Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 40



Arsen terus memberikan tatapan tajam pada sang istri.


"Bukan laki-laki selingkuhan maksudnya Mas, tapi idola. Kaya artis gitu" jelas Rena dengan lembut.


"Idola nya cowok apa cewek ?" Arsen balik bertanya.


"Cowok lah Mas, itu loh yang sering tampil di televisi"


Braaaaaggggggggg.


Arsen langsung menggebrak meja membuat Kakek Raymond yang sedang menikmati makan malamnya seketika berhenti. Pria paruh baya itu langsung menatap Arsen dengan tajam.


"Ada apa Arsen ? kau ini mengganggu makan malam kakek saja" omel kakek Raymond.


Arsen hanya diam saja, ia justru berdirin dan meninggalkan meja makan. Bahkan makanan nya belum pun di sentuh sedikitpun.


"Aku nyusulin Mas Arsen dulu ya kek" ucap Rena tak enak hati karena kelakuan sang suami.


Kakek Raymond menganggukan kepalanya, ia terkekeh dalam hati melihat kelakuan Arsen yang cemburu.


"*Cih, ternyata begitu kalau sedang cemburu"


"Benar-benar menggemaskan*"


Suara hati kakek Raymond menertawakan Arsen. Ia pun kembali menikmati makan malamnya, karena sehabis ini ia ingin bermain bersama Elvan lagi.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Didalam kamar Arsen berdiri di balkon kamar, sembari menatap langit malam yang begitu gelap. Nampaknya sama seperti dirinya yang sedang di landa api cemburu.


Arsen menghela napas panjang, hingga sebuah tangan melingkar di perutnya. Sontak Arsen kaget namun ia tau kalau itu ulah sang istri.


"Suamiku" rayu Rena


"Apa" jawab Arsen dengan nada dingin.


"Kamu marah ya ?"


Arsen menoleh setelah melepaskan kedua tangan sang istri "Harusnya kau jangan tanya lagi tentang hal itu. Sudah pasti aku marah karena kamu mengidolakan orang lain" jelas Arsen


Rena tersenyum, baginya kecemburuan Arsen begitu menggelikan. Bisa-bisanya laki-laki itu cemburu pada seorang yang tidak kenal sama Rena.


"Tuh kan kamu mala ketawa, udah ah sana tinggalin aku sendiri" layaknya seorang anak kecil yang sedang merajuk begitulah kelakuan Arsen sekarang.


Untuk kali ini Rena tak kuasa menahan tawanya, ia tertawa terbahak-bahak bahkan Rena memegangi perutnya akibat terlalu lucu dengan kelakuan sang suami.


"Astaghfirullah ya Allah" Rena berucap saat tawanya sudah melampaui batas.


"Ya Allah sakit perutku mas. Kamu sih lucu banget cemburu kok sama orang yang gak kenal sama aku"


Kening Arsen mengernyit "Maksudnya ?"


"Iya diakan gak kenal sama aku, cuman aku aja yang tau dengan dia"


"Itu sama saja" balas Arsen


"Tentu berbeda Mas. Kecuali kita sama-sama kenal" Rena masih tak mau mengalah "eh tapi kalau nanti ketemu aku mau kenalan sama dia, mau minta foto juga nanti kamu ya yang motoin aku" bahkan sekarang Rena sengaja memanasi Arsen lagi.


"Liburannya batal" ujar Arsen cepat. Napasnya naik turun karena menahan amarah yang memuncak.


Arsen meninggalkan sang istri di balkon kamar, ia menuju ranjang kemudian membaringkan tubuhnya disana.


Melihat kelakuan sang suami Rena hanya menggelengkan kepalanya, saat ini ia masih berdiri di balkon, wajahnya mendongak menatap langit malam.


Rasa syukur ia panjatkan pada sang pemilik kehidupan. Karena memberikan dirinya dan Elvan di berikan kebahagiaan seperti ini.


Puas berada disana, Rena masuk kedalam kamar tak lupa mengunci pintu balkon lalu menyusul sang suami.


Ia menyelimuti kaki Arsen, akan tetapi laki-laki itu kembali melepaskannya. Ternyata mode merajuknya masih On.


"Ya sudah kalau gak mau selimutan, aku tinggal tidur dikamar Elvan" ancam Rena.


"Berani kau melakukan itu, jangan salahkan aku kalau besok kau aku bawa minggat" balas Arsen.


"Ya makanya udah dong marahnya. Masa cuman gara-gara itu saja mas sudah merajuk"


Arsen membalikan tubuhnya, berhadapan dengan Rena. "Pokoknya kamu harus melupakan idola kamu itu, hanya aku yang boleh kamu idolakan. Gantengan juga aku"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Keesokan paginya setelah sampai di kantor, Arsen langsung memanggil Robert untuk keruangannya.


"Ada apa Tuan ?" tanya Robert.


"Liburan ke korea aku batalkan, dan kau carikan lagi tempat yang romantis" jawab Arsen.


"Memangnya kenapa Tuan ?"


"Kau tau Robert disana ada idolanya Rena" jelas Arsen dengan kesal "Ciiihh.. Bisa-bisanya dia mengidolakan orang lain selain aku"


"Dasar Bucin" batin Robert.


"Lalu mau kemana tuan liburan ?"


"Ya kau carilah, masa harus nanya sama aku"


Astaga...


Ingin sekali Robert mencekik leher Arsen sekarang, laki-laki itu tak tau saja bagaimana susahnya Robert mencari tempat untuk liburan yang romantis. Dan sekarang seenaknya saja Arsen membatalkan semua ini.


"Sudah sana kau keruangan, dan hari ini kau harus mendapatkan rekomundasi dimana tempat liburan yang bagus. Karena lusa aku mau berangkat"


Walau berat Robert tetap mengiyakan, ia tak ingin di marah-marah oleh Arsen.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sementara itu di rumah Willi, laki-laki itu sedang mengemasi barang-barangnya dan itu semua membuat Talia heran.


"Paman mau kemana ?" tanya Talia heran.


"Aku mau keluar negeri sebentar, ada urusan disana. Kau jaga rumah ini dengan baik" balas Willi yang terus mengemasi barang-barangnya.


Talia mendudukan diri di atas ranjang, wajahnya di tekuk karena akan di tinggalkan oleh Willi. Karena jika Willi pergi siapa yang akan menemaninya dan siapa yang akan memuaskan hasratnya.


"Kamu kenapa sayang" tanya Willi kemudian.


"Aku sedih karena mau di tinggal oleh paman" jawab Talia.


Willi duduk disamping Talia, ia mengelus rambut Talia dengan lembut "Sedih karena mau di tinggal atau sedih karena gak bisa main ?" candanya.


"Dua-duanya, nanti kalau aku pengen bagaimana ?"


"Hahahaha" Willi tertawa "Tenang sayang aku pergi cuman seminggu, dan sebelum aku pergi kita akan bermain dulu sampai puas"


"Memangnya jam berapa paman berangkat ?"


"Jam 02 nanti siang. Jadi sekarang aku boleh bermain di atas tubuhmu ?"


Mendengar hal itu Talia langsung tersenyum puas. Ia langsung tidur telentang sehingga dress mini yang ia pakai menampakan pa ha mulusnya.


"Kau menantangku ternyata" ucap Willi, jari-jemarinya mengelus pa ha mulus Talia.


"Emmmmmmmm" Talia menggeliat saat tubuhnya menegang. Sentuhan Willi selalu membuat dirinya terbang keatas awan.


"Awwwwwww" Talia mere mas seprai dengan kuat, saat li dah Willi bermain di organ kewanitaannya.


Aaahhhh. Rasanya sangat nikmat dan membuat Talia menggeliat kekiri dan kekanan. Ingin berhenti tapi semua itu bikin nagih.


"Sa--yang, teruskan" gumam Talia dengan suara paraunya.


Mendengar hal itu Willi semakin bersemangat menjelajah di setiap inci tubuh Talia. Bahkan tak satupun bagian yang ia lewatkan. Tanda merah banyak ia tinggalkan.


Keduanya sudah sama-sama polos. Willi bersiap memasukan benda tumpul miliknya.


"Paman pakai dulu pengamannya, kemaren kan tidak pakai pengaman, aku takut hamil" pintah Talia.


"Tapi aku sudah enak tak pakai pengaman Talia, sudahlah kita nikmati saja, aku yakin kamu tidak akan hamil" balas Willi.


------


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...