Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 58



Rena melangkahkan kakinya keluar, meninggalkan rumah yang hampir delapan bulan ia tinggali bersama Arsen. Air matanya semakin deras, langkah kakinya semakin berat.


"Mama mau temana ? El mau cama Papa" seru Elvan menarik tangan Rena, namun tak di gubris sedikitpun oleh Rena.


Wanita sampai di depan gerbang.


"Tolong buka gerbangnya pak !" pinta Rena.


"Nyonya mau kemana ?" seorang satpam yang bekerja disana mengajukan pertanyaan.


"Lakukan saja perintahku"


Gerbangpun di buka, Rena kembali melanjutkan langkah nya bersama Elvan. Ia tak berharap Arsen akan mengejarnya, karena menatap wajah laki-laki itu semakin membuat perasaannya sakit.


Didalam rumah Talia memegang lengan Arsen, ia tak mengizinkan laki-laki itu mengejar istrinya.


"Lepaskan aku wanita murahan" teriak Arsen menggema.


"Tidak mau" balas Talia cepat "Kamu tidak boleh pergi, aku membutuhkan mu Arsen, anak yang aku kandung ini adalah anakmu"


Mendengar hal itu Arsen menghempaskan tangan Talia, ia menatap wanita itu dengan tajam. Arsen mencengkram dagu Talia dengan kuat sehingga membuat Talia meringis kesakitan.


"Berhenti mengatakan itu ! aku tak pernah menodaimu"


"Awww, sakit Arsen" Talia menyingkirkan tangan Arsen.


"Apa bukti itu belum cukup untuk membuatmu percaya, kalau aku memang mengandung anakmu"


"Mau seribu buktipun kamu berikan padaku, aku tak akan perna percaya dengan mu wanita licik"


Setelah mengatakan itu Arsen berlari keluar, berharap Rena masih berada didepan rumahnya. Namun nyatanya wanita itu sudah pergi.


"Sialan" umpat Arsen kesal.


"Rena pasti pulang kerumah nya"


Arsen menuju mobilnya, ia langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak peduli walau jalanan terlihat padat.


Yang ada di pikiran Arsen hanyalah sang istri, ia harus meyakinkan Rena kalau apa yang di tuduhkan Talia tidak benar.


"Kenapa kamu langsung percaya begitu saja sayang ? kau lupa kalau Talia adalah wanita licik"


Sudah dua lampu merah ia terobos, tak peduli jika nanti akan kena tilang karena melanggar aturan lalu lintas. Sungguh pikirannya sedang kacau.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Eh Rena, mau menginap lagi ya di rumah ini" tanya Bu Tanti.


Rena hanya membalas dengan anggukan, ia sama sekali tak berniat membalas dengan ucapan. Rena melangkahkan kakinya menuju rumah kecil dimana dulu ia dan Elvan menghabiskan waktu bersama.


"Ciiiih, dasar sombong" ucap Bu Tanti menatap Rena dengan sinis.


Setelah pintu rumah terbuka Rena langsung masuk kedalam, tangisnya semakin pecah, ia meraung saat dadanya terasa sesak.


"Mama tenapa ?" tanya Elvan dengan polosnya.


"Mama tidak apa-apa sayang, ayo El mainan disana"


"Baik Ma"


Sakit.... !!!.


Hatinya begitu sakit, dadanya semakin sesak, napasnya tertahan di kerongkongan. Kenapa Arsen melakukan ini ? kenapa laki-laki itu begitu kejam padanya.


"*Aku benci sama kamu Mas"


"Kenapa kamu melakukan ini padaku, kamu boleh menyakitiku dengan cara lain, tapi jangan seperti ini*"


Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan supaya tangisnya tak pecah. Rumahnya berbeda dengan rumah Arsen..Jika disana saat dirinya menangis tak akan ada tetangga yang mendengar maka jika di rumahnya menjadi kebalikannya.


Tok---Tok--Tok..


Rena terperanjat kaget saat mendengar suara ketokan pintu, Rena yakin kalau itu suaminya.


Segera Rena bangkit lalu mengintip di cela jendela, benar saja disana ada Arsen yang tengah berdiri dengan wajah cemas.


"Sayang buka pintunya !"


"Mas tau kamu didalam"


Teriakan Arsen begitu nyaring terdengar, Rena yakin kalau suara sang suami akan mengundang tanda tanya para tetangga.


Tapi bodoh amat...


Pintu kembali di gedor, tapi Rena tak kunjung membukanya. Ia bahkan menutup kedua telinganya supaya tak mendengar suara gedoran pintu. Air matanya semakin deras menetes.


"Rena, buka pintunya sayang ! percaya sama Mas, ini bukan ulah Mas" Arsen menyandarkan tubuhnya dipintu, wajahnya tertunduk. Entah dengan apa lagi ia menyakinkan sang istri kalau anak yang di kandung Talia bukan anaknya.


"Mama, ada papa di lual, ayo buka pintunya El mau mainan cama Papa"


Samar-samar Arsen mendengar suara rengekan Elvan. Membuatnya kembali menggedor pintu dengan kuat.


"Sayang buka pintunya, El mau sama aku"


Lagi dan lagi tak ada jawaban didalam sana, namun beberapa menit kemudian terdengar suara tangisan Elvan.


"Rena, buka pintunya. Kalau kamu tidak mau bertemu dengan ku, izinkan aku bertemu dengan Elvan. Dia anakku Ren"


"Bukan..." balas Rena dari dalam rumah "Dia bukan anakmu, bukan kah dulu kamu sering mengatakan hal itu"


"Kamu jangan egois Rena, ayo kita bicara baik-baik"


"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, pergilah ! urus perceraian kita dan nikahi wanita itu"


Arsen menggelengkan kepalanya, Istrinya begitu keras kepala.


"El mau cama Papa" suara tangisan dan rengekan Elvan semakin keras.


"Kalau kamu tidak mau membuka pintu ini, jangan salahkan Mas kalau pintu ini Mas dobrak" ancam Arsen.


Akhirnya tak berapa lama pintu terbuka, Arsen langsung menyambut Elvan kedalam pelukannya. Bocah menggemaskan itu menangis tersedu-sedu di pelukan Arsen.


Arsen membawa Elvan duduk disebuah kursi, ia menenangkan Elvan dengan suara yang lembut.


"El mau cama Papa"


"Iya nak, ini Papa udah sama El kok"


Tatapan mata Elvan tertuju pada Rena. Terlihat dengan jelas wajah sembab karena habis menangis, membuat Arsen merasa bersalah.


"Sayang"


"Dengerin aku, itu bukan anakku ! aku sama sekali tak pernah menyentuhnya !"


Rena hanya memalingkan wajahnya, ia enggan menatap sang suami.


"Sulit untukku percaya Mas"


"Harus bagaimana mas membuktikan padamu, kalau itu bukan anak ku"


"Aku tidak tahu, video itu sudah cukup membuktikan semuanya"


Rahang Arsen mengeras, gara-gara video yang tak masuk akal itu rumah tangganya berantakan seperti ini.


Arsen melirik kearah Elvan, ternyata anak itu sudah tidur dengan pulas.


"Mau kemana ?" tanya Rena saat melihat Arsen beranjak meninggalkan dirinya.


"Nidurin Elvan"


"Cepatlah lalu pergi dari rumah ini"


Arsen tak lagi menjawab, ia menuju sebuah kamar. Sekarang kamar itu terlihat berbeda, kasurnya sudah di ganti oleh Arsen.


"Anak papa tidur yang pulas ya, Papa akan meyakinkan mama kamu kalau Papa tidak salah"


Setelah menyelimuti Elvan, Arsen kembali keluar kamar. Menghampiri sang istri yang sampai saat ini terus mengeluarkan air mata.


"Tolong percaya sama aku Ren, aku tidak pernah menyentuh wanita lain selain kamu"


"Terus kenapa wanita itu bisa hamil Mas, tidak mungkin dia berbohong dengan berpura-pura hamil"


"Mana aku tau sayang, mungkin saja dia hamil anak orang lain"


"Cukup Mas, jangan membawa orang lain untuk menutupi kesalahan kamu, bertanggung jawablah karena anak itu butuh kamu sebagai Ayahnya"


Rena melepaskan tangan Arsen, kali ini ia menatap manik mata sang suami dengan lekat.


"Lepaskan aku Mas, mungkin ini adalah yang terbaik untuk kita"


...-------...


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...