arsen sembari meringis kesakitan.


"Tadi main sama Bu Leni Mas, habis nanyain kamu"..


"Sudah ku duga, dia pasti nanyain aku"..


"Udah" ucap Rena.


"Terima kasih sayang"


Setelah berganti pakaian Arsen langsung menuju ruang kerjanya, disana Robert sudah menunggu, laki-laki itu duduk di sofa.


Saat melihat kehadiran Arsen. Robert langsung menguba posisi duduknya. Kedua laki-laki itu terlibat obrolan serius.


"Kau cari tau apa yang terjadi padaku semalam, aku benar-benar lupa semua itu" perintah Arsen.


"Baik tuan, secepatnya saya akan memberi tahu tuan apa yang terjadi"


"Bagus. Dan apa kau tau Robert tadi saat aku bangun aku ada di kamar hotel bersama Talia. Dan yang lebih mengejutkan lagi aku tak mengenakan pakaian apapun"


Robert terkejut mendengar hal itu "Kok bisa ?"


"Entahlah aku pun tak mengerti, tapi aku yakin Talia ada dibalik semua ini"


"Akan aku selidiki tuan, sepertinya nona Talia ada rencana lain"..


Arsen mengangguk, ia sudah memikirkan hal itu. Talia pasti punya niat jahat padanya dan juga Rena. Tapi sayang Arsen tak bisa menebak apa rencana jahat itu.


"Sebaiknya tuan periksa kerumah sakit dulu, sepertinya keadaan tuan tidak baik-baik saja"


"Tidak perlu Robert, aku hanya perlu istirahat. Hari ini aku tak akan kekantor jadi kau handle semua pekerjaan ku"


"Baik Tuan"


Setelah Robert pergi, Arsen menyandarkan punggungnya, ia kembali meringis saat punggungnya terasa sakit. Pikiranya masih tertuju pada kejadian tadi pagi, juga ucapan Talia yang terdengar menjijikan.


Ada rasa takut dan juga khawatir yang sedang Arsen rasakan, ia takut kalau ternyata dirinya benar-benar melakukan hal itu pada Talia.


"Tidak aku tidak mungkin melakukan itu, pasti ini semua hanyalah akal-akalan wanita sialan itu" gumam Arsen sembari menggelengkan kepalanya.


Ia tak bisa membayangkan jika itu benar-benar terjadi, lalu istri yang sangat ia cintai menangis karena ulahnya.


Tidak !!..


Arsen tak ingin semua itu terjadi, Rena tak boleh menangis karena ulahnya, sudah cukup wanita itu menderita karena perbuatannya dulu. Dan sekarang Arsen tak ingin melihat air mata menetes di pipi Rena lagi.


"Jangan sampai Rena tau hal ini, aku tak ingin dia menangis, aku harus segera menyingkirkan Talia agar wanita itu tak mengganggu rumah tanggaku" kembali Arsen bergumam.


Puas berada di ruang kerja Arsen kembali kekamar, ia menyapu keliling kamar menggunakan matanya, mencari keberadaan sang istri.


"Kemana Rena ?"


Arsen menuruni anak tangga, ia berpapasan dengan Marni.


"Mana istriku Bi ?" tanya Arsen.


"Di halaman belakang Tuan, seperti biasa nyonya sedang menyiram tananam"


Arsen meninggalkan Marni, berjalan menuju halaman belakang rumahnya. Matanya terkesiap saat melihat aneka bunga yang begitu cantik. Apalagi melihat Rena yang tampak telaten menyiram tanaman itu.


"Sejak kapan halaman ini menjadi taman bunga ?" tanya Arsen.


Rena terkejut, ia menoleh kearah Arsen "sejak aku tinggal disini"


"Waw, indah sekali sayang. Kau memang pintar sayang"


"Sudah selesai mengobrolnya dengan Robert Mas ?" tanya Rena, ia meletakkan alat penyiram tanaman lalu berjalan mendekati sang suami.


"Sudah sayang, aku mau istirahat tapi kamunya gak ada dikamar"


"Ini masih pagi Mas jangan tidur dulu enggak baik buat kesehatan, mending berjemur dulu" ajak Rena "oh ya Mas kan belum sarapan, apa mau aku bawakan makanan kesini ?"


Arsen benar-benar bahagia mendengar perhatian istrinya, dan bagaimana mungkin ia tega menyakiti Rena.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Saat itu Robert mendatangi lokasi dimana semalam ia menemukan mobil Arsen. Ada dua orang yang membantunya melakukan hal itu.


"Bagaimana ?" tanya Robert pada kedua anak buahnya.


"Tidak ada camera CCTV yang menuju ke lokasi ini tuan, sepertinya ini di sengaja, mereka mencari tempat yang sepi dan tak ada CCTV"


"Sialan !" umpat Robert, tapi tentu saja ia tak akan kehabisan akal, matanya yang nyalang mencari sesuatu yang bisa ia jadikan petunjuk.


"Bagaimana kalau kita kehotel dulu tuan, siapa tau ada sesuatu yang kita dapatkan"


"Itu tidak akan mudah, disini saja mereka bisa mencari tempat yang aman bagaimana dengan di hotel" balas Robert.


Tiba-tiba ada dua anak kecil sekitar umur 10 tahun melewati Robert dan kedua anak buahnya, tapi bukan itu yang menarik bagi Robert melainkan pembicaraan dua laki-laki itu.


"Semalam aku melihat ada pemuda yang di kroyok, kasihan dia mana sendirian"


"*Dimana ?"


"Disini,.aku bahkan merekamnya*"


Pembicaraan kedua laki-laki itu terdengar sangat jelas di telinga Robert.


Apakah itu Arsen ?


Atau laki-laki lain ?


"Hei tunggu !" teriak Robert.


Kedua laki-laki itu menoleh mereka mengernyit bingung "Apa anda memanggil kita ?"


"Iya, saya memanggil kalian, bisakah kalian kesini sebentar ada yang ingin saya tanyakan ?" perinta Robert.


Kedua orang itu mendekat, nampak raut wajah kebingungan di wajah kedua orang itu, ada juga rasa takut saat melihat perangai Robert.


"Jangan takut ! aku bukan orang jahat. siapa nama kalian ?"


"Saya Asep dan ini teman saya Rudi, ada apa tuan memanggil kami "tanya laki-laki yang bernama Asep.


"Tadi saya mendengar kamu melihat semalam ada laki-laki yang di kroyok, apa kah kamu mengenal siapa pria itu ?" tanya Robert


"Saya tidak kenal pak, tapi saya ada videonya" Asep mengeluarkan ponselnya, lalu memberikan benda itu kepada Robert.


Mata Robert menatap video itu dengan nyalang, itu adalah Arsen yang sedang di kroyok oleh orang tak dikenal.


"Kirimkan video ini ke ponselku !" perinta Robert.


"Baik pak" Asep pun menjalankan tugas dari Robert.


Setelah video itu masuk kedalam ponselnya, Robert menyerahkan lembaran uang berwarna merah kepada Asep.


"Ini upah untuk kalian terima kasih karena sudah merekam kejadian semalam. Kau tau dia siapa ?"


Asep menggeleng, dia kegelapan malam mana mungkin ia bisa melihat siapa pria itu.


"Dia adalah tuan Arsenio Raymond, pemimpin perusahaan dan orang terkaya."


"Hah, tuan Arsen ?"


"Betul" jawab Robert sembari tersenyum melihat Asep dan Rudi melongo.