Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 45



Seminggu sudah Willi meninggalkan Talia. Dan hari ini Talia mendapatkan kabar kalau laki-laki itu akan pulang ke Indonesia. Dengan antusias Talia menjemput Willi, kerinduan di hatinya begitu besar.


"Ah rasanya sudah tak sabar bermain malam ini, akan aku berikan servis terbaikku untuknya" gumamnya pelan, sembari fokus menatap jalanan yang begitu padat..


Setelah melewati jalanan yang padat akhirnya Talia tiba di Bandara. Wanita itu masih harus menunggu karena pesawat yang di tumpangi oleh Willi belum tiba, dan menurut pengetahuannya pesawat akan tiba 15 menit lagi.


Talia tak turun dari mobil, wanita itu tetap menunggu disana sembari mendengarkan sebuah lagu kesukaannya. Hatinya sedang berbunga-bunga sekarang jadi tentu saja lagu yang ia dengarkan juga lagu kebahagiaan.


"La-la-la-la" Talia mengikuti lagu yang ia dengarkan.


Tak berapa lama pesawat yang di tumpangi Willi mendarat dengan sempurna. Talia segera mematikan musik kemudian turun dari mobil.


Ia menatap kearah lapangan dimana semua penumpang sudah turun dari pesawat. Mata Talia menyapu sekeliling untuk mencari dimana keberadaan Willi.


Senyumnya langsung mengembang saat melihat Willi tengah berjalan kearah parkiran. Talia melambaikan tanganya dan di balas oleh Willi. Rasanya sudah tak sabar untuk memeluk laki-laki itu dengan erat.


Namun hal tak terduga terjadi, sebuah mobil berkecapatan tinggi menghantam tubuh Willi. Hingga membuat laki-laki itu terpental dengan kuat. Talia bahkan memejamkan matanya saat melihat semua itu.


"Pamaaaaaaaaann" teriak Talia, ia berlari menuju dimana Willi sudah terkapar tak berdaya di jalanan.


Semua orang langsung berkumpul, sementara yang menabrak Willi sudah melaju dengan kencang sepertinya kecelakaan itu di sengaja.


"Paman bangun !! jangan tinggalin aku paman" suara Talia terdengar bergetar, air matanya mengalir dengan deras membasahi pipinya.


"Panggil ambulance" tiba-tiba seseorang berteriak.


Beberapa saat kemudian mobil ambulance datang, beberapa orang membantu mengangkat tubuh Willi sementara Talia menuju mobilnya. Ia akan mengikuti mobil ambulance dari belakang.


Saat menjalankan mobilnya tubuh Talia bergetar hebat, ia masih syok dengan apa yang barusan ia lihat. Willi tertabrak mobil dan tubuhnya terpental.


Air mata Talia kembali menetes dengan deras.


"Paman harus baik-baik saja"


"Aku tidak mau kehilangan Paman"


Mobil ambulance berhenti tepat di depan rumah sakit ternama, begitupun dengan mobil yang dibawa Talia.


Beberapa orang perawat membantu mengangkat tubuh Willi lalu membawanya ke IGD. Talia menunggu didepan ruangan itu, detak jantungnya berpacu dengan kuat.


"Paman, hiks-hiks-hiks".


"Semoga paman baik-baik saja"


Setelah lama menunggu sang dokter keluar, laki-laki berjas putih itu tampak menghela napas panjang, membuat Talia begitu penasaran tentang apa yang terjadi.


"Bagaimana keadaan paman saya dok ? dia baik-baik sajakan ?" tanya Talia beruntun.


"Maafkan kami nona, paman anda tidak bisa kami selamatkan. Ia meninggal dalam perjalanan"


"Tidak, ini tidak mungkin" Talia memundurkan langkahnya, ia terkejut mendengar apa yang barusan dokter katakan.


"Anda harus sabar nona"


Talia menggelengkan kepalanya, ia masih saja tak percaya akan semua itu.


"Silahkan kalau anda mau melihat paman anda untuk yang terakhir kalinya" setelah mengatakan itu sang dokter meninggalkan Talia yang masih berurai air mata.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah mendengar kabar tentang kecelakaan Willi, kakek Raymond langsung meluncur kerumah sakit. Walau bagaimanapun Willi adalah anaknya walau kelakuan Willi selalu membuatnya pusing.


Sebelum kerumah sakit tak lupa kakek Raymond mengabari Arsen. Sejahat apapun Willi dia akan tetap menjadi keluarga Raymond.


"Hiks-hiks-hiks"


Samar-samar kakek Raymond mendengar suara tangisan seseorang. Dengan cepat laki-laki itu membuka pintu ruangan hingga ia melihat Talia sedang menangis didada Willi.


"Paman. Kenapa paman meninggalkan aku"


Kakek Raymond mendekat "Talia" panggilnya


Talia mengangkat kepalanya "Kakek" balas Talia dan langsung memeluk pria paruh baya itu.


"Kenapa ini bisa di terjadi ?"


"Talia juga tidak tahu kek, tadi saat di bandara dan paman sedang berjalan kearah ku tiba-tiba ada mobil dengan kecepatan tinggi dan langsung menabrak Paman"


Kakek Raymond melepaskan pelukan Talia, ia berjalan mendekati Willi yang sudah tak bedaya sekarang. Wajahnya yang pucat menjadi ciri khas Willi sekarang.


"Semoga tenang disana nak, Ayah sudah memaafkan semua kesalahanmu" batin Kakek Raymond.


Air mata kakek Raymond sudah menggenang di pelupuk matanya, ia tak tahan melihat putra bungsunya seperti ini.


Tidak berapa lama Arsen, Rena dan Robert tiba.


"Apa yang terjadi kek, kenapa paman bisa seperti ini ?" tanya Arsen yang berdiri di samping sang kakek.


"Kau tanya sama Talia, dia yang melihat semuanya"


Talia menceritakan kejadian sebenarnya, membuat Arsen dan Robert saling melirik, mereka yakin kalau kecelakaan yang menimpah Willi adalah di sengaja.


"Kau cek CCTV di bandara, dan tangkap pelakunya" pinta Arsen pada Robert.


"Baik Tuan, akan saya lakukan"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Suasana rumah kakek Raymond sangat ramai, para tetangga datang untuk melihat dan membantu proses pemakaman Willi. Walau banyak yang tak mengenal siapa Willi tapi mereka tetap membantu, karena mengingat kebaikan kakek Raymond selama ini.


Rena duduk disamping sang suami. Guratan kesedihan dapat ia tangkap di wajah pria tampan itu. Beruntung Elvan mau di tiitpkan sehingga ia bisa menemani Arsen sampai acara pemakaman selesai.


"Mas yang sabar ya ! semua ini adalah takdir Allah" bisik Rena dengan suara lembut.


"Iya sayang, Mas hanya tidak menyangka kalau paman akan mengalami hal ini. Bagaimana sikapnya padaku dia tetaplah paman ku" balas Arsen kemudian.


Pemakaman Willi langsung di laksanakan hari itu juga, Arsen sendiri yang mengusung keranda dan membawanya ke pemakaman. Sementara Rena berjalan berdampingan dengan Talia. Sejak tadi Talia terus menangis sepertinya wanita itu begitu terpukul karena kepergian Willi.


"Sabar ya mbak Talia" ucap Rena, ia hendak menggenggam tangan Talia tapi dengan kasar wanita itu menepis tangan Talia.


"Jangan sentuh saya, dan gak usah sok peduli" balas Talia sembari menatap Rena dengan sengit.


Rena menggeleng ternyata walau dalam keadaan sedih seperti ini sikap Talia masih sama saja.


Di sebuah pemakaman Arsen kembali terjun langsung untuk menguburkan pamannya. Bahkan laki-laki itu yang mengumandangkan adzan.


"Semoga tenang dialam sana paman, dan titip salam untuk Ayahku" batin Arsen kemudian naik keatas karena orang-orang akan menimbun makam Willi.


Arsen berdiri disamping istrinya, ia mengambil alih sebuah payung yang di pegang sang istri.


"Kenapa Mas ?" tanya Rena heran.


"Biar aku saja yang pegang, kamu pasti capek"


Talia yang mendengar semua itu langsung kesal "Sampai sekarang aku masih melihat dimana cocoknya wanita ini untuk Arsen ?". batin Talia