Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 30



Tanpa pikir panjang Arsen langsung masuk kedalam kolam, ia mengangkat tubuh wanita yang sudah tenggelam itu dengan sangat hati-hati.


"Ambilkan handuk !!" perintah Robert pada kedua Asisten disana.


"Baik Tuan" jawab Marni dan langsung berlari masuk kedalam.


Sementara Leni menenangkan Elvan yang berteriak histeris melihat sang Mama tenggelam. Mungkin bocah laki-laki itu panik tak terhingga.


Kini tubuh Rena di baringkan di pinggir kolam.


"Jangan sentuh dia !!" cegah Arsen saat Robert hendak membantu menyelimuti tubuh Rena.


"Saya hanya ingin menyelimuti istri anda tuan" jawab Robert kemudian.


"Biar aku saja"


Robert memutar matanya malas, dalam keadaan seperti ini Arsen masih saja posesif, padahal ia hanya ingin membantu, namun apalah daya laki-laki yang cemburuan namun gengsi itu melarangnya dengan keras.


Robert kembali menjauh saat Arsen sudah naik keatas.


"Rena bangun !!" ucap Arsen, terdengar suara penuh kekhawatiran dari laki-laki itu.


"Apa perlu di bawa kerumah sakit Tuan ?" dari belakang Robert bertanya.


"Tak perlu, kau panggil saja dokter nya kesini !"


"Baik Tuan"


Arsen mengangkat tubuh Rena dan membawanya ke kamar, namun saat telingahnya mendengar suara tangisan Elvan laki-laki itu langsung menghentikan langkahnya.


"Bawa Elvan kekamar !" titah Arsen pada Leni.


***********


Didalam kamar Arsen meminta Leni mengganti seluruh pakaian Rena, sementara dirinya menggantikan menenangkan Elvan. Baru kali ini Arsen menggendong anak tirinya itu.


"Mama" suara Elvan begitu lirih, membuat Arsen tak tega mendengarnya.


"El tenang ya, Mama tidak apa-apa kok" balas Arsen namun suaranya masih terdengar garang, mungkin saja Arsen tak tahu cara berbicara dengan lemah lembut.


Elvan menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Arsen, dengan pelan Arsen mengelus kepala Elvan.


"Tuan, dokternya sudah menuju kesini !" tiba-tiba Robert datang.


"Hmmmmm" jawab Arsen singkat.


Begitupun dengan Rena yang sudah selesai di ganti pakaianya, Arsen hendak kembali kekamar bersama Elvan namun kembali langkanya terhenti saat melihat Robert juga ingin masuk.


"Kau mau kemana ?" tanya Arsen.


"Mau melihat keadaan nona Rena tuan"


"Sana tunggu di ruang tamu saja, Rena tak perlu di lihat olehmu"


Dasar Arsen.....


Keposesifannya benar-benar terlihat sekarang, bahkan Robert yang ingin melihat keadaan Rena saja ia larang.


"Saya tak menyangka kalau Tuan Arsen cemburunya berlebihan seperti ini". batin Robert kemudian, ia langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Arsen dan Elvan.


Arsen duduk di pinggir ranjang, sembari memangku Elvan. Tatapan matanya terus tertuju pada Rena yang belum membuka mata, bibir Rena yang sedikit pucat karena tenggelam membuat Arsen benar-benar khawatir.


"Bangun Rena !!, aku tak bisa melihatmu tidur seperti ini !!"


Tidak berapa lama seorang dokter perempuan datang, dengan di antar oleh Robert. Membuat Arsen langsung berdiri dan mempersilahkan sang dokter memeriksa keadaan Rena.


"Dia baik-baik saja Tuan" ucap dokter Esti pada Arsen.


"Lalu kenapa dia belum sadarkan diri ? coba kau periksa yang benar"


"Sebentar lagi dia akan sadar, dia hanya syok karena tak bisa berenang"


Rasanya Arsen tak puas dengan penjelasan dokter Esti, laki-laki itu terlalu khawatir makanya ia bersikap seperti itu.


"Kau jangan pulang dulu dok, tunggu sampai istri saya sadar"


Rasanya baru kali ini Robert mendengar suara penuh kekhawatir Arsen pada perempuan, apalagi tadi Arsen mengatakan 'Istri' jelas itu berarti Arsen benar-benar sudah mencintai Rena.


Dokter Esti menurut, ia menunggu sampai Rena benar-benar sadar. Dokter Esti mengoleskan minyak angin di tubuh Rena.


Perlahan mata Rena mulai terbuka, membuat Dokter Esti bisa bernapas legah, karena dengan sadarnya Rena ia bisa segera pulang. Jujur saja saat datang kerumah ini Dokter Esti merasakan hawa yang berbeda apalagi saat bertatapan dengan Arsen.


"Awwwwww...." Rena memegangi kepalanya saat merasakan pusing.


"Nah kan kau dengar kan dok, dia kesakitan" sahut Arsen


"Apa yang anda rasakan nona ?" tanya dokter Esti pada Rena.


"Hanya pusing saja dok" jawab Rena kemudian.


"Saya akan meresepkan obat, dan tolong di tebus di apotik"


Rena mengangguk ,sesaat kemudian ia mengingat tentang Elvan. Perempuan itu langsung bangun untuk mencari dimana putranya itu.


"Elvan" panggil Rena.


"Mama" jawab Elvan yang masih dalam gendongan Arsen.


"Ya Allah nak, El gak papakan ? El baik-baik saja kan ?"


"Hei yang kenapa-napa itu kamu, kalau Elvan tidak" sahut Arsen dengan cepat. "Lagian kalau tidak bisa berenang ngapain main disana" omel laki-laki itu.


Rena menundukan kepalanya "Maaf Mas tadi aku hanya ingin mengambilkan mainan Elvan, aku gak tau kalau pinggiran kolam itu licin"


Arsen menarik nafas panjang "Robert besok kau bongkar kolam itu" pinta Arsen


"Baik Tuan" jawab Robert singkat.


"Jangan dibongkar Mas" cegah Rena langsung.


"Kenapa ? itu kolam aku yang bikin jadi terserah aku mau di apakan"


Dokter Esti yang masih duduk disana menjadi bingung mendengar perdebatan keduanya, apalagi melihat Arsen yang terdengar posesif pada Rena.


Melihat dokter Esti sudah tak nyaman, Robert akhinya buka bicara.


"Mari saya antar dok, sekalian saya mau membeli obatnya !" ucap Robert.


"Iya Tuan"


"Ingat beli obat yang mahal, jangan yang murahan" Arsen masih saja menyahut dengan nada cetus.


"Iya" jawab Robert yang mulai kesal dengan sikap Arsen.


Setelah kepergian Robert dan Dokter Esti, kini hanya tertinggal Arsen, Rena dan Elvan.


Tok--Tok--Tok.


Seseorang mengetok pintu kamar.


"Ada apa ?" tanya Arsen saat melihat Marni datang kekamarnya.


"Saya mau mengantarkan teh hangat untuk Nona Rena, sekalian mau membawa den Elvan tuan"


Arsen mengangguk, Marni begitu mengerti tentang keadaan, karena memang Arsen ingin berduaan dengan Rena sekarang.


"Kau jaga anakku dengan baik !! awas kalau sampai lecet" pesan Arsen.


Rena begitu kaget mendengar ucapan Arsen, mungkin kah saat ini Arsen sudah menganggap Elvan anaknya. Berbagai pertanyaan ada di pikiran Rena.


Namun setelah kepergian Marni dan Elvan, mendadak suasana menjadi canggung. Arsen tak tahu harus bagaimana padahal tadi ia begitu cerewet dan sekarang malah terdiam membisu.


"Geser !!" tiba-tiba Arsen duduk di samping Rena membuat wanita itu sedikit menggeser tubuhnya.


"Ada apa Mas ?"


"Diamlah !!"


Tanpa pikir panjang Arsen justru memjiti kepala Rena.


"Mas hentikan !! " ucap Rena yang sedikit menjauhkan kepalanya supaya terhindar dari pijitan Arsen.


"Diam !! tadi kau bilang kepalamu pusing"


"Iya, tapi sekarang sudah sembuh Mas"


"Belum, kau pasti berbohong, mana ada langsung sembuh gitu aja"


Akhirnya Rena diam, ia menikmati pijitan Arsen. Memang kepalanya masih terasa pusing namun Rena enggan untuk mengatakan itu.


"Enak ya ?" tanya Arsen


Tanpa sadar Rena menganggukan kepalanya "Makasih Mas"


------


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...