
1 bulan kemudian----
Perusahaan Arsen akan mengadakan acara besar-besaran, karena memperingati ulang tahun perusahaan tersebut.
Kabarnya Kakek Raymond akan menyerahkan perusahaan itu kepada orang yang tepat, tentu saja itu membuat Arsen sedikit was-was karena takut kalau perusahaan itu akan jatuh ketangan sang Paman.
"Anda tenang saja tuan, saya yakin perusahaan ini akan jatuh ketangan Tuan" ucap Robert menyemangati Arsen.
"Ku harap juga begitu" balas Arsen.
"Oh ya bagaimana apa Rena sudah kau suruh bersiap untuk acara nanti malam ?" tanya Arsen lagi, ia baru mengingat kalau harus membuat istrinya tampil cantik malam ini. Arsen tak ingin di permalukan.
"Saya sudah menyuruh seseorang untuk mengajak nona Rena kesalon, sesuai yang Tuan inginkan"
"Bagus kalau begitu"
Waktu sudah beranjak sore, dan Arsen akan menjemput sang istri di salon langganannya. Ia berharap Rena bisa tampil berbeda malam ini, karena selama 1 bulan lebih ia dan Rena tinggal bersama penampilan Rena biasa saja, tak pernah membuatnya terpukau.
"Jam berapa aku menjemput Rena ?" Arsen menatap kearah Robert.
"Sekitar satu jam lagi Tuan"
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Ternyata bukan hanya Arsen yang merasa was-was, paman Willi pun merasakan hal yang sama. Walau berulang kali Talia mengatakan kalau perusahaan itu akan jatuh ketangan nya namun tak membuat Paman Willi bisa bernafas legah sebelum mendengar dengan jelas apa yang di katakan sang Ayah nanti..
"Paman kan anaknya Kakek Raymond, sementara Arsen hanya seorang cucu, pastilah Kakek Raymond akan menyerahkan perusahaan itu pada paman" entah sudah berapa kali Talia mengatakan hal serupa, membuat kepala paman Willi seperti ingin pecah di buatnya.
"Kau bisa diam tidak, dari tadi itu saja yang kau katakan. Membuat kepalaku pusing" ucap Paman Willi
Talia memanyunkan bibirnya, ia tak suka dengan jawaban Paman Willi padahal niatnya hanya untuk membuat Paman Willi bisa bernafas legah dan tak lagi was-was seperti ini.
"Ayo berangkat, kita harus sampai lebih dulu dari pada Arsen, aku harus tampil baik malam ini apalagi banyak pendiri perusahaan besar yang hadir disana" ajak Paman Willi kemudian.
"Baik Paman"
Dress berwarna merah menyala, serta begitu ketat di tubuhnya membuat Talia merasa begitu cantik. Ia yakin penampilannya malam ini sudah sangat sempurna dan tak akan ada yang mengalahkan kecantikannya.
Talia menggandeng tangan Paman Willi, mereka memasuki mobil yang sama. Keduanya tampak seperti seorang Ayah dan Anak.
"Apa istri Arsen yang kampungan itu akan hadir malam ini ?" tanya Talia.
"Mana ku tau, aku tak pernah menanyakan itu pada Arsen. memangnya kenapa ?" Paman Willi balik bertanya, tapi matanya fokus kejalanan yang cukup padat malam ini.
"Tidak apa-apa aku hanya ingin tau saja. Aku yakin Arsen tak akan membawa istrinya secara penampilannya kampungan seperti itu"
Paman Willi tak lagi menjawab, karena ia yakin kalau Rena akan hadir malam ini. Arsen tak mungkin meninggalkan sang istri apalagi saat ada acara penting seperti ini.
Sampai saat ini tak ada yang tau kalau Arsen dan Rena hanya menikah kontrak, Paman Willi begitu sulit mencari tau tentang pernikahan Arsen, apalagi dengan sikap manis Arsen pada Rena saat berjumpa dengannya.
"Kalau sampai perusahaan itu jatuh ketanganku, aku akan membalasmu Arsen, akan ku buat kau menjadi miskin" batin Paman Willi.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Malam harinya, sebelum berangkat ketempat acara, Arsen menjemput Rena terlebih dahulu. Setelan jas yang melekat di tubuhnya membuat Arsen terlihat sangat tampan.
Bunyi sepatu yang Arsen gunakan begitu jelas terdengar saat laki-laki itu melangkahkan kakinya memasuki sebuah salon dimana istrinya berada. Beberapa karyawan salon itu hanya bisa melongo melihat kedatangan Arsen.
"Mana istriku" tanya Arsen dengan suara lantang.
"Sebentar Tuan akan saya panggilkan, kebetulan Nona Rena sudah selesai kami make up"
Arsen langsung mendongak, matanya tak berkedip melihat penampilan Rena malam ini, menurutnya Rena sangat cantik bahkan begitu cantik sampai Arsen sendiri tak bisa menjelaskan dengan kata-kata.
"Bagaimana Tuan, apa penampilan istri anda memuaskan ?" tanya karyawan salon tersebut.
Arsen berdehem, ia baru sadar kalau sudah terlalu lama menatap kearah Rena "Biasa saja" jawab Arsen dingin.
"Ayo berangkat, jangan sampai telat disana" ajak Arsen pada Rena.
"Iya Mas"
Keduanya meninggalkan salon itu, tak ada acara gandengan karena memang sikap Arsen masih sama. Dingin dan menyebalkan tapi Rena bersyukur masih bisa bertahan sejauh ini.
Lalu dimanakah Elvan berada ? untuk malam ini Elvan tak ikut dengan Rena, karena anak laki-lakinya itu begitu dekat dengan Marni yakni Art di rumah Arsen. Jadi saat Rena pamit akan pergi Elvan langsung mengizinkan.
Di perjalanan ketempat acara, Arsen hanya diam saja, lagian apa yang ingin Rena dengarkan karena selama ia tinggal bersama Arsen hanya kata-kata menyakitkan yang ia dengar.
"Sudah taukan peraturannya untuk acara malam ini ?" tanya Arsen yang akhirnya membuka suara memecahkan keheningan malam itu.
Rena menoleh, lalu mengangguk "Tuan Robert sudah menjelaskan semuanya"
"Bagus kalau begitu, jadi jangan ada peraturan yang kau langgar. Pokoknya malam ini kau harus bersikap seolah kita pasangan yang serasi"
Tanpa di jelaskan lagi, Rena sudah tau semuanya. Apalagi Robert sudah menjelaskan. Jadj tak perlu di ulang oleh Arsen.
Tak berapa lama mobil memasuki halaman gedung yang menjulang tinggi, Seseorang langsung membukakan pintu untuk Arsen dan Rena setelah mobil berhenti.
"Gandeng tanganku" pinta Arsen.
"Baik Mas" jawab Rena patuh.
Arsen dan Rena memasuki gedung itu, aneka lampu warna-warni menjadikan nya terlihat sangat mewah. Saat Arsen dam Rena berjalan masuk para kamera mengambil gambar keduanya.
"Biasa saja, gak usah senyum terus" bisik Arsen di telinga Rena
Rena tak menjawab, ia langsung menghentikan senyumnya. Hingga keduanya bertemu dengan Kakek Raymond yang sedang mengobrol dengan seseorang.
"Selamat malam Kek" sapa Arsen ramah.
"Baru saja di bicarakan anaknya sudah disini" Kakek Raymond terkekeh sembari menepuk bahu Arsen dengan pelan.
Pria paruh baya yang berdiri di depan Kakek Raymond menatap kearah Rena "Dia siapa Raymond ?"
"Namanya Rena, dia istrinya Arsen" jelas Kakek Raymond.
"Waw, kau pintar sekali memilih istri, dia sangat cantik Sen, jangan kau sia-siakan"
Arsen hanya tersenyum, namun kalimat jangan sia-siakan sedikit menusuk relung hatinya, ia teringat dengan perjanjian pernikahannya waktu itu.
"Ah anda bisa saja" balas Arsen.
"Tapi benar yang saya katakan Sen, istrimu sangat cantik. Pasti banyak laki-laki yang menginginkan dia"
Seketika Arsen langsung menatap kearah Rena, ia merasa tak terima dengan ucapan itu, tanpa sadar Arsen merangkul pundak Rena.
----
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT ...