
Tepat jam 02 siang, Talia mengantarkan Willi ke Bandara . Ada raut kesedihan di wajah Talia namun sayangnya Willi tak peka akan hal itu, mungkin karena faktor usia.
Sebelum memasuki Bandara, Willi memeluk tubuh Talia dengan erat dan itu semakin membuat Talia merasa berat untuk melepaskan kepergian Willi.
"Aku pasti akan merindukan kamu, apalagi dengan itumu" ucap Willi yang kembali mengingat pertempurannya dengan Talia tadi.
Talia tersenyum "Aku juga akan merindukan paman, dan cepatlah pulang !"
"Pasti itu, setelah urusanku selesai kita akan kembali bersama"
Dalam benak Talia masih menyimpan banyak pertanyaan. Urusan apa yang Willi kerjakan disana, sedari tadi saat dirinya bertanya Willi tak menjelaskan sedikitpun.
Hingga tiba waktunya Willi benar-benar pergi, Talia kembali memasuki mobilnya setelah tak melihat punggung Willi lagi.
Saat di perjalanan pulang, pikiran Talia tertuju pada Arsen. Ia ingin mendekati laki-laki itu tapi saat mengingat bagaimana sikap Arsen selama ini membuat nyali Talia langsung menciut sebelum memulai.
"Huuh" de sah nya tertahan. Ia menyandarkan kepalanya di jok mobil, matanya menatap kejalanan.
"Akan sangat membosankan berada di sini tanpa paman. Apa ya yang harus aku kerjakan saat di tinggal seperti ini" Talia berpikir sejenak.
"Mengganggu Arsen ?" gumamnya lagi "Ah tidak-tidak bisa jadi aku akan di bunuh laki-laki itu" ucapnya lirih.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Beberapa hari kemudian, bukan negara korea yang menjadi tujuan Arsen untuk liburan. Melainkan sebuah Villa di dekat pedesaan yang menjadi pilihannya.
Bukan tanpa alasan Arsen memilih tempat itu, rasa cemburu nya yang begitu akut menjadi salah satu alasannya. Ia tidak ingin sang istri bertemu dengan laki-laki lain selain dirinya.
"Ini mah bukan liburan tapi mengasingkan diri" gumam Rena dengan memanyunkan bibirnya.
Arsen justru terkekeh "Itu lebih enak jadi kita bisa menikmati waktu berdua dengan bebas, mau kamu teriak sekencang mungkin tidak akan ada yang mendengar"
Rena melirik Arsen dengan sinis "Katanya mau ke korea, kok mala ke hutan sih"
"Kalau ke korea kamu nya akan ketemu sama siapa itu ??... Aku tidak akan mengizinkan jadi aku bawa kamu kehutan saja, disana kamu tidak akan bertemu siapapun selain para penunggu hutan"
Mendengar hal itu Rena menjadi merinding, ia sangat takut dengan hal begituan.
"Mending gak usah liburan Mas, di rumah saja"
"Enak aja ya gak bisa dong, aku udah nyewa Villa itu dengan mahal. Sia-sia dong uang yang aku keluarkan kalau tidak di pakai untuk enak-enak"
Rena kembali mendengus kesal, sekarang suaminya kenapa selalu berpikiran mesum seperti ini.
Saat melihat Arsen berdiri dan hendak meninggalkannya Rena pun bertanya.
"Kamu mau kemana Mas ?" tanya Rena
"Aku mau kekamar Elvan sebentar"
"Mau ngapain ?"..
"Ada deh, ini urusan laki-laki"
Alis Rena mengerut, suaminya itu ada-ada saja. Bahkan kemaren Arsen mengajari Elvan cara menembak cewek. Bocah laki-laki yang dalam masa pertumbuhan itu justru mengikuti apa kata Arsen.
"Awas aja kalau kamu ngajari Elvan yang enggak-enggak lagi" ancam Rena.
"Ya enggak lah aku tau apa yang terbaik untuk anakku" balas Arsen.
"Terus kemaren ngapain kamu ngajarin dia cara nembak cewek yang bener, orang Elvan nya saja belum mengerti semua itu"
"Iya makanya aku suruh belajar dari sekarang" jawab Arsen terkekeh.
"Massssssss" pekik Rena kesal, namun yang bikin kesal justru sudah berlalu pergi dari sana.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sebelum memasuki kamar Elvan. Arsen mengetok pintu terlebih dahulu, dan itu salah satu yang Arsen ajarkan pada Elvan.
"El" panggil Arsen setelah pintu terbuka dengan lebar.
"Papa, Cini" Evan melambaikan tanganya.
Arsen mengangguk sebelum mendekati Elvan, ia terlebih dahulu mengunci pintu kamar.
"Kamu main apa El ?" Arsen duduk di sebelah Elvan yang sedang bermain.
Elvan mengangkat sebuah mobil-mobilan yang bisa menjadi robot, mainan itu baru saja di belikan oleh kakek Raymond.
"El, Papa mau nanya boleh gak ?"
"El mau gak punya adik ?" tanya Arsen lagi.
Mendengar hal itu Elvan langsung terdiam, ia menatap Arsen dengan seksama lalu kemudian mengangguk dengan mantap.
"Besok Papa dan Mama mau pergi, tapi El gak boleh ikut"
"Mau Te-ma-na pa ?"
"Mau buat adik bayi, katanya El mau punya adik"
"Ca-la-nya ba-dai ma-na ?" tanya bocah itu dengan suara cadalnya.
"Itu urusan Papa dan Mama, yang penting nanti kalau Mama ngajak El, Jangan mau biar dedek bayinya cepat jadi"
Tanpa memikirkan hal lain, Elvan langsung mengiyakan. Ia tak paham saja kalau sedang di racuni sang Ayah.
Benar-benar Arsen sekarang, demi tak ingin di ganggu ia bahkan meracuni pikiran anaknya.
\=
\=
Kakek Raymond sedang duduk di sofa sembari menonton televisi, beberapa hari ini ia memang masih menginap di rumah Arsen dan mungkin sampai Arsen pulang dari bulan madu.
Rena meletakkan secangkir teh hangat ke meja yang berada di hadapan kakek Raymond.
"Terima kasih nak" ucap Kakek Raymond sambil tersenyum.
"Sama-sama Kek"
"Oh ya jadinya kemana kalian akan liburan" tanya kakek Raymond karena memang dirinya belum tau kemana tujuan Arsen, setelah sebelumnya membatalkan ke korea.
"Ke Villa dekat hutan kek, gak tau dimana tempatnya. Padahal Rena masih mau kekorea" jawab Rena dengan lesu.
Kakek Raymond terkekeh, ia tahu betul kalau cucunya itu sedang cemburu.
"Dasar si Arsen" gumam Kakek Raymond.
Tak berapa lama Arsen ikut bergabung, laki-laki itu hanya mengenakan celana pendek dan baju kaos berwarna putih, dan itu semakin menambah ketampanan Arsen.
"Kau ini sekali-kali ngajak istri liburan malah ke hutan" sindir Kakek Raymond.
Arsen justru mencibir "Dari pada ke korea ketemu siapa itu. Opa atau apalah.. Mending ke Villa"
"Oppa Mas, bukan Opa" sahut Rena cepat
"Sama aja, cuman beda dikit.. Lagian artinya tetap kakek kan"
Rena kembali mendengus, saat panggilan tersebut di samakan dengan panggilan kakek oleh sang suami.
"Mama" teriak Elvan membuat semua orang menoleh kesumber suara
"Ada apa sayang" tanya Rena setelah Elvan berdiri di dekatnya.
"Nanti Mama bawa dedek bayi ya"
Kakek Raymond dan Rena saling pandang setelah mendengar ucapan Elvan. Sementara Arsen langsung menepuk jidadnya.
"Siapa yang ngajarin El bicara seperti itu ?" kakek Raymond menyahut.
"Papa. Katanya El tidak boleh ikut Mama kalau pel-gi. Co-alnya Papa mau bikin dedek bayi" jelas Elvan kemudian.
Rena langsung melayangkan tatapan tajamnya pada sang suami, yang sekarang sudah menyembunyikan wajahnya di sandaran Sofa.
"Dasar bod*h. Kau ini bicara apa sama anak kecil" omel kakek Raymond.
"Ah sih Elvan kenapa buka rahasia disini sih, benar-benar nih anak". maki Arsen dalam hati.
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...
MAAF KEMAREN GAK UPDATE SOALNYA SINYAL DI TEMPATKU SUSAH BEBERAPA HARI INI. .
YANG MAU LIHAT VISUAL ARSEN DAN RENA SILAHKAN LIHAT DI AKUN IG AKU YA !! (INDAH_RY214)