Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 62



Sekarang Rena dan Elvan bersiap untuk pergi kesebuah desa yang di katakan oleh kakek Raymond.


Bukan tanpa alasan kakek Raymond meminta Rena pergi. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Rena. Kakek Raymond sudah mencium kejahatan Talia, jadi yang utama ia lakukan adalah menjauhkan Rena dan Elvan.


"Hati-hati disana Nak, Arsen akan secepatnya menjemput kalian"


"Iya kek"


Usai mencium punggung tangan kakek Raymond. Rena dan Elvan masuk kedalam mobil.


Robert menjalankan mobilnya dengan pelan, meninggalkan perkarangan rumah Rena.


Sementara kakek Raymond terlihat menelpon seseorang, hingga beberapa saat kemudian kakek ada sebuah mobil yang menjemput pria paruh baya itu.


Di perjalanan menuju desa, Rena menyandarkan punggungnya. Sementara Elvan dudul di pangkuan Rena.


"Mau temana ma ?" Tanya Elvan berulang kali.


"Nanti El akan tau"


"Kok papa dak itut kita?"


"Nanti papa menyusul kalau kerjaanya sudah beres"


Elvan terdiam, ia tak lagi banyak bertanya pada sang mama, membuat Rena bernapas legah karena terhindar dari pertanyaan yang lain.


"Apa disana benar-benar desa Robert ?"


"Tidak juga nona, disana tidak jauh dari keramaian. Saya yakin nona akan betah tinggal disana"


"Semoga saja" balas Rena lirih.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kemana Arsen, kenapa sampai sekarang dia belum pulang" batin Talia kesal.


"Padahal semalam aku sudah meminta untuk menikahiku, tapi kenapa tak Arsen kabulkan" Talia mengusap wajahnya dengan kasar "Haaaa, sialan ternyata masih susah mendapatkan Arsen walaupun dengan trik ini"


Didalam kamar itu Talia melemparkan barang-barangnya, ia kesal karena Arsen tak menikahinya sesuai yang dia inginkan.


"Sepertinya aku harus menyingkirkan Rena, pasti karena wanita itu Arsen tidak mau menikahiku"


"Iya benar, setelah Rena pergi tak akan ada yang menghalangi kami lagi untuk bersama"


Talia menatap pantulan dirinya di cermin, saat ini ia mengenakan dres super ketat. Namun dahi Talia mengerut saat melihat ukuran perutnya sudah berbeda.


"Kenapa sudah kelihatan besar sih ?" Gerutu Talia kesal.


Ia terpaksa mengganti pakaiannya untuk menutupi ukuran perutnya, bisa curiga semua orang kalau tau perutnya sudah besar seperti ini.


"Kau jangan nampak dulu, nanti kita ketahuan" gumam Talia mengelus perutnya.


Talia keluar dari kamar, ia menuju meja makan.


"Bi, bikinin aku nasi goreng sosis dong" pintanya pada Marni.


"Baik non"


"Oh ya sebentar lagi aku kan menjadi nyonya di rumah ini, jadi nanti aku ingin meja makan sama susunan dapurnya di ganti"


"Tapi non, ini susunan nyonya Rena"


"Hei dia bukan lagi nyonya kalian, karena dia sudah berpisah dengan Arsen"


Marni begitu terkejut mendengarnya, ia langsung menuju dapur untuk membuatkan pesanan Talia.


"Kau sudah dengar belum Leni" tanya Marni pada teman sebaya nya itu.


Leni menoleh "tentang apa ?"


"Katanya nyonya kita bukan lagi nyonya Rena, melainkan wanita itu"


"Hah, serius ?"


"Masa aku bohong"


"Aku tidak mau kerja disini lagi kalau wanita itu menjadi nyonya kita"


"Saya juga begitu"


Percakapan keduanya langsung berhenti saat mendengar langka Talia mendekat.


"Kalian membicarakan saya ya ?" tanya Talia dengan sorot mata tajamnya.


"Ti--dak nona" jawab Marni dan Leni serempak.


"Jangan bohong, saya mendengar semuanya. Awas ya kalian, kalau saya sudah menjadi nyonya disini, saya akan memecat kalian semua"


Marni dan Leni tak menjawab, mereka tertunduk dengan perasaan takut.


"Kami memang mau berhenti, kalau anda yang menjadi majikan kami" batin Marni sembari menatap Leni.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sementara itu Arsen baru saja terbangun dari tidurnya, mungkin karena ia tertidur sudah hampir pagi hingga akhirnya baru bangun sekarang.


Dengan gerakan cepat Arsen membersihkan tubuhnya, tak sampai 15 menit ia sudah selesai. Sebelum menuju lemari pakaian Arsen melihat ponselnya, berharap ada pesan dari sang istri.


Namun nyatanya nihil, hanya pesan dari Robert disana.


"Hari ini aku izin sebentar tuan, ada kerjaan yang harus aku urus"


Begitulah pesan singkat itu. Arsen mengerutkan dahinya, karena bingung tak biasanya Robert meminta izin padanya.


Bersikap bodoh amat, akhirnya Arsen menuju lemari pakaian. Ia juga tak akan datang kekantor hari ini karena ingin menyelesaikan urusan rumah tangganya dengan Rena.


"Semoga pagi ini kamu sudah memaafkan aku sayang" gumam Arsen penuh harap.


Usai berpakaian, ia langsung keluar kamar.


"Dimana kakek Bi ?" tanyanya pada seorang art yang sedang membersihkan meja makan.


"Tuan Raymond sudah pergi sejak pagi tadi tuan"


"Kemana ?"


"Kami tidak tau"


Anehhhh.


Hanya itu yang ada di pikiran Arsen, tapi ia tak banyak bertanya. Karena ia ingin segera tiba di rumah Rena lalu memeluk wanita itu dengan erat.


Baru saja semalam ia tak bersama sang istri, rasa rindunnya sudah menggebu. Entah apa jadinya jika sampai lama.


Arsen memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga beberapa saat kemudian ia tiba di kediaman Rena.


"Kok masih tutup pintunya, apa Rena belum bangun ya" gumam Arsen penuh tanda tanya.


Arsen mengetok pintu itu secara berulang, memanggil nama sang istri juga nama Elvan. Namun sama sekali tak ada jawabannya.


"Suaminya Rena ya" tanya bu Tanti mendekat.


Arsen menoleh "Iya bu, Renanya mana ya ? kan semalam menginap di rumah ini"


"Loh tadikan udah pergi, saya kira Mas nya yang jemput"


"Pergi ?" tanya Arsen dan di angguki oleh Bu Tanti. "Kemana ya bu ?"


"Gak tau mas, orang ketemu di jalan kok"


Astaga...


Arsen panik, kemana sang istri pergi ? kenapa tak berpamitan dengannya ?


"Apa Rena pulang kerumah ya ? mending aku cek kesana saja lah"


Tanpa berpamitan pada bu Tanti, Arsen langsung pergi lagi. Kali ini tujuannya adalah rumahnya sendiri, ia berharap dapat menemukan sang istri disana.


Diperjalanan pikiran Arsen tak karuan, mengkhawatirkan sang istri yang entah kemana perginya.


"Semoga kamu memang pulang kerumah sayang"


Beberapa saat kemudian, Arsen tiba di rumah. Ia langsung berlari memasuki rumahnya.


"Rena sayang" panggil Arsen, akan tetapi yang muncul bukan Rena melainkan Talia.


"Kamu kemana saja Arsen, kenapa semalam tidak pulang"


"Lepaskan !"


Mata Arsen menatap sekeliling, mencari sosok yang begitu ia harapkan.


"Kamu cari siapa sih ?"


"Istriku"


"Dia tidak ada disini"


"Jangan bohong"


"Tanya aja sama Bibi kalau gak percaya"


Arsen menuju dapur, untuk mencari Marni dan Leni.


"Bi apa Rena pulang kesini ?" tanya Arsen.


"Tidak tuan, nyonya tidak pernah pulang sejak ia pergi kemaren"


"Astaga" Arsen mengusap wajahnya dengan gusar "Kemana kamu sayang ?"


Arsen terduduk di kursi dengan lesu, air matanya menggenang di pelupuk matanya. Laki-laki itu menelungkupan wajahnya pada lengan yang ia jadikan tumpuan.


"Kenapa kamu pergi, tanpa pamit sayang"


...-------...


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...